Ngaji Kepada Gus Baha: Mengalahkan Logika Setan

Shorih Kholid

Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha pernah menyampaikan tentang bagaimana setan menipu manusia. Menurut beliau, salah satu keahlian setan (baik dalam bentuk manusia atau jin) ialah mengubah sudut pandang. Mengubah hakikat sesuatu lewat “mbolak-balik” kalimat baik yang terucap maupun yang hanya terpikirkan manusia, sehingga sesuatu yang tidak baik sekilas nampak indah.

Misalnya sesuatu yang dalam ajaran agama Islam disebut kebaikan dan berpahala, lewat logika setan bisa berubah menjadi kesalahan yang merugikan. Dan hebatnya, setan-setan itu saling bekerja sama, berbagi ide dan cara untuk meruntuhkan argumen orang mukmin.

Alquran menyatakan di dalam Surat Al-An’am ayat 112:

“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.”

Dalam hal ini Gus Baha memberikan contoh misalnya ada anak merawat orang tua mereka yang sudah tua. Orang tuanya sakit-sakitan. Bolak-balik pulang pergi rumah sakit untuk berobat sampai menghabiskan uang banyak. Puluhan hingga ratuan juta. Bahkan, bisa jadi menjual sebagian petak sawah yang dimiliki demi pengobatan orangtua.

Dalam sudut pandang agama, perbuatan anak tersebut merupakan kebaikan. Nilai pahalanya besar dan bisa menjadi penyebab orang masuk surga.

Tetapi, dalam sudut pandang setan, kebaikan pada orang tua tersebut bisa dikatakan pemborosan karena menghabiskan uang. Toh, pada akhirnya orang tuanya meninggal juga. “Orang yang sudah tua tak perlu dirawat sehingga menghabiskan banyak biaya. Dibiarkan saja nanti akan mati sendiri. Mending uangnya dipakai untuk keperluan lainnya.” Barangkali muncul pemikiran buruk seperti ini.

Baca Juga:  Gus Baha Mengajak Kita Beragama dengan Gembira

Sudut pandang setan ini, sekilas nampak benar. Bahkan mulai diikuti sebagian kalangan  orang zaman sekarang. Tapi, sesungguhnya logika setan ini kurang ajar.

Gus Baha memberikan contoh yang lain. Misalnya, sedekah pada orang miskin. Dalam sudut pandang agama, ialah kebaikan yang bernilai pahala dan menjanjikan surga. Namun, dengan logika ala setan yang sudah tertanam dalam pikiran manusia, pandangan manusia yang baik bisa berubah.

Barangkali di dalam benaknya muncul pikiran, “Kok enak dia. Wong yang capek kerja keras itu saya sendiri, begitu saya kaya; dapat uang kok dibagi ke orang lain. Padahal, dia sama sekali tidak ada peran bantu kerja saya.”

Menurut Gus Baha, sekilas hal ini kelihatan benar, tetapi salah dalam pandangan agama.

Atau dalam kasus perjalanan umrah yang bernilai ibadah dan pahala besar. Lewat sudut pandang setan, bisa diubah 180 derajat.

Baca Juga

“Ngapain juga jauh-jauh habis duit banyak hanya untuk melihat batu kotak saja. Pakai ribet dan berdesak-desakan pula. Hanya menguntungkan Kerajaan Saudi saja. Mending duitnya buat kebutuhan lainnya.”

Logika-logika yang kelihatan “cerdas” seperti di atas, akan terus bermunculan dari mulut-mulut setan. Itu sudah ada sejak dulu. Sejak zaman Nabi Muhammad saw. Disebutkan di dalam surah Ash-Shaf ayat 8

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.”

Dalam Surah Yasin, Allah SWT menyebutkan tingkah perilaku ala setan itu. Ketika Rasulullah saw menyuruh mereka berinfak–memberikan makanan pada orang tak mampu. Setan, baik yang berasal dari kalangan jin dan manusia bersilat lidah. Argumen mereka,Ya Muhammad, kemarin kamu bilang bahwa semua di dunia ini adalah ketetapan Allah. Lha, ini pas ada orang melarat, gak bisa makan, kok malah kamu suruh kami (sedekah) memberinya makan? Bukankah itu menentang ketetapan Allah?

Gus Baha memberikan banyak contoh tentang bagaimana logika setan tertanam dalam diri manusia. Cara setan menggoda manusia seringkali memang dengan mengubah logika manusia yang seolah-olah benar dan cerdas. Padahal logika tersebut membelokkan seorang mukmin dari jalan lurus yang diridai Allah.

Lihat Komentar (0)

Komentari