Sedang Membaca
Picknikustik, Ngaji Unik Dakwah Asyik

Blogger. Pernah menjadi Support Manager Program Soundquarium. Blog: ranselsaya.com dan pantangpadam.com

Picknikustik, Ngaji Unik Dakwah Asyik

Seni sudah lama menjadi wadah dan sarana penyampaian dakwah. Seni juga diyakini Sunan Kalijaga berdakwah melalui wayang kulit. Bimbo dan Sabyan berdakwah melalui musik dan lagu plus suara merdu.

Seperti halnya Sunan Kalijaga, Bimbo, dan Sabyan –saya sengaja memberi contoh secara acak– begitu pula Komuji.  Nama yang belum terlalu akrab,  tapi  berpotensi masyhur,  saya yakini.

Mengapa? Karena Komuji adalah komunitas yang idealismenya adalah berdakwah dan mempelajari agama dalam suasana yang santai dan menyenangkan,  namun tetap dalam koridor agama. Komunitas tidak dimiliki oleh satu orang, ia menyatukan idealisme yang sama, sehingga masing-masing pihak akan berusaha untuk mempertahankannya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Ngaji dulu

Komuji, sebuah akronim dari Komunitas Musisi Mengaji, adalah suatu wadah yang digagas oleh para musisi untuk berdakwah melalui jalan yang mereka pahami, yakni seni.

“Komunitas ini berawal dari beberapa musisi Bandung yang percaya bahwa musik adalah media penyampai pesan agama yang indah sebagaimana sufi yang meniti jalan cintanya melalui syair,” ujar Alga Indria, vokalis The Panas Dalam yang menjadi salah satu penggagas komunitas ini, di sela-sela acara Picknikustik, 27 September 2019.

Idealisme ini merupakan angin segar bagi banyak orang, terutama anak muda dan seniman. Dibentuk sebagai wadah bagi anak muda dan seniman untuk mengekspresikan kecintaan mereka pada Islam melalui seni yang positif dalam bentuk apa pun.

Baca juga:  Wayang, Medium Komunikasi dan Dakwah Lintas Kelas
Husein Ja’far tampak antusias

“Picnikustik” adalah acara rutin bulanan Komuji yang dikemas dalam bentuk penampilan musik yang silih berganti dengan kajian dari ustaz-ustaz yang menjadi narasumber. , Direktur NU Online, Savic Ali, juga turut serta membagikan ilmu agama yang ia kuasai. Narasumber yang memiliki pengalaman unik seperti Nur Dhania, turut menceritakan pengalaman bagaimana dirinya dan keluarganya berangkat ke Suriah dan berusaha kembali ke tanah air.

Beberapa komika turut berpartisipasi mengisi kajian-kajian Komuji, sebut saja Mohamad Ali Sidik Zamzami atau yang lebih dikenal sebagai Mo Sidik dan Sakdiyah Ma’ruf. Turut serta pula figur publik dalam acara Picnikustik, seperti Ronal Surapradja, yang juga penyiar dari radio terkemuka di Jakarta. Ada pula Ngatawi al-Zastrouw, budayawan yang juga dosen di Universitas Nadhlatul Ulama Indonesia.

Menurut Kikan Namara, Kordinator Komuji Chapter Jakarta, para narasumber yang dihadirkan di Picnikustik dan kegiatan dakwah Komuji lainnya telah melalui seleksi yang ketat, dengan menggali sanad keilmuan dan latar belakang akademis mereka masing-masing.

“Komuji juga turut aktif dalam kegiatan-kegiatan lintas agama dan lintas mazhab. Karena di Komuji, merawat kebinekaan adalah salah satu poin yang betul-betul menjadi kepedulian bersama dan tentunya juga melatarbelakangi dibentuknya komunitas ini,” ujar Kikan.

Ronal “in action”

Tidak hanya di sana, kajian yang terselenggara di Komuji juga termasuk kajian lintas keilmuan, seperti kajian mengenai alam semesta dari sisi omni sains (Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan pengetahuan), di mana dimensi sosial dari omnisains adalah agama, spiritual, sains, dan filsafat.

Baca juga:  Kritik Agama di Ruang Publik

Komunitas yang berbasis di Jakarta dan Bandung ini tidak hanya menginisiasi Picnikustik satu bulan sekali di Jakarta, namun juga kajian-kajian rutin yang diselenggarakan di Rumah Komuji, Bandung. Sebut saja program Madrasah Falsafah yang bertujuan membumikan filsafat dengan metode Sokrates, menggali pemikiran melalui pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya “membidani” lahirnya suatu kesadaran dan pengetahuan baru.

Selain itu juga program “Human Unboxing” yang membahas mengenai manusia dan tujuannya diciptakan. Kelas tahsin, dan kelas al-Fatihah yang khusus membuka hikmah ayat dalam Alquran. Kajian yang dibuka untuk umum ini disajikan gratis dan dapat diikuti dengan datang langsung ke Rumah Komuji di Jl. Cilaki no 33, Bandung, atau ditonton melalui streaming instagram @rumahkomuji, memanfaatkan kemudahan digital untuk menjangkau penikmat kajian yang tidak dapat menghadiri langsung.

Penuhnya ruang penonton saat diadakannya Picnikustik serta atensi aktif yang diberikan pada setiap kajian membuktikan bahwa sesungguhnya masyarakat masih haus akan ilmu agama dan mencari sumber-sumber ilmu disela-sela kesibukan bekerja di kota besar.

Kikan berharap Komuji dapat terus berkegiatan dengan positif, membangun kesadaran beragama islam dengan baik, serta dapat diterima dan didukung oleh berbagai pihak. Informasi kegiatan dapat diperoleh melalui instagram @komujijakarta, @komuji_indonesia dan @rumahkomuji. (SI)

*Artikel ini didukung oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informasi RI

Baca juga:  Menilik Parateks Film "Jejak Khilafah di Nusantara"
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top