Sedang Membaca
Pusat Studi Pesantren: Tebar Islam Ramah Melalui Pesantren
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Pusat Studi Pesantren: Tebar Islam Ramah Melalui Pesantren

Susi Ivvaty

Ekspresi serius tapi rileks tergambar di wajah-wajah peserta program Asia Interfaith Forum 2018 yang digelar di Hotel Cikopo Bogor pada 23-16 Juli 2018. Mereka menyimak dengan khusuk paparan para pemateri dan memberi umpan balik yang cerdas. Namun kekhusukan itu tidak menghalangi mereka untuk menyeruput kopi dan menjumput pisang goreng di sela-sela diskusi.

Para peserta kegiatan bertema Building Collaboration in Resisting Violance Extremism itu berasal dari Singapura, Yaman, Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Mereka adalah bagian dari komunitas atau lembaga yang tidak hanya peduli tapi juga berupaya turut memecahkan persoalan intoleransi, radikalisme, dan ekstrimisme.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tema diskusinya cukup “berat”, meliputi rencana dan aksi pencegahan ekstrimisme kekerasan, radikalisme atas nama agama yang muncul dan merebak di Asia Tenggara, upaya perempuan menangkal radikalisme dan ekstremisme, penguatan keamanan nasional, hingga perlindungan agama minoritas termasuk agama lokal (penghayat kepercayaan). Persoalan yang membutuhkan upaya serius oleh banyak pihak.

Penyelenggara forum lintas iman tersebut adalah Pusat Studi Pesantren (PSP) atau Center for Pesantren Studies dalam bahasa Inggris. PSP merupakan lembaga nirlaba yang diniatkan untuk menjadi wadah bagi proses pengkajian dunia kepesantrenan dan pengembangan pemikiran Islam secara umum. PSP juga menjadi wadah bagi jejaring pesantren yang mengembangkan wawasan yang lebih moderat dan terbuka. (Baca tulisan menarik: Menyambangi Pesantren Tua Balekambang)

Kalau menilik namanya,  Pusat Studi Pesantren, kegiatan forum lintas iman yang diikuti lebih dari 20 peserta dari beberapa negara Asia itu terkesan melampaui kegiatan yang mustinya dilakukan, ya seputar dunia kepesantrenan begitulah.

Jaringan PSP lintas negara

Namun, kalau melihat tujuan didirikannya PSP pada 21 September 2007, forum lintas iman itu menjadi relevan. Sebab, PSP juga diorientasikan untuk menjadi jembatan penghubung antara dunia pesantren dan dunia di luarnya, sekaligus menjadi media yang memfasilitasi proses dialog dan pencerahan untuk mengeliminir mispersepsi dan misinterpretasi publik terhadap dunia pesantren.

Pendiri dan Direktur PSP Achmad Ubaidilah menjabarkan beberapa tujuan didirikaannya PSP. “Sebagai sarana komunikasi dan menumbuhkan ukhuwah di antara umat Islam, khususnya di kalangan masyarakat pesantren di Indonesia. Tujuan lain adalah untuk menumbuhkan dan menyosialisasikan pandangan dan sikap-sikap serta misi Islam yang mencerahkan, moderat, ramah, toleran, inklusif dan modern di kalangan masyarakat. Lalu juga menumbuhkembangkan nilai-nilai perdamaian antar-sesama umat manusia,” kata Ubaid.

Di tangan PSP, kata pesantren terasa inklusif dan familier, khususnya bagi warga asing.  Perannya juga lebih dari sekadar tempat belajar ilmu agama dan belajar kemandirian. Banyak yang bisa diperbuat di pesantren dan oleh pesantren.

Pendirian PSP sejatinya memang terkait erat dengan sejarah pesantren Al-Falak Pegentongan yang didirikan kakek buyut Ubaid, KH Tubagus Muhammad Falak (1842—1972). Pesantren tetap lestari dari generasi ke generasi, itu tidak perlu disangsikan. Akan tetapi, Ubaid ingin melakukan sesuatu yang lebih dan berbeda, selain menjadi pengasuh pesantren.

Baca juga:  Menikmati Arsitektur “Arwana” Masjid Hati Beriman Salatiga
Spirit muasis pesantren mengilhami PSP (Foto: Alif)

“Saya ingin melanjutkan dan mengembangkan prinsip-prinsip perjuangan dan kiprah Mbah Falak. Beliau adalah Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang telah berkiprah di ranah pendidikan, sosial, kemanusiaan, politik kebangsaan, dan keagamaan. Selain itu juga mewujudkan dan mengembangkan tingkah laku serta cara pandang keagamaan berdasarkan paham Ahlussunah wal Jamaah. Itulah yang saya adopsi menjadi visi PSP,” papar Ubaid.

Rahmatan lil alamin

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta, sesungguhnya adalah ruh yang menjadi pijakan Islam moderat. Jika semua makhluk dinaungi, perbedaan agama dan keyakinan antarmanusia hanyalah persoalan sepele yang tak kan menghalangi tujuan besar yakni kedamaian semesta. Maka itu, satu misi PSP adalah menyebarkan gagasan dan pandangan yang mencerahkan, moderat, ramah, toleran, inklusif, dan mengikuti perkembangan zaman.

Obrolan dengan peserta forum lintas iman dari Singapura, Saiful Anuar, makin membuka pikiran bahwa pandangan moderat itu harus terus ditebarkan. Kami ngobrol santai mengenai Islam Nusantara yang hingga saat ini masih terus menjadi topik perdebatan. Kami berdiskusi mengenai kondisi keberagamaan dan keberagaman di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Saiful menanyakan beberapa hal terkait penggunaan kata nusantara dan kami dari PSP pun saling sahut, saling menambah referensi. “Ya, saya tahu intinya, hanya masih asing dengan kata Nusantara,” katanya.

Diskusi dengan Heyam juga mengasyikkan. Perempuan muda asal Yaman itu mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sudah lumayan fasih berbahasa Indonesia. Ia menceritakan kondisi di Yaman yang kini masih kacau walau tidak bisa dibilang ambruk. Sesekali ia minta maaf karena harus menjawab telepon temannya di Yaman dan mereka pun mengobrol dengan bahasa Arab ‘amiyah dengan asyiknya.

Baca juga:  Nuzulul Quran: Membaca Kitab Tafsir Karya Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy

Heyam bertanya mengenai pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang riuh itu, juga tentang pesantren di Indonesia. Mengapa begini, mengapa begitu, sambil sesekali berseru “subhanallah…” dan “masyaallah….”.

Bagi Pendiri SPACE (Speak Peace) Boas Simanjuntak, PSP melalui program-programnya telah menunjukkan sisi modernitas dan inklusifitas pesantren dalam konteks membuka dialog dengan pihak-pihak yang berbeda secara agama.

“Pesantren bisa menjadi pelopor perdamaian di tengah maraknya penyebaran nilai-nilai kekerasan yang berbasis ayat-ayat suci, dalam agama manapun,” katanya. Seperti program Asia Interfaith Forum ini, lanjut Boas, menjadi ajang saling tukar informasi terkini tentang kondisi terakhir di negara masing-masing peserta terkait isu-isu yang beririsan dengan agama dan kekerasan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Linda Bustan, Direktur Pusat Kajian Etik dan Religiusitas Sosial Universitas Kristen Petra Surabaya merasakan suasana teduh ketika berada di antara teman-teman muslim yang moderat dan toleran. Ia sebelumnya pernah mengikuti program PSP lain yaitu Initiative Understanding of Peacebuilding. Program ini lebih bersifat akademis, karena ditujukan kepada pada pendidik dan menggunakan pendekatan Tri Darma Perguruan Tinggi (bidang pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).

Pengajar di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nina Mariani Noor, melihat PSP cukup menjembatani para pegiat, peneliti, penulis, dan pemikir yang “bergaul” dengan isu-isu intoleransi. (Baca tulisan menarik: Ulama, Karya, dan Bahasa)

Mariani melihat beberapa program bisa menjadi ajang saling tukar informasi dan pandangan, juga menambah jejaring tidak hanya di Asia Tenggara namun juga Asia. Selain itu juga program literasi kalangan pesantren yang sangat membantu kaum santri untuk makin terlibat dengan dunia luar dan memberi kontribusi.

Beragam program

PSP terus memikirkan program-program yang menyentuh akar rumput untuk mencapai masyarakat demokratik. Satu agenda yang diperjuangkan adalah menjembatani kalangan santri untuk turut mengisi ruang publik melalui publikasi karya-karya santri di lamansuarapesantren.net. Media ini adalah bagian dari upaya untuk menyuarakan moderatisme berbasis pesantren.

Program-program srategis yang telah, sedang, dan akan dilakukan PSP meliputi:

  1. Kampanye Islam, Perdamaian, Kemanusiaan dan Demokrasi. PSP memfasilitasi komunikasi dan kerjasama antara bangsa, budaya, agama yang memiliki perhatian dan minat terhadap perkembangan Islam dan masyarakat muslim, khususnya perkembangan pesantren di Indonesia. Selain itu juga mendukung kampanye Islam moderat dan inklusif yang cinta perdamaian.
  2. Diskusi, lokakarya, dan seminar yang berkaitan dengan isu-isu Islam, kemanusiaan, perdamaian, dan demokrasi.
  3. Penerbitan dan perpustakaan. PSP mendorong tersosialisasi dan terpublikasikannya gagasan-gagasan yang lahir dari kalangan masyarakat pesantren yang sarat dengan prinsip, tingkah laku dan cara pandang toleran, inklusif, moderat dan aktif melakukan tindakan nyata yang bermanfaat bagi umat.
  4. Membangun database pesantren di Indonesia. Kegiatannya berupa inventarisasi dan pendataan pesantren di Indonesia serta memperoleh deskripsi mengenai gerakan masyarakat sipil di Indonesia berbasis pesantren. Berbagai infomasi tersebut dikumpulkan dan disusun menjadi database yang komprehensif.
  5. Pendidikan dan pelatihan. Memberi kesempatan kepada generasi muda kaum santri untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam upaya mengembangkan kapasitas diri dan pemikiran serta pandangan keislaman yang inklusif, ramah dan cinta perdamaian. Di samping itu kesempatan tersebut terbuka untuk kalangan lintas kultural, lintas bangsa dan lintas agama yang memiliki pengetahuan cukup mengenai Islam untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Baca juga:  KH. Bisri Syansuri, Pejuang Gender di Pesantren 

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU Abdul Ghafar Rozin mengatakan, idealnya PSP memiliki peran penting dalam pengembangan pesantren. PSP dapat menjadi partner strategis baik kementerian agama sebagai unsur struktural maupun RMI NU sebagai unsur ormas agama. Untuk menuju ke sana, ada banyak langkah yang harus dilakukan.

“Di antaranya adalah menjalin komunikasi intensif setidaknya dengan dua unsur tadi, kementerian dan RMI sebagai asosianya pesantren di lingkungan NU yang jumlahnya lebih dari 20 ribu. Hal lain adalah mengajak para pemikir dan aktifis yang memiliki perhatian yang sama, yang tentu sudah dilakukan,” papar Gus Rozin, sapaan Abdul Ghafar Rozin.

Hal yang paling penting dari semua program, menurut Gus Rozin, adalah menerjemahkan hasil peneletian, diskusi, atau kegiatan apa pun itu menjadi langkah-langkah kongkrit dan terukur. Rekomendasi perlu disampaikan kepada para partner sehingga tercapai sinergitas yang bekelanjutan. (Baca tulisan menarik: Asal-usul Pesantren Jawa)

Silaturahim dan buku, dua hal yang berbeda, tapi tak terpisahkan dalam tradisi PSP
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top