Sedang Membaca
Generasi Khadijah di Era Presiden Jokowi

Generasi Khadijah di Era Presiden Jokowi

Rizki Amalia

Baru-baru ini, publik digemparkan dengan prestasi Indonesia yang menguasai 51 persen saham PT Freeport melalui penandatangan Pokok-Pokok Perjanjian (Head of Agreement) terkait penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke INALUM.

Ada beberapa menteri yang bertanggung jawab dalam penandatangan perjanjian tersebut. Di antaranya Menteri Keuangan, Sri Mulyani; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya; dan Menteri BUMN, Rini Soemarno. Ketiga menteri perempuan tersebut memainkan peranan penting atas berhasilnya Indonesia menguasai sebagian besar saham PT Freeport yang sudah bertahun-tahun diperjuangkan.

Selain tiga menteri di atas, Presiden Jokowi memiliki beberapa menteri perempuan lain di eranya. Di antaranya ada Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi; Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti; Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani; Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek; dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yambise.

Perempuan-perempuan yang duduk di posisi penting tersebut merupakan bukti adanya kesadaran akan keadilan gender di Bumi Pertiwi ini. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia telah memberikan porsi yang adil terhadap perempuan dalam segala bidang. Perempuan-perempuan tersebut, saya potret sebagai generasi Khadijah al-Kubra RA masa kini.

 

Memotret Sosok Khadijah

Khadijah al-Kubra bukanlah perempuan asing dalam sejarah Islam. Istri pertama Rasulullah SAW ini merupakan perempuan paling berpengaruh di antara 10 istri lainnya. Khadijah dikenal sebagai ahli ekonom andal di zamannya. Sebagai seorang saudagar kaya raya, dia mengelola keuangan dan perekonomian dalam skala besar yang kemudian digunakan untuk biaya dakwah Islam.

Baca juga:  Perempuan, Kitab Kuning, dan Kiai Husein Muhammad

Dalam sebuah hadits Rasulullah menyatakan,“Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah memberikan anak padaku darinya bukan dari perempuan lain.” (HR Imam Ahmad)

Dalam bidang ekonomi, Sri Mulyani merupakan salah satu penerus Khadijah masa kini. Tidak ada yang meragukan lagi akan keahliannya dalam bidang tersebut. Perempuan yang pernah menjabat sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer (COO) bank dunia ini, terkenal sebagai ahli ekonomi makro. Beliau merupakan potret perempuan Muslim penerus Khadijah. Seperti halnya Khadijah, Sri Mulyani juga berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Selain sebagai ekonom andal, Khadijah merupakan perempuan yang memiliki karakter kepemimpinan yang luar biasa. Dia mampu menjadi direksi dan pemimpin perusahaan besarnya. Dia tidak menyerahkan perusahaannya kepada orang lain. Sebagai pemimpin yang baik, Khadijah pun sangat perhatian kepada karyawannya.

Sebelum menikah, Muhammad SAW bekerja pada Khadijah. Beliau membawa barang dagang Khadijah untuk beliau jual. Khadijah sangat paham bahwa Muhammad merupakan seorang pemuda yang dapat dipercaya (amanah). Untuk itu, Khadijah pun mengajaknya untuk menikah. Ini merupakan salah satu bukti bagaimana Khadijah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang yang bekerja dalam perusahaannya.

Baca juga:  Keistimewaan Siti Bariyah, Ketua ‘Aisyiyah Pertama (1)

 

Pada 2018, dalam bidang kepemimpinan ada sepuluh perempuan Muslim yang menjadi kepala daerah di Jawa Timur. Di antaranya ada Khafifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Jawa Timur, Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya, Faida sebagai Bupati Jember, Haryanti Sutrisno sebagai Bupati Kediri dan lain-lain.

Perempuan-perempuan tersebut merupakan sosok penerus Khadijah masa kini yang memiliki jiwa kepemimpinan mulia dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pegawai dan rakyatnya.

Keadilan Gender di Bumi Pertiwi

Dalam sejarahnya, Indonesia memiliki kesadaran akan keadilan gender sejak awal. Dalam berbagai peperangan merebut kemerdekaan, ada banyak tokoh perempuan Muslim yang tersohor akan keberaniannya dalam medan perang, seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan lainnya.

Baca Juga

Sejak awal pembentukan pemerintah demokrasi, Indonesia juga telah melibatkan perempuan. Perempuan telah ikut dalam pemilihan umum pertama. Bahkan salah satu kandidat pemimpin Indonesia juga berasal dari perempuan Muslim, “Megawati Soekarno Putri”.

Keislaman yang mengakar di Indonesia merupakan keislaman yang moderat. Keislaman yang menjunjung tinggi makna keadilan. Keislaman yang jauh dari sifat diskriminasi atas hal apa pun.

Menurut Nazarudin Umar, Dosen UIN Syarif Hidayatullah yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, dalam jurnalnya yang berjudul Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Alquran” menyatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanyalah sebatas perbedaan secara fisik. Namun laki-laki dan perempuan mampu memiliki peran yang sama dalam segala bidang.

Imam al-Ghazali pun dalam salah satu karyanya secara lugas mengakui kemampuan perempuan dalam berbagai sektor. Dia menyatakan kekagumannya atas keberhasilan Golda Meir, ratu Victoria, Inggris yang berhasil memimpin bangsanya.

Masa depan perempuan Islam di masa mendatang diharapkan akan jauh lebih cerah. Keberhasilan para menteri perempuan Indonesia dalam keterlibatannya merebut Freeport ke pangkuan bumi pertiwi merupakan bukti perempuan Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan-perempuan yang berani mengambil peran penting meskipun penuh risiko di era ini akan menjadi patron bagi perempuan lain yang akan melanjutkan perjuangan mereka.

Baca juga:  Hasna binti Fayruz, Spesialis Tarekat Cinta

Selama kita masih teguh dalam memegang prinsip Islam yang moderat, maka perempuan Indonesia akan diperlakukan dengan mulia di negeri ini. Perempuan Indonesia turut andil menentukan masa depan bangsa. Masa depan perempuan Indonesia ditentukan pula oleh sikap dan perspektif kita dalam memaknai hukum-hukum Islam di Bumi Pertiwi ini.

 

Lihat Komentar (1)
  • Perlu pembedaan penyebutan nama antara Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali dengan Muhammad Al-Ghazali. Atau setidaknya ditulis lengkap. Supaya tidak salah persepsi dalam merujuk. Berhubung , mungkin yang dimaksud penulis adalah nama yang kedua. Sementara yang jamak disebut Imam adalah nama yang pertama.

Komentari

Scroll To Top