Suryatiningsih
Penulis Kolom

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tinggal di Magelang

Sejarah dan Asal-usul Dinasti Umayyah

Pada tahun 661-750 M di Jazirah Arab, berdiri Dinasti Umayyah, atau kekhalifahan Umayyah, yang saat itu beribukota Damaskus. Pemerintahan Dinasti Umayyah, terus berlanjut dari 756 sampai 1031, dengan ibukota Cordoba, Spanyol, sebagai Kekhalifahan Cordoba.

Asal-usul nama dinasti Umayyah, berasal dari nama kakek khalifah pertama, yaitu: Muawiyah bin Abu Sufyan, atau disebut Muawiyah I. Dinasti Umayyah, mulai terbentuk sejak terjadinya peristiwa perang takhin pada perang Shiffin.

Perang ini menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman bin Affan, pada perang Jamal. Perang Jamal, terjadi antara Ali bin Abi Thalib, dengan kelompok Aisyiah RA, yang awalnya dimenangkan pihak Ali bin Abi Thalib. Namun, terlihat mulai membuatSaid.agat  kekalahan membuat Muawiyah mengajukan usul pada pihak Ali agar kembali kepada hukum Allah. Muawiyah, memang cerdik mampu memperdaya Ali bin Abi Thalib, dengan taktik dan siasat, hingga akhirnya, ia mengalami kekalahan secara politik .

Setelah usai perang Shiffin, ada peristiwa lain yang tidak kalah  mengejutkan, yaitu peristiwa terbunuhnya  Ali bin Abi Thalib. Pasca meninggalnya Ali bin Abi Thalib, dan  orang-orang Madinah, kemudian membaiat Hasan bin Ali. Namun, Hasan bin Ali menolaknya, dan menyerahkan kekhalifahan ini kepada Muawiyah bin Sufyan .

Ia memiliki alasan sendiri  mempercayakan jabatan khalifah kepada Muawiyah, yaitu mendamaikan kaum muslimin yang saat itu sedang dilanda bermacam fitnah. Dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal, terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, serta penghianatan dari orang-orang Khawarij.

Umayyah, Dinasti Dua Keluarga

14 orang khallfah yang terdiri dua keluarga, yaitu tiga orang dari  keluarga Harb, dan 11 orang Dar Abi Al-Ash ini memimpin pemerintahan Umayyah sejak 661-750 M. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah khalifah pertama dinasti Umayyah, dari tahun 661-679 M.

Di masa pemerintahan Muawiyah, ekspansi ke luar wilayah Tunisia, kemudian ekspansi ke wilayah timur meliputi Khurasan, Afghanistan sampai Kabul. Setelah Muawiyah meninggal dunia digantikan Yazid bin Muawiyah (Yazid I) 679-683 M, yang kemudian meninggal dunia tahun 683 M. Penggantinya Muawiayah II diangkat oleh penduduk Suriah sebagai khalifah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun, hanya  berlangsung 40 hari alasan kesehatan membuat, Ia mengundurkan diri, dan mengurung diri sampai wafatnya tiba. Pengunduran Muawiyah II, sebagai:tanda akhir kekuasaan  dari garis keluarga Harb bin Umyyah. Pasca Muawiyah II, terjadi perpecahan di kalangan Bani Umayyah,yang nyaris melenyapkan kekuasaan mereka.

Hal ini terjadi adanya fanatisme kesukuan berlebihan, yaitu kelompok Arab Utara mendukung Abdulah bin Zubair, yang memberontak  pada masa pemerintahan Yazid I, dan mendapat pengakuan luas setelah kematiannya.

Sementara itu, kelompok Arab Selatan  yang mendukung Bani Umayyah, terpecah menjadi 2 golongan, yaitu: golongan pertama, yang menghendaki Khalid bin Yazid menjadi khalifah, sedang golongan kedua, menghendaki Marwan bin Hakam, sepupu jauh Muawiyah II. Kedua golongan akhirnya sepakat mengangkat Marwan bin Hakam menjadi  khalifah, kemudian dilanjutkan Amr bin Said.

Pesan Kerudung Bergo

Namun, yang terjadi ketika Marwan I posisi khalifah diserahkan kepada putranya, Abdul Malik. Sebelum meninggal Marwan I, memang menunjuk dua puteranya menggantikannya berturut-turut Abdul Malik, dan Abdul Aziz. Pemerintahan Abi Al-Ash bin Umayyah,  berakhir berakhir, ketika Marwan II terbunuh dalam pertempuran kecil, dengan pasukan Bani Abbasiyah di Mesir menandai berakhirnya  kekuasaan Dinasti Umayyah. 

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, meski sering terjadi perebutan kekuasaan antar kedua keluarga. Ada beberapa khalifah yang sangat berpengaruh, yaitu:Al-Walid bin Abdul Malik Umar bin Abdul Aziz.Di bawah pemerintahannya ekspansi  wilayah dilakukan secara besar-besaran,hingga kekuasaan Islam meluas sampai Spanyol.

Pemerintahan yang berjalan 10 tahun, Ia melakukan ekspansi dari Afrika Utara menuju benua  Eropa tahun 711 M sampai Aljazair, Maroko, akhirnya wilayah Spanyol„Cordoba.Kesemuanya itu, atas pasukan yang  dipimpin oleh Thoriq bin Ziyad.

Di zaman Umar bin Abdul Aziz, wilayah kekuasaan Islam terus di ekspansi ke daerah Perancis, melalui pegunungan Pirenia, dan daerah pulau-pulau di Laut Tengah, atau  Mediterania juga jatuh ke tangan Islam, pada zaman Bani Umayyah ini. Ekspansi terus dilakukan ke beberapa wilayah membuat kekuasaan Islam, sangat luas dari Spanyol,Afrika hingga sebagian Asia  kecil dan Afghanistan.

Selain gencar ekspansi wilayah, Dinasti ini untuk pertama kalinya mendobrak sistem pemilihan pemimpin yang awalnya dijalankan secara musyawarah mufakat menjadi sistem keluarga, atau monarki. Sistem monarki, mengadopsi tradisi sistem kerajaan pra Islam di Timur Tengah. Indikasi suksesi kepemimpin turun temurun pada Bani Umayyah, terlihat dari sikap Muawiyah, mewajibkan seluruh rakyatnya setia terhadap anaknya, Yazid. Perintah Muawiyah, bukti sebagai bentuk pengukuhan terhadap sistem pemerintahan turun temurun yang di bangun Muawiyah.

Perubahan sistem keluarga yang digulirkan di masa Kekhalifahan Umayyah, kemudian menjadi awal munculnya pemahaman beragam dalam masalah teologi, termasuk Syiah, Muawiyah,dan Khawarji. Tiga aliran teologi tersebut sudah mulai muncul sejak akhir pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Masa Kejayaan Umayyah

89 tahun berkuasa 661-750 M, Dinasti Umayyah mencatat banyak kemajuan berbagai bidang mulai dari perekonomian, sains, seni, arsitektur, dan inilah masa kejayaan Bani Umayyah. Perkembangan seni sastra di masa ini meningkat pesat terlihat beberapa bidang seni  mulai seni tari, seni rupa, arsitektur, hingga bahasa.

Dinas pos,  dan  tempat-tempat, dengan menyediakan kuda yang lengkap, dan peralatannya di sepanjang jalan dibangun oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufwan. Pada masa ini jabatan khusus seorang qadhi berkembang menjadi profesi tersendiri.

Bani Umayyah, di masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan Bani Umayyah, berusaha mempertahankan kemurnian bangsa Arab,mereka berusaha  meninggikan derajat bangsa Arab, sebagai bangsa penguasa. Dasar pemikiran yang demikian ini,  kemudian Bahasa Arab menjadikan, sebagai bahasa resmi negara, dan semua perintah, maupun peraturan resmi memakai bahasa Arab.

Dari sinilah, kemudian tumbuhlah ilmu Qawaid, dan ilmu lain untuk mempelajari bahasa Arab.

Dinasti ini juga memiliki mata uang tersendiri, dengan mengubah mata uang Bizantium, dan Persia tahun 659 M. Mata uang ini  memakai kata-kata dan tulisan Arab.

Bidang arsitektur menjadi salah satu peninggalan Bani Umayyah, setidaknya ada 3 bangunan arsitektur, yaitu:Pertama, Masjid Kubah Batu, adalah bangunan yang terletak di tengah-tengah kompleks Al-Haram Asy-Syarif, Masjid Al-Aqsa. Pembangunan masjid ini dimulai ketika Yerusalem jatuh ke tangan kekuasaan Islam, pada era Khalifah Umar bin Khattab.

Kedua, Istana Kusair Amra merupakan peninggalan arsitektur di masa Umayyah, dulu yang sempat hilang.vNamun, tahun 1898 ditemukan kembali oleh Alois Musil. Saat ditemukan ruang singgasana, dan pemandian  masih bisa ditemukan. Dinding bagian dalam dihiasi fresko khas Yunani-Romawi,yang dibangun pada pemerintahan Al-Walid 712-715 M.

Ketiga, masjid Agung Umayyah, yang memiliki cirilikhas  kombinasi budaya Romawi, dan Islam,dibangun tahun 705-714 M. Biaya pembangunan diambil dari pajak lahan pertanian yang dipungut pemerintahan Dinasti Umayyah. Pembangunan masjid tersebut melibatkan seniman, dan tukang bangunan berbagai negeri mulai Persia,India,Bizantium, hingga Afrika Utara,

Tiga Ciri Khas Pakaian Dinasti Umayyah

Pada masa Dinasti Umayyah, setidaknya terdapat 3  karakteristik pakaian wanita yang digunakan masyarakat ketika itu yaitu:Pertama, tiraz yang biasa dipakai oleh pejabat negara yang duduk di mahkamah, dan orang-orang yang dekat khalifah. Biasanya mereka, adalah:orang-orang terhormat yang mendapatkan pengawalan khusus agar terlindungi

Kedua, kerah, dan manset bermotif ini,disebut sebagai fitur pakaian raja. Pakaian ini membentuk bagian dari lambang kekhalifahan. Patung plester yang menggambarkan penguasa dalam pakaian, Sasanid mengabadikan pakaian Khalifah Umayyah  yang sebenarnya. Warna pakaian Dinasti Umayyah, adalah:putih melambangkan kesucian dilengkapi penutup kepala yang dinamakan Qalansuwa,sehingga dikenali orang.

Geliat Ekonomi di Zaman Bani Umayyah

Letak wilayah ibukota Dinasti Umayyah, berada  Damaskus dipandang strategis secara ekonomi. Daerah ini, merupakan pelabuhan penting di kawasan Timur Tengah. Sementara Baitul Mal terbagi menjadi dua, yaitu: bagian umum bagi seluruh masyarakat, dan bagian bagi sultan beserta keluarga. Praktik dalam penyaluran Baitul Mal saat itu, seringkali menyimpang, sehingga sejumlah dana tidak teralokasikan dengan baik.

Pembangunan ekonomi di masa Umayyah melalui percetakan mata uang khusus.Tidak sampai disini, beberapa jabatan dikembangkan jabatan profesional seperti hakim, sehingga memperbesar lapangan kerja kepada masyarakat Muslim. Gaji tetap kepada tentara berdampak peningkatan kesejahteraan tentara Muslim. Pengumpulan pajak dan adminitrasi dimasa Muawiyah bin Abi Sufwan sebesar 2,5%, dari pendapatan setiap muslim menjadi sumber pendapatan negara 

Runtuhnya Dinasti Umayyah

Baca juga:  Tayyib: Sejarah Ide Cita Rasa dalam Islam

Kemajuan yang dicapai Dinasti Umayyah, tidak disukai oleh kelompok-kelompok yang merasa puas terhadap pemerintahan Umayyah, seperti Khawarji, Syiah, dan Mawali. Tidak ada kejelasan sistem.dan ketentuan pergatian khalifah menjadi penyebab ketidakpuasan tersebut.

Keluarga kerajaan saling bersaing secara tidak adil, dan berebut dalam pemerintahan memicu adanya konflik. Selain itu, gaya hidup yang hedon, mewah sebagian keluarga di lingkungan khalifah membuat mereka tidak mampu menanggung beban negara yang berat. Konflik antaretnis atau suku Arab (Bani Qays) dan Arab Selatan (Bani Kalb) menjadi faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Scroll To Top