Sedang Membaca
A. A. Achsien, Wartawan NU yang Lahir 12 Juli, Wafat 12 Juli
Penulis Kolom

Wartawan, tinggal di Jakarta

A. A. Achsien, Wartawan NU yang Lahir 12 Juli, Wafat 12 Juli

Fb Img 1594556562408

Pada hari ini 12 Juli, ada salah seorang tokoh NU yang secara kebetulan lahir serta wafat pada tanggal yang sama. Sama-sama 12 Juli. KH Saifuddin Zuhri, sepertinya menganggap hal demikian terbilang unik.

“Tidak banyak terjadi bahwa hari tanggal wafat seseorang bersamaan dengan hari tanggal lahirnya. Persamaan yang paling sempurna terjadi pada diri junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Hari dan tanggal wafat persis sama benar dengan hari dan tanggal lahir. Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal. Hanya tahunnya yang berbeda, tentu. Selisih 63 tahun,” ungkapnya sembari menukil Ibnu Hisyam “Siratun Nabi” 1/171, IV/332-333.

Ungkapan KH Saifuddin Zuhri ini merupakan pembuka pada tulisan untuk mengenang Haji A. A. Achsien, tokoh NU yang mengabdi dari ranting di daerah kelahirannya, Kudus, Jawa Tengah, turut serta menjadi pengurus Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO, sekarang menjadi Gerakan Pemuda Ansor), salah seorang pengurus NU di Jawa Barat, hingga menjadi tokoh NU di tingkat pusat (PBNU).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

A. A. Achsin wafat pada tahun 1979 pada usia 64 tahun. Kiai Saifuddin tidak menyebut tahun kelahirannya. Untuk mengetahuinya, Kiai Saifuddin Zuhri mungkin mempersilakan pembaca untuk menghitung sendiri. Ketika dihitung, sudah barang tentu pada 1915.

Ditilik dari panjang usianya, 64, A. A. Achsien hanya selisih setahun dengan panjang usia Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, Kiai Saifuddin, menautkannya. Selain unik, beberapa persamaan itu sepertinya dianggap istimewa.

Baca juga:  Menziarahi Ibn Kammuna, Filsuf Yahudi yang Menggetarkan Dunia Islam

Berita tentang wafatnya A. A. Achsien pada tahun itu, menurut Kiai Saifuddin, mengejutkan sebagai besar kawan-kawannya di seluruh Indonesia.

“A. A. Achsien memang mempunyai banyak kawan dan sahabat di seluruh Indonesia sejak puluhan tahun. Achsien telah mempunyai nama semenjak zaman pergerakan sebelum Indonesia merdeka,” tulis Kiai Saifuddin pada artikel “H. A. A. Achsien; dari Angkatan Pionir Pejuang” yang terdapat pada buku “Secercah Dakwah” yang diterbitkan PT Al-Ma’arif Bandung (1983).

Pada “Ensiklopedia NU”, nama A. A. Achsien menjadi entri pertama di jilid kesatu. Jelas karena struktur namanya diawali dengan huruf A berjumlah tiga, secara berturut-turut pula. Ya, memang ensiklopedia disusun dengan berdasarkan abjad. Jadi nama A. A. Achsien pertama tanpa tertandingi nama apa pun karena jarang sekali ada struktur nama yang demikian.

Lalu apa A berderet dua di depan nama Achsien itu?

KH Saifuddin Zuhri memberitahunya, yaitu A yang pertama adalah Alwi, nama kakeknya. A kedua adalah Abubakar, nama ayahnya. Jadi, nama lengkap dia adalah Alwi Abubakar Achsien. Kakek dan ayahnya diborong jadi satu dalam namanya.

A.A Achsien pada tahun 1930-an adalah seorang wartawan lulusan HIS yang menyukai sastra. Masa remajanya ia menerbitkan novel berjudul “Kudus di Waktu Malam”. Semoga Mas Syaifullah Amin, Mas Nuruddin Udien Hidayat atau Bung Muhammad Zunus dan Mas Slamet Amex Thohari memilikinya. Saya mau pinjam.

Baca juga:  Persekutuan al-Idrisi dan Raja Kafir

Oh ya, sebagai wartawan, Achsien konon senang mengirimkan beritanya kepada koran milik keturunan Tionghoa. Pasalnya di koran-koran milik Tionghoa tak terlalu membatasi dalam urusan bahasa.

Dari data itu, saya ingat Bung Riza. Ia adalah Tuan Guru yang berbaik hati memberi saya tulisan Razif berjudul “Bacaan Liar: Budaya dan Politik pada Zaman Pergerakan”. Saya menduga dari buku itu bisa mengetahui konteksnya.

Alfatihah…

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top