Penulis Kolom

Peserta Kelas Literasi Badan Ekskutif Mahasantri (BEMs) Mahad Aly Nurul Jadid. Saat ini mondok di Mahad Aly Nurul Jadid.

Cara Mudah Membuat Lagu dan Syair Arab, Belajar dari Kitab Al-Mizan Al-Shafi Karya Kiai Romzi

Cara Mudah Membuat Lagu dan Syair Arab, Belajar dari Kitab Al-Mizan Al-Shafi Karya Kiai Romzi

Bahasa arab adalah salah satu bahasa yang paling penting dikalangan umat islam, dikarenakan bahasa ini merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an. Oleh karena itu, untuk bisa memahami al-Qur’an harus mempelajari dan memahami gramatika bahasa arab.

Di antara gramatika tersebut adalah ilmu arudh. Bila kita belajar ilmu ini, kita tidak asing dengan ilmu qowafi. Ilmu qowafi bisa dikatakan ‘pasangan’ bagi ilmu arudh. Karena kedua cabang ilmu ini biasanya selalu diterangkan dalam satu kitab.

Ilmu arudh adalah ilmu yang berisi tentang kaidah-kaidah tentang shahih dan rusaknya sebuah syair dalam bahasa arab. Sedangkan ilmu qowafi adalah ilmu yang membahas tentang apa yang ada di akhir syair arab. Baik dari segi harakat, sukun, lazim, boleh, fasih dan buruknya.

Untuk memahami kedua fan ilmu ini, tentunya kita memerlukan kitab sistematik dan menggunakan bahasa yang mudah sehingga orang bisa memahaminya dengan mudah. Di antara kitab yang biasa dikaji di pondok pesantren adalah kitab Mukhtasor Asy-Syafi karya Syekh Muhammad Ad-Damanhuri.

Kajian ilmu ini tidak sepopuler dengan ilmu fikih. Memang pada dasarnya ilmu arudh hanya sebagai ilmu penopang ilmu yang sangat mendesak sekali untuk menjawab problematika masyarakat, di antaranya adalah ilmu fikih.

Meskipun begitu, ada saja ulama Indonesia atau kiai kita yang dikenal sangat ‘alim dan mahir sekali menggubah syair. Di antaranya adalah Alm. Dr. K.H. Moh. Romzi Al-Amiri Mannnan. Beliau merupakan sosok kiai yang pernah menjabat sebagai Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid dan sosok menantu Kiai Hasan Abdul Wafi.

Baca juga:  Semangat Literasi KHR. Asnawi dalam Kitab Fasholatan

Di antara kisaran sempat puluhan karyanya, tak kurang dari separuh karya Kiai Romzi berbentuk nadzam. Bahkan tak jarang Kiai Romzi sendiri juga menjadi syarih (penjelas) syair-syair-syair yang ia karang dalam banyak disiplin ilmu itu.

Sehingga tak heran, bila Kiai Romzi juga mengarang sebuah kitab berisi panduan membuat syair atau nazham dalam bahasa arab. Kitab tersebut adalah kitab Mizan al-Shafi.

Kitab yang berisi 182 halaman ini disusun oleh Kiai Romzi dengan sistematis dan menggunakan bahasa yang mudah difahami. Selain itu, Kiai Romzi juga mencantumkan metode taqthi’ yang sangat jarang sekali ada dalam kitab-kitab ilmu ‘arudh karangan ulama salaf.

Metode taqthi’ adalah memotong-motong bait syair memjadi beberapa bagian (juz), sesuai dengan tuntutan taf’ilah dalam wazan syair baik huruf-hurufnya maupun vocal dan konsonannya (harkat dan sakanah/harkat sukun).

Semisal di halaman 89, Kiai Romzi menerangkan bahwa dalam bahar rajaz mempunyai wazan مُسْتَفْعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ * مُسْتَفْعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ   kemudian mauzunnya harus mengikuti wazan dari segi huruf, vokal dan konsonannya. Contohnya :

أَوْرَثَنِي الْمَجْدَ أَبٌ مِنْ بَعْدِ أَبْ * رُمْحِي رَدِيْنِيٌّ وَسَيْفِي الْمُسْتَلَبْ

Kemudian ditaqthi’ menjadi,

فِلْمُسْتَلَبْنِيْيُنْ وَسَيْرُمْحِي رَدِيْمِنْ بَعْدِ أَبْمَجْدَ أَبُنْأَوْرَثَنِلْ
مُسْتَفْعِلُنْمُسْتَفْعِلُنْمُسْتَفْعِلُنْمُسْتَفْعِلُنْمُسْتَفْعِلُنْمُسْتَفْعِلُنْ
Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (59): Shahihul Bukhari

 

Dari contoh yang ada kita bisa ketahui bahwasanya cara membuat nadzom itu adalah dengan cara menyesuaikan bait syair dengan wazan pada masing-masing bahar.

Dalam kitab ini membahas tuntas tentang bahar yang jumlahnya 16 bahar. Bahar  yakni wazan tertentu yang dijadikan pola dalam menggubah syair arab. Mulai dari bahar thawil, rajaz sampai mutadarik.

Sebelum membahas isinya, kitab ini didahului oleh kata pengantar dari Mbah Maimoen Zubair. Sosok guru yang sangat berpengaruh pada perjalanan intelektual Kia Romzi. Kemudian dilanjut dengan kata pengantar dari K.H. Moh. Zuhri Zaini, pengasuh PP. Nurul Jadid.

Ketika menjelaskan materi, Kiai Romzi pada mulanya menulis beberapa bait lalu dijelaskan melalui narasi dalam bahasa arab. Setelah keterangan beserta contoh yang agak panjang, uniknya Kiai Romzi menulis lagi kesimpulan materi yang telah diterangkan secara ringkas.

Diakhir kitab, sebelum daftar pustaka (daftar rujukan), kitab ini terdapat kumpulan nadzam yang dijadikan menjadi satu. Sehingga ketika kita hendak membaca keseluruhan nadzam dalam kitab ini cukup baca di bagian belakang saja. Yang mana nadzam ini berjumlah sebanyak 272 bait

Mempelajari ilmu ini tentunya sangat penting sekali. Selain mengantarkan kita kepada pengetahuan bahwasanya al-Qur’an dan al-hadist bukanlah termasuk sya’ir, juga hal ini dapat menjadi metode untuk memudahkan meringkas ilmu yang kita peroleh dalam bentuk syair. Sehingga kita dan orang lain pun mudah untuk menghafalnya.

Baca juga:  Resensi Buku: Catatan Mbak Admin

Sekian. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top