Sedang Membaca
Peran Seni Islam dalam Melawan Ekstremisme
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Peran Seni Islam dalam Melawan Ekstremisme

Maria Fauzi

Keburukan, sebuah lawan kata dari keindahan tidak ada dasarnya dalam agama Islam. Islam, menyukai keindahan dalam bentuk apapun. Dalam hal ibadah, perangai, tutur kata, bermuamalah, berdakwah, dan seterusnya.

Seni membaca Alquran, seni kaligrafi, keindahan syair, seni arsitektur yang terejawantahkan dalam masjid-masjid besar, madrasah, dalam tradisi Islam tidak sekalipun meninggalkan unsur keindahan, dan tentu saja, sacred (suci).

Ia, indah sekaligus suci, karena selain dianggap sebagai ruang untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang memiliki dimensi sakral, karya seni yang indah juga dianggap sebagai manifestasi dari keindahan Tuhan itu sendiri.

Keindahan, adalah hal penting dalam tradisi agama Islam. Ambil contoh, seni Islam, yang pada awal perkembangannya banyak direpresentasikan oleh seni arsitektur masjid dan kaligrafi. Jauh sebelum disiplin ilmu Fikih terkodifikasi, perdebatan Ilmu Kalam dan seterusnya, di Jerussalem telah berdiri sebuah masjid agung dengan keindahan, dengan nilai seni, yang tak terbantahkan.

Di Tunisia ada masjid Qarawiyyin, di Yaman, dan masjid-masjid lain pada masa awal Islam. Masjid The Dome of The Rock, dibangun hanya beberapa tahun, tepatnya seratus tahun, setelah Islam muncul di jazirah Arab.

Artinya, sebelum ilmu-ilmu agama diperbincangkan, didiskusikan dan diperdebatkan oleh banyak kalangan, keindahan yang diformulasikan melalui seni baik arsitektur, kaligrafi, sebagai wujud keagungan Tuhan, menjadi salah satu parameter penting dalam tradisi Islam yang kerapkali dilupakan.

Keindahan yang di dalamnya mengandung unsur transenden, menjadi hirarki tertinggi dalam tradisi seni Islam. Karena keindahan merupakan representasi Tuhan. Keindahan adalah kebenaran itu sendiri, truth is always related to beauty.

Beberapa abad lampau, seni hampir bisa dikatakan mempunyai kedudukan setara dengan teologi, juga hukum, dalam tradisi Islam. Ia teramatlah penting. Bahkan tak jarang, seni Islam, dapat menjelaskan lebih dalam, bermakna, dan berkesan tentang agama Muhammad tanpa menjelaskan dengan kata-kata yang rumit dan membingungkan bagi mereka yang tak pernah sekalipun mendengar tentang Islam.

Karena itu, seni dan arsitektur Islam kerap dianggap sebagai the silent theology.

Seni dan arsitektur Islam (Islamic Art and Architecture), dalam pengertiannya, tidak hanya menggambarkan karya seni yang dibuat khusus untuk tempat beribadah masyarakat muslim (misalnya, masjid dan segala hiasan dekoratifnya), tetapi juga mencirikan seni dan arsitektur yang secara historis lahir di tempat yang diperintah oleh umat muslim, diproduksi untuk pelanggan muslim, atau dibuat oleh seniman Muslim.

Baca Juga:  Obituari: Cakar Ayam Danarto

Karena tidak hanya mencakup tentang agama, lebih jauh lagi seni Islam menjadi sebuah cara hidup (way of life). Islam memupuk perkembangan budaya yang khas dengan bahasa artistik dan unik, yang tercermin dalam karya-karya seni dan arsitektur di seluruh dunia muslim.

Innallahal Jamiil Yuhibbul Jamaal. Munculnya sesuatu yang indah dari seorang muslim erat kaitannya dengan keindahan Kalam Tuhan, yaitu Alquran termasuk didalamnya tentang spiritualitas. Seseorang dengan spiritualitas tinggi, akan mengeluarkan segala sesuatunya dengan indah. Nyaris tanpa keburukan. Apapun bentuknya. Dan hal ini bisa dirasakan oleh semua orang. Keindahan hakiki tidak pilih kasih, tak pandang latar belakang, agama, dan kelas. Karena ia bahasa universal.

Lihat saja, berapa ribu mata yang takjub akan keindahan kubah-kubah megah yang bertebaran di kota-kota besar masyarakat muslim abad pertengahan. Mulai dari Istanbul, Makkah, Herzegovina, Budapest, Aleppo, hingga ke Sarajevo, buah kayar Mimar Sinan, sang arsitek kenamaan Usmani. Keramik Iznik berwarna biru, dengan dekorasi berbentuk tumbuh-tumbuhan menjuntai memenuhi dinding masjid, dilengkapi dengan menara lancip berbentuk pensil yang menjulang tinggi menghiasi langit-langit kota, menjadi kebanggaan peninggalan umat Islam yang bernilai seni tinggi.

Baca Juga:  Memahami Seni, Keindahahan dalam Islam hingga Ide Kejahatan

Jauh sebelum itu, di Spanyol, tradisi Islam di Andalusia ini terlebih dahulu memberikan penghargaan yang tinggi atas mahakarya seni juga arsitektur.

Termasuk tentang musik, iluminasi emas nan menawan di mushaf-mushaf Alquran, ornamen berbentuk geometri, syair-syair indah, kaligrafi, hingga ke barang-barang komoditas seperti karpet, lampu-lampu hias, keramik, dll.

Ornamern di istana al-Hambar (dok. penulis)

Siapa yang tak pernah dengar Mezquita di Cordoba, istana Madinat al-Zahra yang melegenda, juga istana al-Hambra? Semua terpana akan keagungan dan keindahan wujud Tuhan dalam sebuah bangunan, yang kerapkali dibuai panjang sebagai hasil termegah peradaban Islam masa lalu. Tanpa mendalami makna inti dari unsur-unsur bangunan tersebut yang sesungguhnya membawa pesan keberagaman, dan toleransi.

Paradigma unity in diversity, merupakan makna yang secara jelas tersirat dari beragam keindahan seni dan arsitektur Islam. Hal ini direpresentasikan dari beragamnya corak seni Islam dari masa awal perkembangan yang membentang dari Asia, Afrika hingga Eropa.

Kesatuan akan sebuah cita dan tujuan hidup dalam Keagungan Tuhan, Yang Esa, dan kemudian dimanifestasikan dalam beragam bentuk yang berbeda. Sedikit contoh, bentuk masjid di Cina pada perkembangan Islam, tidak akan sama dengan bentuk masjid di Damaskus, atau Mesir, dan seterusnya. Dalam hal ini, tradisi seni Islam sangat erat kaitannya dengan unsur lokal yang kemudian melahirkan sesuatu yang baru dan menjadi ciri khas dimana karya tersebut dilahirkan.

Baca Juga
Nasirun, Tarekat dan Imajinasi Kebudayaan

Di Nusantara, perkembangan Islam terjadi melalui akulturasi seni dan budaya setempat yang diracik sedemikian paripurna oleh para wali. Dari lirik-lirik tembang Jawa, bangunan masjid-masjid kuna yang kental dengan filosofi Jawa, dan percampuran arsitektur Tionghoa, serta pengaruh Hindu-Budha tak sekalipun melunturkan nilai serta substansi ajaran Islam yang telah lahir berabad-abad lampau. Ia tetap membawa rahmat, keadilan, dan kebahagiaan bagi pemeluknya tanpa paksaan dan aksi-aksi brutal.

Baca Juga:  Mural Gus Dur pada Tembok Kusam

Kenyataanya, dalam sejarah panjang tradisi Islam, pengaruh dari unsur-unsur luar tak dapat lagi terbantahkan. Pengaruh budaya Romawi, Byzantium, yang terwujud dalam kubah-kubah maha besar di seantero Usmani, juga menara- menara masjid yang tidak sedikit terpengaruh unsur Persia di Asia Tengah menjadi lazim keberadaannya. Yang membedakan, adalah teknik berikut unsur lokalitas yang menemukan perkembangannya seiring perubahan ilmu pengetahuan dan budaya setempat.

Setiap unsur dalam detail-detail keindahan bangunan baik tentang kubah, kaligrafi, mihrab, ornamen, hingga mozaik memiliki makna transenden dalam hubungannya dengan Sang Pencipta.

Jika dihadapkan dengan situasi sekarang dimana ajaran agama Islam kerap kali dituturkan melalui ucapan berisi ancaman-ancaman, agitatif, dan diselingi dengan ujaran kebencian serta permusuhan, sentuhan dakwah juga pendekatan melalui seni dan budaya Islam menjadi cukup relevan.

Melalui mahakarya agung berupa seni dan budaya, diharapkan mampu menyampaikan pesan toleransi dan keberagaman yang bertolak belakang dengan paham ekstremisme akan keseragaman. Kesatuan interpretasi agama dalam sejarah Islam tak akan pernah bertahan lama. Ia menjadi semacam antitesis dari pesan inti Alquran atas sebuah perbedaan yang menjadi rahmat.

Dengan menciptakan, menyebarkan, juga mengupayakan lahirnya akan hal-hal yang indah, artistik, elok dan cinta kasih, dapat menjadi salah satu cara untuk menolak budaya kebencian dan permusuhan, yang erat hubungannya dengan keburukan, dalam interaksi sosial masyarakat kita.

Kebencian bukanlah bahasa universal, ia hanya mampu dipahami oleh mereka yang menganggap kebenaran hanya milik mereka. Ia hanya mampu dipahami oleh mereka yang merasa bahwa keberadaan ‘yang lain’ merupakan sebuah ancaman. Namun, cinta kasih,  sesuatu yang indah, memiliki makna umum yang mampu dipahami oleh siapapun.

Wallahu a’lam

Lihat Komentar (0)

Komentari