Sedang Membaca
Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Kholilul Rohman Ahmad
Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Dewasa ini eksistensi pesantren mengalami peningkatan pesat. Banyak sekali faktor mengapa pesantren hari ini begitu populer, berbeda kondisi pesantren semasa Orde Baru berkuasa. Salah satu kuncinya adalah Gus Dur. Mengapa Gus Dur?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Karena Gus Dur alumni sejumlah pesantren di Jawa, paham pesantren, tidak lupa pesantren, mempopulerkan pesantren dengan sekuat tenaga, dan akhirnya beliau mendapat berkah pesantren. Apa berkah yang diterima Gus Dur dari pesantren?

Menjadi presiden, menjadi orang nomor satu di republik ini. Inilah salah satu yang membuat pamor pesantren naik, faktor yang susah sekali dibantah. Tentu saja Gus Dur bukan satu-satunya. Kita bisa menyebut satu nama lagi misalnya, sebagai representasi kaum modernis. Siapa dia almarhum Cak Nur. Ya, Nurcholis Madjid. Tak lain sahabat Gus Dur sendiri, sama-sama dari jombang. Bedanya, Gus Dur alumni sejumla pesantren tradisional, antara lain pesantren Tegalrejo, Magelang. Semenara Cak Nur, alumni Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Gus Dur dan Cak Nur adalah contoh tokoh nasional berlatarbelakang pesantren untuk menggambarkan bahwa pesantren bukan hanya sebagai lembaga yang menjunjung tinggi normativitas. Namun lebih dari itu pesantren telah menapaki jalan sejarah (historisitas) sebagai bagian tak terpisahkan dari konteks kebangsaan. Pun untuk menemukan bukti tentang peranan pesantren di setiap lini kehidupan dewasa ini bukan perkara sulit. Baik bukti berupa fisik lembaga pesantren itu sendiri di berbagai tempat maupun literatur tentang pesantren.

Baca juga:  Santri, Ikan, dan Malaikat

Banyak indikasi tentang keberadaan pesantren di setiap lini kehidupan. Banyak literatur tentang pesantren, pemikiran pesantren, gerak politik kaum santri, sejarah Pesantren Lirboyo (Kediri, Jawa Timur) yang berhasil menekan laju gerakan komunis di Karesidenan Kediri, Pesantren Langitan (Widang, Tuban, Jawa Timur) dengan KH Abdullah Faqih yang menjadi sentral konsolidasi para kiai dalam forum Poros Langit, keberhasilan KH Arwani (almarhum almaghfurlah) lewat Pesantren Krapyak Jogja dan Pesantren Yanbu’ul Qur’an (Kudus, Jawa Tengah) dalam menelorkan ratusan pesantren yang khusus untuk para penghafal Alquran.

Pertanyaannya: apa sesungguhnya pesantren itu, dari mana asal-usulnya, bagaimana riwayat berdirinya, siapa tokoh-tokoh yang memunculkannya, dalam konteks apa ia dapat berkembang pesat, dan sejak kapan ia mampu eksis di tengah berbagai pergolakan politik?

Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan itu dengan bersandar dari satu buku agak lama terbitan Kementerian Agama RI. Buku ini hasil penelitian Hanun Asrahah, Kustini, Amin Haedari, dan Marta Hendra. Buku ini hanya sekitar 200 halaman, tapi sudah cukup untuk memberikan informasi kepada kita tentang pesantren, khususnya di Jawa.

***

Halaman: 1 2 3 4
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top