Sedang Membaca
Kisah Sunaun, Petani Kabupaten Pati Naik Haji
Penulis Kolom

Founder Alif.ID. Menulis dua buku humor; Humor Ngaji Kaum Santri (2004) dan Ulama Bercanda Santri Tertawa (2020), dan buku lainnya

Kisah Sunaun, Petani Kabupaten Pati Naik Haji

20220606 110450

“Saya bersyukur sekali bisa naik haji. Waktu masih muda ya tidak terpikir. Wong saya ini sembayang 5 waktu saja baru mulai umur 25 tahun. Almarhum bapak saya malah tidak sembayang, orang kampung sini jauh dari agama, dulu yang ke musala aja tidak ada.”

Demikian disampaikan Sunaun, seorang yang umurnya dihabiskan di sawah. Tanggal 10 Juni nanti berulang tahun ke-57. Ini akan jadi momen istimewa dan tak terlupakan baginya, karena pas ulang tahun ada di Madinah. Sunaun adalah anak kedua dari 6 bersaudara. Dia lahir di Pati tanggal 10 Juni 1965 dari pasangan almarhum Ngasiyo-Fatimah.

Sonaun masuk Embarkasi Solo tanggal 3 Juni. Sebelum berangkat, orang kampung diundang untuk acara walimatus safar. KH Amir, tokoh NU setempat memimpin acara. Saking senangnya bisa berangkat haji, Sonaun enteng saja mengeluarkan tidak kurang dari 20 juta untuk acara tersebut. “Ini rasa syukur saya dan istri, Mas..” katanya. Pulang haji juga akan ada syukuran lagi.

Dia tergabung dengan kloter 1, Embarkasi Solo yang berangkat dini hari tanggal 4 Juni, puk 00.30 WIB, tiba di Bandara Amir Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, 4 Juni 2022.

Saat saya temui Senin pagi, 6 Juni 2022, Sunaun sedang beristirahat di kamarnya bersama 4 jemaah lain dari Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Sunaun sendiri berasal dari Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dia jemaah haji satu-satunya dari Desa Brati.

Sebagaimana umumnya masyarakat Kecamatan Kayen, Sunaun berprofesi sebagai petani. Tapi dia terbilang petani yang istimewa, karena memiliki sawah 1 hektar. Selain itu, istri Sunaun, bernama Kusriwati (47 tahun) bekerja di toko kelontong miliknya. Ikhtiar pasangan yang sama-sama bekerja ini yang membuat Sunaun yang cuma petani dan Kusriwati.

Baca juga:  Ajaran Tasawuf dalam Laku Gus Dur

“Hasil tani saya ditabung. Kebutuhan hidup sehari-hari dari istri yang pedagang kelontong,” terang bapak 3 anak dan 2 cucu ini.

Sunaun menceritakan kepada saya bahwa dirinya mendaftar haji tahun 2011 dengan total setoran untuk suami-istri sebesar 50 juta. “Beruntung sekali istri saya itu jualan, jadi saya bisa nabung,” tegasnya.

Saat Sunaun menceritakaan peran istrinya beberapa kali, saya punya kesan pasangan suami-istri ini amat harmonis, bahu-membahu, tidak menafikan peran masing-masing. Sayang sekali, saya belum bisa menjumpai Kusriwati, karena keduanya tinggal di kamar berbeda. Selama di tanah suci, suami-istri memang tidak tinggal sekamar.

Pembayaran haji dilunasi awal tahun 2020  sebelum Covid-19 mengguncang Tanah Air. Suami istri membayar masing-masing 11. 250.000 rupiah. Biaya haji total 36,3 juta.

Kisah Pertanian

Untuk ukuran petani di Kecamatan Kayen, Sunaun tidak masuk golongan petani kecil, karena dia menggarap lahan seluas 5 hektar. Sunaun menanami lahannya dengan padi dan jagung. “Pernah menanam bawang tapi gagal, harganya anjlok. Setelah itu, saya tanami padi dan jagung terus.”

Sekarang dia baru menanam jagung, akan dipanen bulan Oktober. Bulan Nopember sawah akan ditanam padi yang panen di bulan setelah musim tanam. Setelahnya akan ditanam padi lagi, yang panennya bulan Mei. Begitu siklus pertanian Sunaun dalam setahun. Hasil panen dijual, sedikit saja yang disimpan untuk konsumsi harian.

Sunaun termasuk petani yang beruntung, karena 1 hektar sawah dari 5 hektar yang digarap punya sendiri. “Yang setengah hektar warisan orang tua, setengahnya lagi saya beli sendiri, dari jual sapi pejantan 3 ekor, gemuk-gemuk. Awal tahuan 1990an, saya jual 2 juta dan hasilnya dibelikan sawah setengah hektar,” ungkapnya.

Baca juga:  Pelopor Modernisasi Pendidikan Islam (1): At-Tahtawi

Sunaun masa anak-anak adalah seorang penggembala, baru saat menginjak remaja, Sonaun membantu ayahnya di sawah. “Yang bantu bapak di sawah cuma saya, karena kakak saya perempuan, sementar 4 adik saya masih kecil.”

Sunaun mengaku pengahasilannya dari dunia pertanian selama setahun sekitar 250 juta: keuntungan 100 juta, biaya produksinya 150 juta. “Penghasilan saya 250 juta setahun itu rata-rata ya, jika sedang panen bagus dan harganya bagus,” katanya.

Ikhtiar Sunaun di bidang pertanian tidak cuma menghantarkannya ke tanah suci menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga berhasil membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan lebih baik darinya yang cuma lulusan SD, begitu juga istri, cuma lulusan SD. Selain sekolah, anak-anaknya juga mendapatkan pendidikan agama di pesantren.

Anak pertamanya (Siti Mutmainnah) dan anak keduanya (Muhammad Yusuf) alumni Pesantren An-Nur Mojolawaran, Gabus, Pati. Pesantren ini didirikan oleh KH Nur Kholis. Anak terakhirnya, Abdul Hidayat, masih nyantri di Pesantren Al-Kholil, Pasuruan, Kayen, Pati. “Awalnya di Kudus, tapi musim korona saya pindah yang dekat rumah saja,” katanya.

Sebetulnya, yang memberi penjelasan lengkap anaknya nyantri di mana dan kiainya siapa bukan Sunaun, tetapi teman-teman sekamarnya di pemondokan Madinah. Sunaun sendiri antara ingat dan lupa atau karena tidak akrab dengan nama-nama pesantren. Untung saja, 4 temanya mengerti pesantren yang dimaksud Sunaun. 4 temannya Sonaun bernama Mat Sholeh (56 tahun), Arip Suparjo (54 tahun), Sudarmin (61 tahun), dan Sagiman (61 tahun). Kecuali Sagimin yang sedang istirahat, obrolan di kamar pemondokan dengan Sonaun berjalan gayeng dan akrab. Mereka saling menimpali dengan santai. “Saya tidak bisa merokok di dalam,” kata salah satu dari mereka disambut tawa.

Baca juga:  Menyambangi Makam Sosrokarto, Mengingat Arya Papak

Meminjam istilah Clifford Geertz Sonaun sekarang telah menjadi santri seutuhnya, yakni telah melaksanakan 5 rukun Islam. Yang dulu tidak sembayang, sekarang sembayang, yang dulu tidak puasa, sudah puasa. Bahkan saat jelang umur 50 aktif di pengajian Yasinan dan Tahlilan.

Lebih dari itu, anak-anaknya telah menyandang nama dari bahasa Arab semua, bahkan mengenyam pendidikan pesantren. “Yang kasih nama anak-anak saya sendiri, persetujuan istri.” Kisah perubahan dari “abangan” menjadi “santri” tidak berhenti sampai situ. Anak pertamanya, perempuan, bernama Siti Mutmainnah (L. 1993) telah menjadi guru di TPQ dan suaminya guru agama di Pesantren An-Nur.

“Saya menyesal tidak bisa mengaji. Sampai sekarang saya harus mikir jika ditanya batalnya wudu apa saja. Tapi Alhamdulillah anak saya mengerti agama tingkat dasar, bahkan Siti Mutmainnah ngajar di TPQ, suaminya guru di pesantren. Anak kedua Muhammad Yusuf (lahir 1998), tamat SMA. Sekarang sudah kerja jadi tukang kayu. Dia tidak mau disekolahkan gak mau. Abdul Hidayat yang lahir 2003 masih mesantren,” jelasnya.

Setelah berbincang-bincang lebih dari satu jam, saya sampaikan kepadanya, “Pak, hidup Sampean sepertinya sudah sempurna..”

Sunaun merespons, “Ya belum, dan tidak ada yang sempurna. Orang tua saya diampuni dosa-dosanya. Doakan saya juga Mas, setelah haji nanti saya bisa istikamah menjalankan kebaikan, terutama salat. Mempersiapkan untuk mati.”

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top