Penulis Kolom

Penulis adalah Direktur pada Perusahaan Public Affair untuk Asia Tenggara.

Gus Nadir Hilang dari Medsos: Hendak ke Mana Toh, Gus?

Gus Nadir

Tiba-tiba dalam beberapa saat ini, saya tidak membaca postingan Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir di medsos. Saya penasaran, maka saya kontak beliau. Terakhir saya membaca pikirannya dari wawancara Majalah Tempo edisi khusus lebaran kemarin. Lalu, saya juga sempat menyaksikannya menjadi narasumber di Kompas TV setelah Ramadan lalu. Dan sempat pula mengikutinya ketika dia menjadi salah satu narasumber diskusi yang menampilkan para rektor.

Beberapa saat sejak itu, saya masih mengikuti kritiknya terhadap pemerintah di medsos. Pro dan kontra terhadap pikirannya sangat ramai. Beberapa followers Gus Nadir sempat menjapri saya dan menanyakan sikap kritis Gus Nadir terhadap pemerintah. Seolah ada yang aneh dengan ‘perubahan” sikapnya. Nadir yang selama ini “membela” pemerintah tiba-tiba ‘melawan’ pemerintah. Begitu seolah pertanyaannya.

Saya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu. Sederhana saja saya menjawabnya. Gus Nadir bukan aktivis medsos. Dan sangat salah jika dia disandingkan dengan para buzzer. Dia seorang ilmuwan atau ulama, dan sangat produktif menulis buku.

Beliau adalah seorang ketua syuriah NU. Tahukan Anda posisi itu dalam struktur di organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Posisi itu artinya adalah beliau seorang ulama, yang melekat pada tugasnya adalah bathsul masail, dan tugasnya pula menjadi rujukan umat dalam masalah-masalah agama. Bukan sekadar organisatoris. Karenanya posisi itu hanya diduduki oleh mereka yang berstatus ulama khos di PBNU.

Baca juga:  Manuskrip Nusantara: Mutiara yang Terabaikan di Leiden

Beliau seorang dai, yes, tapi juga seorang ulama. Dan satu-satunya dosen tetap asal Indonesia di fakultas Hukum, Monash University, Australia.

Ketika negara ini menghadapi kelompok radikalis yang menyuarakan sistem khilafah, dia tampil sebagai ulama dan ilmuwan. Bukan sebagai aktivis medsos. Dia membela negaranya dari pikiran-pikiran subversif yang menyimpang. Dia membela sistem ketatanegaraan yang menjadi warisan leluhur pejuang dan pahlawan bangsa.

Dia pun melakukan riset sejarah tentang sistem pemerintahan yang dibukukan dengan judul “Islam Yes, Khilafah No”. Ini merupakan kontribusi sangat besar anak bangsa, yang pemikirannya menutup ruang ideologis bagi kaum radikalis yang suka takfiri. Gagasan dan dalilnya tidak terbantahkan. Teruji di berbagai ruang publik dan diskusi.

Pemikiran ini harus terus dirawat, diedukasi di lembaga-lembaga pendidikan baik agama maupun non agama. Bahkan jika perlu dijadikan kurikulum wajib bagi siswa atau mahasiswa. Karena pemikiran yang berseberangan dengan ini akan selalu ada menggunakan ruang publik untuk tetap hidup.

Buku Gus Nadir ini menjadi pagar betis penjaga sistem ketatanageraaan Indonesia yang sudah menjadi konsensus bersama, bukan hanya tentara atau kepolisian, dan lembaga-lembaga yang menjaga ideologi pancasila. Buku Gus Nadir menjadi dalil terlengkap dan komprehensif bagi siapapun yang berkuasa di Indonesia dalam menghadapi kelompok Islam radikal.

Baca juga:  Merawat Masjid Kita

Aktivitas Gus Nadir di medsos sempat menempatkannya dalam persepsi publik seperti orang biasa dan para buzzer, yang membela kelompok bukan atas dasar perbaikan dan koreksi. Publik tidak melihat benang merah pemikirannya. Dalam soal pemerintahan sekarang, Gus Nadir masih setia mendukung Jokowi-Maruf Amin. Selayaknya kaum sunni, yang tidak memiliki kamus untuk menjatuhkan pemerintah. Namun memiliki kewajiban untuk mengoreksi.

Tanpa kehadiran Gus Nadir di medsos, sesungguhnya kita kehilangan sosok yang berperan penting dalam menghadapi isu-isu laten tentang radikalisme di ruang publik paling massif ini, dan isu-isu inspiratif dan ilmiah lainnya.

Gus Nadir, selamanya tidak akan berada di dalam kelompok yang menentang pemerintah karena ideologi kanan. Dia tidak akan bergeser posisi ideologinya menjadi sama dengan kelompok tertentu, karena dasar pijakan pemikirannya berbasis ilmiah. Tapi dia rentan disalah-pahami oleh mereka yang berpikir pragmatis.

Dia berani tidak populer di kalangan umatnya sendiri, dengan menampilkan pemikiran yang jernih dan ilmiah, dan berani tidak populer juga di kalangan para pemikir pragmatis. Ketika dia keluar dari aktivitas medsos, maka kita kehilangan sosok langka yang dibutuhkan negeri ini. Meski banyak medium lain untuk mengikuti pemikirannya.

Haruskah kita abai pada anak bangsa yang mencurahkan pikirannya untuk negeri ini. Haruskah pemerintah membiarkan anak bangsa yang hidup enak di luar negeri dengan gaji dolar, tanpa mencoleknya untuk lebih besar mencurahkan pikiran dan tenaga untuk negeri ini.

Baca juga:  Gerakan Masyarakat Sipil: Asa di Tengah Pandemi Covid-19

Ketika dia menjawab pertanyaan saya bahwa ingin memfokuskan diri pada profesinya sebagai dosen dan narasumber, sesungguhnya sosok muda brilian ini memunculkan sisi kiyainya, yang tidak ingin umatnya di medsos–karena politik terutama–menjadi semakin tidak terkontrol oleh karena tidak mau membaca dasar utama fungsi dan tugasnya sebagai ulama. Sekecil apapun kelompok ini di followersnya, akan menjadi pertimbangannya.

Gus Nadir, banyak dibela, bahkan oleh ulama-ulama khos seperti Gus Mus ketika banyak followers yang salah memahami kritiknya. Namun bukan itu bagi seorang ulama yang terpenting. Bagi ulama, meninggalkan hal-hal yang sifatnya perdebatan belaka akan lebih maslahah, baik untuk sementara atau selamanya. Kecuali perdebatan yang produktif.

Harapan kita adalah, Gus Nadir tetap hadir dan mudah diakses, apalagi websitenya http://nadirhosen.net
Dikunjungi 3 juta visitors per bulan. Emang hendak kemana tho Gus Nadir?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
4
Ingin Tahu
2
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Scroll To Top