Sedang Membaca
Kiprah Perempuan Indonesia dalam Dunia Literasi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kiprah Perempuan Indonesia dalam Dunia Literasi

Untung Wahyudi

Berbicara tentang perempuan dan dunia literasi mungkin kita akan melihat perjuangan sosok perempuan dari Jepara yang pernah mengalami pengekangan di lingkungan tempat tinggalnya, di sekitar istana kaum priyayi yang megah.

Tradisi yang mengungkungnya membuat dia menulis surat-surat yang ditujukan pada teman-teman korespondensinya. Dialah RA Kartini. Namanya melegenda dan dianggap berjasa karena telah berhasil memperjuangkan hak kaum perempuan.

RA Kartini (1879-1904) menulis surat-surat yang berisi curahan hatinya kepada para sahabatnya di Eropa, terutama Belanda. Ia mengeluhkan nasib perempuan di negerinya yang jauh dari sentuhan peradaban. Surat-surat yang ditulisnya pada 1902 itu dibukukan di Belanda pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Gelap Menuju Cahaya).

Buku itu dipakai oleh kaum perempuan masa kini sebagai bukti otentik tentang kegigihan Kartini dalam menceritakan nasib kaumnya yang terbelakang dan mencoba memberikan solusi dengan cara membuka sekolah terbuka.

Karena perjuangan dan kegigihannya itulah Kartini diganjar gelar Pahlawan Nasional. Namanya harum sebagai putri sejati dan putri Indonesia—diharumkan oleh lagu Ibu Kita Kartini karya WR Supratman dan buku Habis Gelap Terbitlah Terang susunan Armijn Pane (Annida, 2009).

Di Tanah Air juga muncul gerakan feminis yang bertujuan menyuarakan kaum perempuan yang tertindas, disepelekan, bahkan dilecehkan, terutama oleh kaum laki-laki. Gerakan mereka tidak hanya dilakukan dalam bentuk demonstrasi dengan membawa “bendera” emansipasi. Tetapi, mereka juga menyuarakannya ke dalam ranah sastra. Tak heran, jika di Indonesia muncul beberapa penulis perempuan yang karyanya dikenal dengan sastrawangi.

Baca juga:  Grace Hopper dan Amal Jariyahnya

Karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu bisa dibilang termasuk dalam kategori sastrawangi tersebut. Jika kita baca karya Djenar berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), tampak dengan jelas bagaimana Djenar menulis sesuatu yang mungkin tabu, tetapi penting untuk ditulis.

Dalam buku yang diterbitkan Gramedia itu, Djenar secara blak-blakan mengupas tentang seksualitas. Beberapa judul dalam buku yang terbilang laris itu memang sangat kental dengan dunia laki-laki, seks, dan perempuan. Bagi yang tidak terbiasa membaca karya Djenar, mungkin akan menganggap bahwa Djenar sudah gila dan sinting karena tidak merasa risi menuliskan hal-hal vulgar yang akan membangkitkan syahwat kaum laki-laki.

Tetapi, sekali lagi, Djenar mempunyai alasan mengapa menulis sesuatu yang sangat mengganjal dan mengganggu pikirannya. Tentang bagaimana kaum perempuan dilecehkan dan dipandang sebelah mata karena dianggap lemah dan tidak berdaya.

Isu fenimisme dalam dunia sastra juga pernah diangkat Abidah el-Khaliqy lewat karyanya Perempuan Berkalung Sorban. Novel yang kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar dan digarap seorang sutradara terkenal Hanung Bramantyo itu sempat menuai protes karena dianggap mencoreng harga diri perempuan, terutama di lingkungan pesantren.

Aroma sastrawangi yang pernah menimbulkan perdebatan sengit di kalangan sastrawan kini sudah mulai tidak tercium lagi. Bisa dibilang, karya sejenis Saman atau Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) sudah berkurang. Namun, bukan berarti penulis perempuan Indonesia “mandul” untuk menghasilkan karya bermutu yang menyuarakan kemanusiaan.

Baca juga:  Bagaimana Tasawuf Memandang Perempuan?

Jika kita mau membaca dan mencari informasi, banyak penulis perempuan Indonesia yang sampai saat ini masih aktif dan produktif menulis isu tentang perempuan. Namun, tentu saja dengan gaya dan rasa yang berbeda. Salah satu nama yang saat ini cukup diperhitungkan di jagat literasi adalah Asma Nadia, pengarang yang telah menulis lebih dari 40 buku.

Baca Juga

Asma Nadia pernah menulis novel dengan tema poligami dalam Istana Kedua (Gramedia)—diterbitkan ulang dengan judul Surga yang Tak Dirindukan (Asmanadia Publishing House). Ia juga mengangkat isu kekerasan pada pembantu rumah tangga (PRT) dalam Derai Sunyi (Mizan).

Sejumlah karya Asma Nadia juga telah diangkat ke layar lebar seperti Surga yang Tak Dirindukan, Assalamualaikum, Beijing, Rumah Tanpa Jendela, Emak Ingin Naik Haji, Cinta Laki-Laki Biasa, Pesantren Impian, dan lainnya. Film-filmnya pun mendapat beberapa penghargaan dalam beberapa festival film. Sehingga, kiprah Asma dalam dunia literasi membuat dirinya dinobatkan sebagai Tokoh Perempuan Inspiratif versi Republika.

Selain aktif menulis buku solo, Asma Nadia juga berhasil menularkan “virus menulis” pada sejumlah perempuan untuk bersama-sama menerbitkan buku antologi dengan tema pernikahan, parenting, hingga tentang poligami dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Novel yang mengupas tentang perempuan, kemanusian dan Hak Asasi Manusia (HAM) juga bisa dilihat dalam karya Okky Madasari dalam novel Maryam dan Pasung Jiwa. Dalam dua novel yang menyabet penghargaan Khalustiwa Literary Award (KLA) 2012 dan 2013 itu Okky begitu gigih menyuarakan isu HAM yang sering kali digembar-gemborkan di negeri ini.

Baca juga:  Generasi Khadijah di Era Presiden Jokowi

Demikianlah. Perempuan dan dunia literasi memang tidak bisa dipisahkan. Sejumlah buku, baik fiksi maupun nonfiksi, masih kental dengan tema perempuan, kebebasan dan kemanusiaan. Para penulis seakan-akan tidak pernah bosan menulis isu perempuan dalam karya-karyanya. Hal ini menunjukkan bahwa, kiprah kaum perempuan dalam jagat literasi tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. (*)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top