Sedang Membaca
Membaca Hiper Reality dengan Bahasa Sederhana: Catatan atas Buku Muhasabah Kebangsaan Ngatawi Al-Zastrouw
Avatar
Penulis Kolom

Dosen Filsafat FIB UI

Membaca Hiper Reality dengan Bahasa Sederhana: Catatan atas Buku Muhasabah Kebangsaan Ngatawi Al-Zastrouw

109124386 166533434990626 5298555907208239821 N

Pertama membuka buku ini saya sudah merasa surprise, karena dibuka dengan puisi yang indah. Puisi ini  menarik karena merupakan kristalisasi dari puluhan esai yang ada di buku ini. Kredo dan spirit buku ini tercermin secara kuat dalam puisi ini. Kedua, saya surprise karena di bagian awal buku ini langsung  menyentuh bidang kajian saya yaitu filsafat, karena menyebut nama Jean Baudrillard, seorang filosof dan sosiolog terkenal dengan kosep hyper reality. Baudrillard adalah filosof dari Prancis yang beraliran post modernis atau post strukturalis.  

Banyak orang orang yang keliru memahami konsep hyper reality, karena hanya membaca dan secara letterlijk (harfiah) dan memaknai secara etimologi dari hyper reality, yaitu realitas yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan. Padahal bukan itu maksudnya. Yang dimaksud dengan hyper reality oleh Boudrillaard adalah hilangnya batas antara fakta dengan fiksi sehingga sulit dibedakan antara fakta dengan fiksi atau ilusi (imajinasi). Beda antara ilmu pengetahuan empiris dengan sastra imajinatif  menjadi kabur karena tidak ada lagi batas yang jelas. Ujungnya, kebenaran dengan kebohongan juga menjadi tidak jelas. Dan kondisi inilah yang sekarang ini kita hadapi. Kita sulit membedakan mana yang benar, sesuai kenyataan dan mana yang salah atau bohong, tidak sesuai kenyataan. Inilah pengertian hyper reality.

Membaca ulasan Zastrouw yang ada di buku ini,  saya merasa dia bisa menjelaskan secara tepat, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Jean Baudrillard . Di sini saya melihat Zastrouw memang seorang sosiolog, karena Baudrillard memang seorang sosiolog. Zastrouw menjelaskan kondisi sekarang yang memang sulit memastikan mana berita benar dan mana berita bohong, sehingga kita mudah terpedaya oleh kondisi hyper reality ini.

Begitu terampilnya Zastrouw menjelaskan konsep hiper reality, saya pribadi secara jujur menganggap, kalau ada yang menyebut bahwa buku ini hanya memuat esai-esai sederhana itu memang benar. Tapi bukan berarti dengan kesederhanaan itu kualitasnya receh atau rendah, Tapi kesedernaan ini justru menunjukkan terampilnya penulis dalam menjelaskan konsep filsafat yang rumit menjadi sederhana sehingga bisa dipahami pembaca secara mudah, tanpa mengurangi subatansi dan pengertian dari konsep tersebut. Sederhana dalam penyampaian tapi sangat berbobot secara kualitas dan isi. Saya benar-benar merasa beruntung bisa membaca buku ini karena bisa melihat bagaimana mengartikulasikan filsafat dengan literasi yag bagus. Ini jujur saya akui dan harus saya jelaskan. Karena Zastrouw bisa menjelaskan sesuatu yanag sulit dan rumit secara sederhana tapi dengan bobot kualitas yang bagus.

Baca juga:  Sabilus Salikin (14): Rabitah (Merabit)

Ketika kita dihadapkan pada kondisi hyper reality yang  sulit membedakan fakta dan fiksi, maka dibutuhkan suatu strategi. Misalnya ketika melihat film Dinosaurus, kita seolah melihat dinosaurus beneran padahal itu adalah fiksi, suatu animasi. Dalam buku yang diberi sub judul “Renungan atas Strategi Kultural Islam Nusantara dalam Beragama Berkebudayaan dan Berbangsa” ini Zastrouw menjelaskan secara jelas dan jenis strategi menghadapi hyper reality.

Di sini Zastrouw menyebut strategi kultural dalam menghadapi dan menyikapi hyper reality. Strategi ini secara tegas menjelaskan bahwa inspirasi hyper reality ini bersumber dari bahasa. Maksudnya, kita berpikir karena susunan kata-kata, susunan kalimat yang sebenarnya adalah bahasa dan pikiran itu menciptakan perspektif dalam melihat sesuatu. Jadi pikiran kita itu sebenarnya diramu atas bahasa, selain juga kita menciptakan bahasa dari pikiran. Dalam konsep hyper reality behasa kehilangan referensi. Misalnya kita menyebut kata ayam, kata tersebut berasal dari mana, bukan karena ayam minta disebut dirinya ayam, atau kerena berasal dari bunyi ayam? Gak ada referensinya. Kata ayam itu mungkin saja muncul secara tiba-tiba dari seseorang yang kemudian diikuti oleh orang lain sehingga kata ayam itu menjadi kesepakatan untuk menyebut suatu jenis hewan dengan bentuk yang seperti itu.

Inilah yang dimaksud bahasa atau kata adalah suatu kesepakatan. Dan kesepakatan itu tergantung pada kondisi sosial. Kalau semua orang menyebut sesuatu kata dan disepakati itu benar maka dengan sendirinya kata itu benar. Jadi kebenaran konsep ayam itu karena kesepakatan bukan karena adanya referensi yang menyatakan  jenis hewan itu disebut ayam. Bisa saja kita sepakat merubah nama ayam itu menjadi yang lain. Suatu waktu ketika saya memanggil ayam itu dengan sebutan kucing dan orang-orang menyepakatinya maka kata ayam itu bisa berubah menjadi kucing. Ini sangat mungkin terjadi karena tidak ada referensi dari kata ayam. Inilah yang dimaksud kebenaran adalah suatu kesepakatan, bukan sebagai fakta. Inilah arti kedua dari hyper reality yaitu kenyataan adalah kesepakatan dari beberapa orang yang ada dalam suatu komunitas.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Eksistensi komunitas ini erat kaitannya dengan hyper realitas, karena kebenaran itu muncul dari komunitas-komunitas yang menciptakan bahasa dan kata yang kemudian diikuti oleh komunitas-komunitas lain. Kondisi ini bisa kita pakai dalam membaca bagaimana kata Indonesia muncul. Ini kan muncul dari komunitas Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islemiten Bond dan sebagainya yang bersepakat menjadi Indonesia. Dan ketika kata tersebut disepakati menjadi konsensus nasional maka menjadi kebenaran. Jika ada yang ingin mengubah konsensus yang sudah menjadi kebenaran maka harus berhadapan dulu dengan para pemegang konsensus tersebut. Apalagi konsensus tersebut sudah disahkan secara formal melalui undang-undang. Fenomena inilah yang dengan cermat dijelaskan oleh Zastrouw.

Baca juga:  Penerbitan Era Kolonial: dari Buku Fasolatan hingga Injil Pegon

Saya melihat bahasa yang digunakan dalam esai di buku ini memang  sangat enak, mengalir dan ringan. Tapi dasar pemikiran dan makna yang dijelaskan itu sebenarnya sangat berat, karena terkait dengan persoalan nasional. Suatu tema dan persoalan yang berat sekali, kondisinya sangat kompleks dan rumit. Karena banyak orang yang ingin mengubah dan membongkar konsensus tersebut dengan memanfaatkan kondisi hyper reality. Di sinilah Zastrouw, melalui esai-esainya menyatakan secara tegas, kita harus menghadapi dan membaca kenyataan secara kritis . Tidak bisa dengan strategi marah-marah, apalagi dengan mengedepakankan emosi dan otot (kekerasan). Inilah yang oleh Zastrouw disebut sebagai strategi kultural.

Sebenarnya ada kritik yang perlu saja ajukan, yaitu penggunaan kata strategi disandingkan dengan kata kultur. Karena strategi pada awalnya mengandung kegiatan militeristik, sedangkan kultur adalah simbol pendekatan non militeristik. Tapi saya bisa memahami apa yang dimaksud dengan strategi kultural yang disampaikan Zastrouw yaitu bagaimana kita memerangi persoalan-persoalan yang hendak digoncangkan oleh pihak tertentu untuk mengubah konsensus nasional yang telah membentuk pikiran kita, life style kita sehari-hari dalam mencintai negara kita. Ini sebenarnya sejak awal sudah dijelaskan para pendiri bangsa. Di sini Zastrouw menawarkan strategi membaca hyper reality dengan bahasa, atau  iqra’. Melalui  strategi membaca kita dirangsang untuk terus berpikir dan berpikir, mempertanyakan teks. Membaca di sini  dalam arti membaca kenyataan hidup secara luas termasuk teks-teks dan ayat-ayat  yang ada dalam kitab suci.

Pesan Kerudung Bergo

Strategi membaca ini menjadi penting karena setiap hari kita berhadapan dengan berita-berita yang mungkin bohong dan mungkin benar. Berita-berita yang tidak bisa dibedakan antara fakta dan fiksi. Dalam suasana seperti ini, kita akan mudah termakan begitu saja oleh berita kalau tidak membacanya secara kritis. Pendekatan kritis dalam menghadapi realitas dan membaca berita inilah yang saya fahami dari strategi kultural yang dimaksudkan oleh Zastrouw dalam buku ini. Kritis dalam arti mengajak kita untuk menjaga jarak dulu terhadap apa yang kita dengar dan kita lihat, kemudian membacanya secara kritis; siapa yang mengatakan? Dari kelompok dan pihak mana? Jangan langsung diterima. Kalau langsung diterima begitu saja, maka akan termakan dan masuk dalam perangkap hyper reality yang membuat diri kita terjerumus dalam konflik.

Baca juga:  Pudarnya Pesona Harun Yahya

Strategi di sini juga bisa diartikan membaca simbol-simbol dan membaca sejarah. Di sini Zastrouw mengajak kita membaca sejarah bangsa kita, sejarah keislaman kita dan hubungan Islam dan keindonesian. Membaca di sini berarti menginterpretasi. Dalam konteks ini kita diajak masuk dalam ilmu interpretasi. Di buku ini secara implisit Zastrouw menjelaskan apa itu interpretasi, bagaimana interpretasi dilakukan. Kita bisa memulai dengan menginterpretasi simbol-simbol yang kita kenal dengan hermeneutik atau membaca tanda-tanda yang disebut semiotik. Ini adalah bagian dari pendekatan interpretasi yang sekarang sedang ramai di bicarakan dalam dunia akademis dan kehidupan sehari-hari.

Di buku ini, saya melihat Zastrow tidak sekadar seorang sosiolog, seorang santri atau seniman. Di sini dia menawarkan perspektif yang lebih dari semua itu. Intelektualitas  Zastrouw diuji dalam buku ini. Dia mampu menyajikan bahasa yang sederhana dan provokatif tapi bisa memancing persoalan untuk berpikir kritis. Katakanlah Zastrouw ini seorang provokator, tapi provokasinya membawa kita pada pikiran yang lebih interpretatif, supaya kita bisa melihat suatu peristiwa, secara jernih, bisa membedakan antara fakta dan fiksi, kebenaran dan kebohongan sehingga kita tidak masuk dalam perangkap pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Terakhir, yang membuat saya takjub, ternyata dalam buku ini Zastrouw juga sangat memperhatikan persoalan gender. Sebagai seorang yang concern pada studi gender dan selama bertahun-tahun mengajar di prodi filsafat tentang feminisme saya merasa tulisan Zastrouw tentang gender sangat menarik, karena menggali kekuatan kaum perempuan untuk menunjukkan eksistensinya melalui konsep kekuatan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan (power in powerless). Saya tahu Zastrouw pernah telibat dalam berbagai penelitian dan gerakan gender, dan di buku ini dia membuktikan bahwa perhatiannya terhadap isu gender tidak luntur. Bahkan secara khusus dia menulis dalam enam esai.

Buku yang menarik dibaca bagi siapa saya yang ingin belajar mensyikapi dan memahami hyper reality.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top