Sedang Membaca
Islam Agraris: Tentang Teologi Para Petani

Guru Sejarah. Alumnus Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Surabaya. Saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Islam Agraris: Tentang Teologi Para Petani

Balele

Agraris dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pertanian atau tanah pertanian, yang secara geografis identik dengan desa. Egon E Bergel dalam  Sosiologi Perdesaan: Pengantar untuk Memahami Masyarakat Desa, mendefinisikan desa sebagai setiap pemukiman para petani, kemudian Paul Landis secara analisis ekonomik, menjelaskan desa sebagai suatu lingkungan yang pendapatan penduduknya bergantung pada pertanian.

Dan karakteristik desa menurut Sorokin dan Zimmerman, merupakan daerah yang masyarakatnya berfokus pada pertanian serta usaha kolektif sebagai ciri ekonomi. Selanjutnya, tentang bentuk masyarakat desa telah diuraikan dengan detail oleh JH Boeke dalam bukunya The Interest Of The Voiceless Far East, Introduction to Oriental Economics, yang digambarkan bahwa bentuk masyarakat desa diantaranya; pertama,  keluarga adalah unit swasembada secara ekonomis, sehingga masyarakat desa hakekatnya bukan unit ekonomi, melainkan unit sosial dengan basis keluarga merupakan unit terkecil dan terpenting.

Kedua, masyarakat desa merupakan pengelompokan kecil-kecil yang menyebabkan orang-orang desa saling mengenal serta akrab satu dengan lainnya. Maka berdasarkan hubungan personal inilah, tradisi yang ada dapat terus lestari. Ketiga, setiap orang merasa menjadi bagian dari keseluruhan, sekaligus menerima tradisi dan moral kelompok sebagai pedomannya, hal ini membuat tingkat kolektivitas sangat tinggi, dan individualisme otomatis tidak bisa diterima.

Sehingga dalam konteks artikel ini, berdasarkan pada definisi serta penjelasan para pakar, bisa dirumuskan secara singkat bahwa desa adalah agraris dan semesta masyarakatnya tampak selalu terkait dengan dunia agraris, yang dalam hal ini, turut mempengaruhi bentuk kebudayaan, ikatan sosial, hingga cara berislam.

Selanjutnya berkaitan dengan Islam Agraris sendiri, mengacu pada paradigma Islam Agraris yang tercantum dalam artikel Islam Agraris: dari Cara Bertuhan hingga Lelaku Kehidupan, yang bentuk paradigmanya memberikan sudut pandang baru yang lebih spesifik sekaligus kontekstual terkait kontruksi keberislaman yang terbangun pada masyarakat Jawa agraris.

Baca juga:  Pelajaran dari Penguin of Madagascar

Kemudian Islam Agraris juga merupakan suatu paradigma keagamaan yang mempunyai relasi erat dengan tafsiran Islam Nusantara, yang menurut KH Said Aqil Siroj dalam  Filosofi Islam Nusantara : Perspektif Syed Muhammad Naquib Al Attas, dituturkan bahwa Islam Nusantara tak hanya mencakup ruang geografis, tapi juga konsep filosofis yang membentuk nilai,cara pandang, pola pikir, dalam melihat tatanan budaya serta antropologis. Dan dalam hal ini, Islam Agraris merupakan tafsiran panjang dari Islam Nusantara.

Wujud Teologi Para Petani

Dalam ranah definisi, teologi mempunyai banyak pengertian, sebagaimana terjelaskan dalam Teologi, Hukum Islam, dan Tren Modernitas, yang diantara penjelasannya disampaikan oleh Virgilius Vern yang mengatakan bahwa teologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theos berarti Tuhan, dan logos berarti ilmu, yang secara ringkasnya bisa dipahami bahwa teologi merupakan studi tentang Tuhan beserta keterkaitannya dengan realitas dunia ini. S.G.F. Brandon turut berpendapat  bahwa teologi sebagai discource about God, sebagai bentuk pendiskusian tentang Tuhan, yang secara luas juga menyinggung institusi keagamaan, lalu Lewis Johnsons ikut menambahkan, teologi adalah diskusi tentang Tuhan atau konsepsi manusia tentang Tuhan, dan diskusi rasional tentang Tuhan.

Berdasarkan pada definisi tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa pembahasan tentang teologi akan selalu bersangkut paut dengan eksistensi Tuhan, pengamalan keagamaan, beserta semua dimensi yang dinamis, baik itu berwujud alam materi maupun rohani. Dan Islam Agraris merupakan wujud teologi para petani, yang manifestasinya berhubungan erat dengan desa, pertanian, kebudayaan, serta aktivitas masyarakat muslim setempat. Kemudian pembahasan tentang Islam Agraris, akan banyak mengacu pada keberislaman masyarakat Dusun Belung, Desa Kawedusan, Kec.Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur.

Selanjutnya, diantara karakteristik teologi keislaman masyarakat Dusun Belung yaitu sikap santai dalam berislam, yang dimaksud santai disini adalah kebahagiaan dalam berislam tanpa harus ada tekanan, sehingga dalam berislam tidak perlu kaku dan lebih mengutamakan sikap luwes, dalam hal ini, penulis mengamati ada warga dusun yang ketika akan mengikuti sholat berjamaah  di masjid, tidak langsung berwudhu melainkan merokok dulu sambil rebahan di serambi masjid.

Baca juga:  Gus Dur, Diana Sastra dan Tarling Remang-remang

Dan terkadang ada seorang kakek yang pakaiannya terlihat lusuh serta kotor, dan warga dusun menganggapnya kurang waras atau tidak normal, namun ikut mengumandangkan adzan, sholawatan sebelum sholat, serta berjamaah di shof terdepan. Dan hal tersebut diperbolehkan oleh takmir masjid serta tidak menjadi problem bagi masyarakat Dusun Belung.

Selain itu, terkait jam sholat asar juga lebih longgar, sehingga adzan asar baru dikumandangkan sekitar pukul 16.00 bahkan 16.30, hal ini dikarenakan, adzan asar di Dusun Belung  mengikuti ritme kerja para petani yang seringkali masih ada di sawah hingga sore hari. Sehingga antara kepentingan ibadah dan kegiatan bekerja diposisikan untuk saling mendukung.

Kemudian masyarakat Dusun Belung dalam pola hidupnya juga selalu mengutamakan kesyukuran, yang hal itu diwujudkan dalam tradisi slametan, dan bentuk slametan tersebut hadir dalam tiap momen penting, seperti pernikahan, kehamilan, kelahiran seorang bayi, proses membangun atap rumah, Idul Fitri, Maulid Nabi, dan masih banyak hal lainnya, yang kesemuanya berhubungan dengan rasa syukur, kebahagiaan, serta penghayatan pada Maha Kuasa.

Selanjutnya, untuk slametan, jika diamati lebih detail maka identik dengan hadirnya makanan, yang komposisinya berisi berbagai macam hasil pertanian, dan dalam banyak hal mengandung filosofi tersendiri pada sayuran maupun umbi-umbian yang dipakai. Lalu sikap guyub termasuk hal yang dilestarikan oleh masyarakat Dusun Belung, sehingga nilai-nilai harmonisasi, kesopanan tata krama, kepedulian pada sesama menjadi hal yang wajib untuk dijaga.

Baca juga:  Tradisi Malam Lailatul Qadr di Ternate: Harmonisasi Raja dan Rakyat

Sehingga dari sikap luwes dalam berislam, lalu tradisi slametan yang penuh kesyukuran, serta keguyuban yang terpelihara, kesemuanya itu menunjukkan ekspresi dari Islam Agraris sekaligus wujud teologi para petani. Dan berdasarkan pada fakta keberislaman dan kebudayaan masyarakat Dusun Belung, maka cara-cara berislam yang bersifat radikal dan ekstremis pasti tertolak serta tidak akan mendapatkan tempat dalam masyarakat.

Kyai dan Masa Depan Teologi Petani

Masyarakat Dusun  Belung, secara intelektual maupun tradisi sangat erat kaitannya dengan dunia santri. Selain karena keberadaan Pondok Pesantren Malangsari di Dusun Belung, banyak pula warga Dusun Belung yang merupakan alumni dari berbagai Pondok Pesantren yang ada di Kediri. Kemudian jika berkaitan dengan dunia santri pastinya akan terhubung dengan ketokohan para kyai, yang dalam banyak hal, kyai selalu menduduki posisi istimewa di tengah masyarakat.

Dalam Kyai dan Perubahan Sosial, Hiroko Horikoshi menjelaskan bahwa patronasi ulama atau kyai di desa sangatlah kuat, dan masyarakat desa mempunyai ketergantungan pada kyai, sehingga dalam berbagai fenomena di desa, kyai menjadi panutan serta sumber solusi. Dan hal tersebut berlaku pula di masyarakat Dusun Belung, hal ini bisa ditemukan pada seorang kyai sepuh yang juga berkedudukan sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di wilayah Dusun Belung, yang secara rutin selalu memimpin majelis dzikir di masjid dusun.

Sekaligus, kyai sepuh tersebut juga berperan dalam memberikan arahan politik saat pemilu. Kemudian para kyai dalam lingkup kultural juga menjadi central dalam tiap agenda tahlilan, slametan hingga struktur keagamaan formal yang berjalan di masjid dusun. Sehingga, posisi kyai dalam masyarakat Dusun Belung sangat penting, sekaligus menjadi pengokoh atas keberlanjutan teologi petani yang khas dengan corak luwesnya, keguyubannya, dan penuh rasa syukur.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top