Penulis Kolom

Esais dan Cerpenis generasi milenial, menjadi guru sastra di pedalaman Banten Selatan

Menjemput Keabadian di Negeri Swiss

Whatsapp Image 2022 06 07 At 00.23.51

Film A Cure for Wellness (2017) bercerita tentang suatu lokasi misterius di pegunungan Alpen (Swiss) yang mengalirkan sungai Aare, sebagai salah satu tempat wisata menakjubkan bagi warga Swiss dan masyarakat Eropa, khususnya di musim-musim panas. Dimulai ketika seorang karyawan New York, Amerika Serikat, bernama Lockhart (Dane DeHaan) dikirimkan ke tempat rehabilitasi kebugaran dan kesehatan bernama “Wellness Spa” untuk menjemput bos-nya yang sedang menjalani pengobatan di negeri itu.

Namun, sang bos ternyata menghilang secara misterius di pusat rehabilitasi tersebut. Lockhart penasaran dan mencoba untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang keberadaan sang bos. Karyawan Amerika itu menyadari bahwa dirinya telah terjebak hingga tersandera, menjadi tawanan yang diperlakukan para elit Wellness Spa, guna dijadikan sampel bagi eksperimentasi pengobatan yang sedang menjadi proyek raksasa mereka.

Dibalut dengan suasana seram dan magis, A Cure for Wellness dikemas dengan metafora kecemasan terhadap virus dan penyakit yang merajalela, tentang bagaimana masyarakat lebih senang untuk menjadi overmedicated. Film ini seakan menyangsikan fenomena negeri Swiss yang konon menjadi pusat penimbun harta bagi para konglomerat dan pengusaha dunia, namun di tangan sutradara Gore Verbinski dikemas sedemikian apik dan menarik. Gore telah sanggup mencurahkan kemampuan sineas, hingga mampu menampilkan wajah Swiss dalam balutan imajinasi yang cantik, elok, namun sekaligus surrealis dan menyeramkan.

Mencari tumbal

Roland Pembroke (Harry Groener), pengusaha dan konglomerat Amerika Serikat, kini tengah menetap di wilayah pegunungan Alpen. Entah apa yang mendasari keputusan Pembroke, namun ia meninggalkan New York secara tiba-tiba untuk tinggal di pusat rehabilitasi milik dr. Heinreich Volmer (Jason Isaacs). Kedatangan pemuda Amerika, Lockhart, seakan telah menjadi agenda terselubung yang kelak menjadi target malapraktek yang telah direncanakan mereka.

Baca juga:  Merindukan Kisah-kisah Cina dalam Panggung

Lockhart telah membaca keganjilan di pusat rehabilitasi yang kemudian dikenalnya sebagai proyek ambisius untuk memperpanjang umur manusia. Ketika ia meninggalkan tempat itu, masih di sekitar pegunungan Alpen ia mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya tak sadarkan diri selama tiga hari. Di sisi lain, para mitra kerjanya di New York bertanya-tanya tentang kehilangan karyawannya di Swiss, dengan berbagai siasat licik dari Wellness Spa, yang kemudian menjadikan pemuda Amerika itu sebagai model dan sampel untuk uji-coba “cairan misterus” yang mereka proyeksikan.

Agar Lockhart merasa betah tinggal di pusat rehabilitasi, ia diperkenalkan dengan gadis cantik bernama Hannah (Mia Goth). Rasa penasaran muncul ketika Lockhart menyadari bahwa Hannah selalu meminum cairan dari botol kaca biru yang konon dapat memperkuat imunitas dan kekebalan tubuh manusia.

Ia pun menyaksikan kalangan lansia di Wellness Spa yang banyak mengalami dehidrasi parah. Padahal, mereka selalu meminum air dan cairan istimewa yang dipercaya mengobati berbagai macam jenis penyakit, serta mampu memperpanjang umur manusia.

Eksotisme menyeramkan

Melalui penokohan Heinreich Volmer, kita diingatkan kembali pada sosok ambisius yang merupakan kaki-tangan Hitler (Heinreich Himmler) dengan para kroninya yang mengenakan baju seragam putih-putih. Siapakah mereka itu? Siapakah para dokter dan insinyur social engineers yang mengutak-atik cairan obat di pusat-pusat laboratorium itu? Siapakah mereka yang menanam elektroda ke dalam otak-otak manusia, lalu mendeteksi segala pikirannya yang serba misterius?

Baca juga:  Belajar dari Film Iran (4): Heartbroken, Film yang Iran Banget

Siapakah mereka yang mengobservasi sepasang pria-wanita yang bersetubuh, untuk dibuatkan statistiknya mengenai gerak dan getaran dua sejoli, sebagaimana kita mengobservasi dua ekor jangkrik yang sedang diadu? Siapa lagi kalau bukan mereka, yang merancang gen-gen yang dimanipulasi sedemikian rupa, seperti halnya ikan-ikan duyung militer Jepang, yang menjadi pilot-pilot Kamikaze dulu?

“Tak usah bicara soal moral, karena ilmuwan dan para dokter hanya mencari soal kemungkinan dan solusi akan kepastian,” ujar dr. Volmer.

Lalu, benarkah asumsi yang diajukan Sartre sebagai filosof dan sastrawan besar Eropa (Prancis), bahwa manusia akan kehilangan jati-dirinya manakala ia telah kehilangan obsesinya akan keabadian? Di mana batasan antara ikhtiar manusia dengan hak prerogatif Sang Pencipta, di saat manusia tak punya kewenangan untuk memasuki wilayah dan pengetahuan-Nya yang maha luas ini?

Gambaran pegunungan Alpen yang mengaliri sungai Aare dalam A Cure for Wellness adalah suatu tempat dan lokasi misterius yang menyimpan sejarah tentang banyaknya orang-orang hilang (atau dihilangkan?) oleh ambisi-ambisi kapitalisme sebagaimana teror-teror belagerung dalam obsesi imperielisme Eropa yang tergambar dalam novel-novel Bertold Brecht.

Sungai Aare adalah bagian dari sejarah kuno dan diakuisi sebagai warisan budaya dunia (Unesco). Sebagaimana hilangnya seorang mahasiswa Untirta yang tergambar dalam cerpen “Tragedi di Kebun Solear” (www.kabarmadura.id), keindahan dan kemolekan sungai Aare terus menjadi tujuan para wisatawan dan penduduk Kota Bern untuk menghabiskan waktu di musim panas sembari menikmati pemandangan kota tua yang indah.

Baca juga:  Semangat Toleransi dalam Sinema Lintas Ruang (4): Zootopia, Simbol Jinaknya Mayoritarianisme di Negeri Pluralistik

Di sekitar sungai Aare, terdapat air terjun Handegg yang megah dan eksotik, dengan ketinggian 46 meter, melintasi sepanjang wilayah Guttannen. Di sisi sungai, terdapat 40 pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Di abad pertengahan, ketika Kota Bern hanya tersebar di bagian bawah semenanjung, sungai Aare memberikan perlindungan besar dari tentara asing di tiga sisi kota. Di sekitar itu, terdapat bangunan-bangunan sisa perang dunia, sebagaimana puing-puing bangunan tak terjamah dalam film peraih Oscar, The Shape of Water (2018).

Film A Cure for Wellness menyibak keindahan panorama di sepanjang pegunungan Alpen hingga Kota Bern, dengan ending yang cukup tragis lantaran kebakaran besar akhirnya melanda proyek ambisius di bidang kedokteran itu. Lockhart meninggalkan Wellness Spa tanpa membawa bos perusahaannya menuju New York, karena ia dipastikan tewas bersama dengan para penghuni pusat rehabilitasi itu.

Apa yang tergambar dalam pesan moral film ini, tak lain adalah peringatan “juggernaut” sebagai kepastian hukum alam, yakni suatu kehidupan megah dan galmor, serta eksotisme dunia hiper modern yang pada akhirnya membinasakan dan menghancurkan dirinya sendiri. ***

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top