Sedang Membaca
Daftar Gerakan Mahasiswa yang Anti dan Pro Gus Dur
Avatar
Penulis Kolom

Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Jakarta, Jurusan Pendidikan Sejarah. Penulis lepas.

Daftar Gerakan Mahasiswa yang Anti dan Pro Gus Dur

Ketika para politikus Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai bermanuver dengan membentuk panitia khusus (pansus) Buloggate dan Bruneigate, mereka juga membutuhkan kelompok penekan lain, yaitu mahasiswa. Pasalnya, peran demonstrasi mahasiswa dalam menekan rezim dinilai cukup penting.

Pemerintahan Soekarno dan Soeharto telah merasakan gelombang demonstrasi yang begitu massif dapat merontokkan kekuasannya. Maka dari itu, untuk menekan Gus Dur juga demikian. Hanya saja, gerakan mahasiswa yang seharusnya menjadi entitas tersendiri yang memiliki otonomi atas sikap, pikiran, dan tindakan mulai pudar.

Seperti dicatat dalam buku Menjerat Gus Dur, sebuah notulensi rapat perencanaan penjatuhan Gus Dur yang ditulis oleh Priyo Budi Santoso menunjukkan hal itu. Priyo menuliskan, kekuatan massa yang dapat digunakan untuk merendahkan dukungan terhadap Gus Dur, diantaranya adalah jaringan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)—berserta Korps Alumninya (KAHMI)— dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Namun, hanya organisasi pertama yang memiliki peran dominan. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh KAHMI di Jakarta pada 25 Oktober 2000, untuk kali pertama Amien Rais dengan terbuka menyatakan menyesal mendukung Gus Dur. “Saya minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas pilihan yang keliru. Karena kita manusia, jadi bisa keliru. Sekarang jelas bahwa Gus Dur memang tidak bisa bertahan lebih lama lagi demi bangsa dan kelanjutan dari republik, serta keutuhannya di masa mendatang,” tegas Amien seperti dikutip dari Republika.

Baca juga:  Kisah Penemuan Dokumen Penjatuhan Gus Dur dan Bahaya yang Mengancam

Sedangkan, jalanannya demonstrasi jalanan dikoordinasi oleh Ketua Umum PB HMI saat itu, M. Fakhruddin. Ia mengungkapkan beragam isu yang dituntut oleh demonstran seperti kasus Buloggate dan Bruneigate, gagalnya Gus Dur dalam menjalankan amanat reformasi, dan menyingkirkan kekuatan Islam politik yang sudah mendukung Gus Dur menjadi presiden.

“Selama pemerintahannya, bangsa Indonesia justru mengalami set back, baik di bidang ekonomi, politik, dan hukum. Karena itu tidak ada pilihan lagi. Jalan terbaik adalah meninjau kembali mandat yang telah diberikan kepada Gus Dur,” katanya.

Di HMI, Fakhruddin tentu tak sendirian. Dalam petikan wawancara yang tidak dimuat dalam buku Menjerat Gus Dur—karena belum melakukan konfirmasi, Fakhruddin menyatakan ia dibantu oleh Burhanuddin Muhtadi untuk menggalang massa. “Burhan itu menggalang di Jakarta. Sekarang hebat ya dia sudah terkenal. Dulu itu dia sama abang ke sana-ke sini (menggalang massa-pen),” ujar Fakhruddin.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Momentum besar dari gerakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan senat mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN)/Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ini muncul ketika mereka berkumpul melaksanakan apel reformasi pada 24 Oktober 2000. Di kampus Universitas Trisakti. Ribuan mahasiswa dari 10 PT (UI, IPB, Usakti, Mercubuana, ITB, ITS, Unibraw, Stan PNJ, dan Unas Jakarta), berkumpul dan membuat pernyataan sikap atas jalannya pemerintahan Gus Dur yang dianggap tidak mampu memperbaiki keadaan.

Baca juga:  Kaidah Al-Itsar dan Nasihat Gus Dur

Selama bergerak di Jakarta, mereka berkumpul di dua posko, yaitu Kampus Trisakti dan UI Salemba. Posko itu dinamakan Posko Penyelamat Reformasi. Dari situ mereka menghimpun kekuatan untuk aksi. Penggalangan massa ini tidak terlepas dari dukungan birokrasi kampus dan para senior mereka di organisasi ekstra kampus.

Namun, tidak semua gerakan mahasiswa anti terhadap pemerintahan Gus Dur. Berdasarkan analisis di buku Menjerat Gus Dur, setidaknya ada tiga macam jenis demonstran. Pertama, adalah mereka yang anti terhadap Gus Dur dengan isu Gus Dur gagal melaksanakan 6 visi reformasi dan mandat Gus Dur harus dicabut. Kelompok ini diisi oleh, PB HMI, HMI cabang Jakarta, BEM UI, IPB, KM ITB, KM, UGM, UNJ, UNDIP, Unibraw, Unsri, KAMMI, HAMMAS, KMI, KOMPPI, IMM, GPI, GPK, Senat Mahasiswa Se-Jakarta, dan Presidium Masyarakat Mahasiswa Trisakti.

Kedua, adalah kelompok Garis Tengah. Isu yang mereka bawa adalah adili Soeharto dan penjahat Orba ke Mahkamah Rakyat, bersihkan elite politik dan birokrasi dari rezim Orba beserta antek-anteknya, cabut dwifungsi TNI, potong satu generasi, dan laksanakan land reform. Kelompok ini diisi antara lain oleh Forkot, Famred, LMND, FKSMJ, KAM, GMNI, PMKRI, dan FPPI.

Ketiga, adalah kelompok pendukung Gus Dur. Isu yang mereka usung adalah pansus buloggate dan bruneigate hanya alat untuk jatuhkan Gus Dur, DPR masih bagian dari Orba, jatuhnya Gus Dur menggagalkan konsolidasi demokrasi, politik massa adalah rekayasa Orba. Kelompok ini mayoritas diisi oleh organisasi yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) seperti GP Ansor, PMII, IPPNU, dan IPNU.

Baca juga:  Toleransi yang Salah Kaprah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top