Sedang Membaca
Belajar dari Kasusnya Pandji Pragiwaksono dan FPI: Mengapa Kita Penting Belajar Filsafat
Penulis Kolom

Seorang mahasiswa yang sedang menempuh S1 di UINSA Surabaya Prodi Akidah dan Filsafat Islam.

Belajar dari Kasusnya Pandji Pragiwaksono dan FPI: Mengapa Kita Penting Belajar Filsafat

Pandji

Sekali lagi, jagad maya kembali digemparkan dengan fenomena huru-hara disinformasi yang beredar. Belum lama kemarin heboh dengan hoax vaksin Covid-19. Eh, sekarang digemparkan lagi oleh pernyataan influencer yang sekaligus artis-komika, yakni Pandji Pragiwaksono, yang menyebut bahwa, dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dicapnya sebagai organisasi elitis yang jauh dengan masyarakat.

Ditambah menurut Pandji, organisasi masyarakat seperti FPI dinilainya lebih merepresentasikan elemen masyarakat sehingga membuat kedekatan kepada masyarakat itu terjadi. Makanya jumlah anggota masyarakat yang masuk dan bergabung ke dalam FPI banyak jumlahnya. Padahal status operasional dari ormas tersebut sekarang sudah di cabut sehingga menjadi salah satu organisasi yang terlarang.

Tak sedikit cacian serta serangan dari para netijen di medsos ditujukan kepada Pandji. Usut punya usut, ternyata klaimnya yang membuat heboh jagad maya, khususnya twitter itu bersumber dari pengutipannya kepada statement pakar sosiolog bernama Thamrin Tomagola. Sedangkan, setelah di telusuri ke sumbernya langsung, malahan Pak Thamrin tidak merasa pernah berstatement seperti itu.

Namun, Pak Thamrin juga menjelaskan bahwa dia pernah berkata mirip dengan itu, yang itu adalah hasil penelitian dari surveynya. Akan tetapi, konteksnya tidak general, melainkan hanya pada ruang lingkup area Jakarta saja. Sedangkan Panji dalam pernyataannnya tidak menyebutkan kekhususkan itu, sehingga memantik pemahaman netijen kalau dia berkata demikian bersifat general atau umum.

Kalau melihat dari kasus tersebut, tentu bisa ditarik kesimpulan pokok dari permasalahannya adalah pada kesalahan pengutipan, ketidak komprehensifan Panji menyimak atau membaca sumber menjadi buah petaka bagi dirinya sendiri.

Baca juga:  Sinyal Kuota Kemendikbud (3): Sudah Tepatkah Bantuan Kuota untuk Dosen dan Mahasiswa?

Memang dari tahun ke tahun pasti ada saja kasus semacam ini. Tidak usah jauh-jauh, di sekeling kita banyak dari mereka yang ketika mendapat broadcast informasi baik melalui electronik maupun langsung lewat warta suara tanpa mau mempertanyakan ulang status kebenarannya. Mereka hanya mau praktisnya saja, sekali mendengar langsung buru-buru percaya dan dengan bodohnya, informasi yang tidak jelas kebenarannya itu pun dibagikan ke teman atau sanak keluarga lain, yang biasanya dikirim ke WA groupnya masing-masing.

Naas, tradisi masyarakat Indonesia dalam bidang literasi dan nalar kritisnya dari masa ke masa nampaknya belum mengalami kenaikan yang signifikan, malah justru terkesan menurun setiap tahunnya. Di mana letak permasalahannya? Dan apa kira-kira solusinya?

Mari pelan-pelan kita bahas. Mencermati data-data dari internet tentang besar dan potensi SDM (Sumber Daya Masyarakat) di Indonesia memang masih terlampau rendah. Dilansir dari Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada Selasa (3/12) di Paris, menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas pengajar, sistem pendidikan, dan kualitas lembaga pendidikan.

Memang masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi dalam ruang lingkup pendidikan di Indonesia. Namun menurut saya, ada satu lini yang harus dicermati betul dan menjadi sorotan untuk didahulukan daripada lini-lini yang lain. Apa itu? Yakni metodologi pembelajaran, atau bisa juga disederhanakan menjadi implementasi pola pembelajaran.

Baca juga:  Berhijrah Menuju Nahdlatul Ulama

Maksud saya, sudah sekian tahun model pembelajaran di Indonesia hanya melulu sifatnya satu pintu; guru menerangkan, mengisi, bahkan mencekoki ke dalam wadah-wadah pemikiran murid. Tanpa memberikan space kepada murid untuk memilih kemauannya sendiri. Sudah sangat jarang sekali model pembelajaran yang melatih murid untuk mempertanyakan sesuatu, mengapa bisa begini? mengapa bisa begitu? Atau mungkin pertanyan yang sangat substansif, apakah benar seperti itu?

Mulai dari level bangku sekolah dasar, dan menengah saja, di mayoritas lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, secara praksisnya selalu saja memaksa murid untuk pasif. Murid hanya sebagai reseptor pengetahuan. Jadi tidak heran, nalar kritis masyarakat Indonesia sudah masuk dalam kategori memperihatinkan. Akibatnya adalah, masyarakatnya jadi mudah terserang berita hoax dan selalu gampang percaya terhadap sesuatu.

Sudah saatnya masalah itu diatasi, dengan membiasakan menerapkan pola berfikir yang sistematis, selalu skeptis (ragu) dengan kebenaran, dan selalu ingin mencari tahu sumber rujuan dari sebuah kebenaran.

Mungkin itu sedikit gambaran dari metodologi dalam berfilsafat. Nyatanya apabila seseorang mempelajari dan mengimplementasikan materi-materi dalam filsafat membuat seseorang itu menjadi jauh lebih cerdas, kritis, serta tidak gampang terjebak dalam kesalahan pemahaman, pemikiran atau bahkan pengetahuan. Karena memang mereka sudah dilatih sedemikian rupa untuk mempertanyakan dahulu sumber-sumber yang menjadi rujukan berita-berita yang didapat.

Sebagai contoh dalam diri filsafat ada diskursus lagi bernama Filsafat Ilmu. Di mana dalam diskursus tersebut mempelajari tentang epistemologi ilmu (dasar-dasar ilmu), ontologi ilmu (hakekat ilmu), dan aksiologi ilmu (kegunaan ilmu).

Baca juga:  Pesantren, Bahasa Indonesia, dan Gus Dur

Kalau ditarik pada era sekarang, sebagaimana meminjam teorinya Fazlur Rahman double movement, di mana era ini sudah masuk dalam era post truth, kebenaran di era ini tergantung pada opini seseorang yang paling berpengaruh atau paling berkepentingan.

Bukan hanya itu, hoax semakin menyuburkan polarisasi masyarakat karena meneguhkan keyakinan atau ideologi masing-masing kelompok. Setiap kelompok cenderung menolak bentuk penalaran berbeda, meski masuk akal atau objektif. Dan puncaknya, di era ini kebohongan semakin menyuburkan ideologi.

Lantaran menjamurnya permasalahan yang terjadi, menurut saya tentu jika mempelajari filsafat di era ini akan sangat efisien dan relevan sekali sebagai obat untuk memberantas penyakit-penyakit tersebut, atau kalau boleh disingkat dalam satu buah penyakit bernama “taqlid buta pada kebenaran berita informasi”.

Maka dari itu, sudah saatnya momentum tahun 2021 ini pola pembelajaran kita harus berhijrah. Bukan hanya berlatih mengulangi, menghafal dan memahami apa yg dipelajari, tapi juga harus membiasakan untuk mempertanyakan kebenaran suatu pernyataan. Sehingga, jika hal itu di implementasikan mulai dari sekarang, niscaya nantinya akan meningkatkan kualitas SDM masyarakat Indonesia, dan bukan hal yang mustahil, di masa depan nanti Negara Indonesia akan menjadi negara maju, baik secara ekonomi, pendidikan, infrastukrur ataupun teknologi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top