Pendaftaran Workshop Menulis

Antara Seniman dan Dai: Beban Ganda Dalang dalam Seni Wayang Kontemporer

Suraji

Sebagai produk budaya, wayang dan pertunjukannya masih dianggap masyarakat sebagai kreasi seni yang bernilai tinggi dengan segala kerumitannya. Karena memadukan keahlian seni gerak, suara, musik, sastra dalam sebuah lanskap pertunjukan. Tantangan kerumitan inilah yang selalu menyertai setiap kali wayang akan dipertunjukkan, dan upaya untuk mempertahankan citra keagungannya dalam melintasi setiap zaman.

Proses konservasi terhadap budaya wayang seperti berhadapan dengan tembok tebal. Karena bahasa komunikasi yang digunakan oleh dalang adalah bahasa Jawa Kuno (kawi) atau bahasa Jawa Tinggi, sehingga hanya bisa dipahami oleh segelintir orang. Sementara di luar itu, upaya mengajarkan bahasa pewayangan ini tidak kunjung dilakukan secara massif di lembaga-lembaga pendidikan, sehingga keberadaannya tetap di luar pemahaman awam.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di sisi yang lain, wayang oleh masyarakat juga masih dianggap –atau setidaknya meninggalkan kenangan– sebagai medium untuk berdakwah, seperti yang pernah dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa. Inilah yang menyebabkan seorang dalang seakan menanggung beban ganda dalam fungsi sosialnya; sebagai seniman di satu sisi dan sebagai dai di sisi yang lain.

Salah satu ciri hidup zaman modern adalah pembedaan manusia berdasarkan peran atau fungsi yang dikerjakannya. Konsekuensi akan hal ini mempengaruhi pembedaan di ranah kerja dakwah dalam menyampaikan ajaran agama. Masyarakat hanya melihat kerja berdakwah sebatas apa yang dilakukan oleh para dai yang menyampaikan ceramah ke publik.

Baca juga:  Hikayat Soetedja, Wajah Muram Dunia Musik Indonesia

Sementara metode penyampaian ajaran dengan metode yang lain: seperti ngaji kitab di majlis taklim, terjun langsung melakukan pendampingan masyarakat, atau melalui pentas seni pertunjukan, kurang dianggap sebagai aktivitas dakwah.

Dalam konteks sosial budaya seperti itulah, apresiasi yang tinggi layak disampaikan kepada para dalang atau pegiat wayang yang berusaha mengatasi segala tantangan tersebut. Beberapa inovasi telah dilakukan oleh para dalang, baik dalam menampilkan konsep secara keseluruhan pertunjukan wayang yang disajikan, maupun pengembangan sebagian saja dari pertunjukan tersebut, sebagai upaya untuk beradaptasi dengan berkembangnya medium dan penerimaan khalayak masyarakat.

Sebut saja Entus Susmono (almarhum) dengan membuat Wayang Santri, yang pernah digagas dan diperankan pada awa 90-an, dan mendapatkan ruang pementasan lebih leluasa setelah tahun 2000-an.

Dia menampilkan wayang yang sama sekali berbeda (baru) dari wayang konvensional dengan segala cerita dan pakemnya. Entus membuat karakter Lumpit dan Slentheng sebagai prototype karakter orang biasa, orang pinggiran. Dunia wayang yang tidak hanya berlatar cerita perebutan tahta kekuasaan antara Pandawa dan Kurawa yang berujung perang Baratayuda.

Hal yang sama dengan terobosan spektakuler pernah dilakukan oleh Slamet Gundono (almarhum) dengan Wayang Suket yang kerap ditampilkan. Bahkan pentas digelar tidak di panggung terpisah, tapi melebur di tengah-tengah audiens tanpa jarak. Karakter tokoh yang ditampilkan pun berubah-ubah sesuai dengan momentum dan konteks waktu.

Baca juga:  Picknikustik, Ngaji Unik Dakwah Asyik

Terobosan model seperti ini menjadi saling menginspirasi aktor seniman yang lain, seperti Jlitheng Suparman dengan Wayang Tetangga Sebelah yang menghadirkan tema rakyat kecil dalam lingkup kewargaan yang lebih kecil, kampung atau bahkan RT/RW. Atau Jumali dengan Wayang Wolak Walik dengan menghadirkan tema-tema kritik sosial dengan memotret problem kemasyarakatan, seperti soal kerusakan lingkungan yang butuh disikapi oleh publik secara kultural maupun struktural.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari sini dapat dikatakan bahwa dunia wayang menjadi lebih cair dan terbuka dengan tetap membawa misinya sebagai medium transmisi nilai-nilai kebajikan, dan tetap menampilkan aspek hiburannya (entertainment).

Kembali ke masalah beban ganda yang dialami oleh seorang dalang, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Kita bisa maklumi jika kemudian seorang dalang secaraa khusus menghadirkan sesi penyampaian pesan-pesan keagamaan dalam pementasannya. Biasanya dilakukan dengan menyisipkan nasihat-nasihat keagamaan yang dibungkus melalui dialog (cakepan) antara guru (pandhita) dengan tokoh ksatria dalam adegan wayang. Bahkan Ki Anom Suroto, misalnya, secara khusus menggubah lagu Pepeling yang berisi ajaran rukun Islam; syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, yang biasa dibawakannya dalam adegan Limbukan atau Goro-goro oleh dirinya sendiri dan dipopulerkan oleh dalang-dalang yang lain.

Selain itu, peran di luar pertunjukan juga dimainkan oleh para dalang dengan hadir dalam forum pengajian umum masyarakat. Dalang seperti Entus Susmono almarhum, Manteb Sudarsono, termasuk belakangan dalang Sukron Suwondo hadir di forum pengajian untuk menyampaikan siraman kerohanian. Seakan mereka hendak menampilkan sisi lain dari dalang yang juga berperan sebagai juru dakwah.

Baca juga:  Pelajaran dari Penguin of Madagascar

Sementara dalam dunia pakeliran, upaya menampilkan misi kerohanian tetap tidak ditinggalkan oleh para dalang, bahkan yang tergolong muda seperti Sigid Ariyanto, Seno Nugroho, Bayu Aji, Cahyo Kuntadi, dan yang lain. Lakon-lakon maneges atau peneguhan jati diri kehambaan terhadap Tuhan, menjadi cerita yang makin digemari di tengah kekeringan rohani, seperti lakon Semar Maneges, Anoman Maneges, Bima Maneges, Wisangggeni Maneges, dan seterusnya. Bahkan tema-tema seperti Pandhawa Swarga, Pandawa Syukur, yang sering ditampilkan belakangan ini sangat kental dengan nuansa nilai-nilai sufistik dan keagamaannya.

Dengan demikian, fungsi ganda sebagai seniman sekaligus dai yang telah diperankan oleh para dalang layak untuk didukung, diapresiasi dan disambut baik khalayak luas.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top