Sedang Membaca
Lebaran ala Majalah “Wanita”
Penulis Kolom

Esais dan Penulis buku "Bermula Buku, Berakhir Telepon" (2016).

Lebaran ala Majalah “Wanita”

Hal paling lumrah di momentum Idulfitri adalah ucapan selamat sekaligus permintaan maaf. Saya turut menemukannya di salah satu halaman majalah Wanita edisi No.6 Tahun XIII (30 Maret 1960). Redaksi mengucapkan, “Selamat Hari Raya Idulfitri 1379 H. Maaf lahir dan batin.”

Majalah Wanita dikemudi oleh Nyonya Ruslan Abdulgani, Nyonya Pudjiati, dan Nyonya Supeni. Meski secara tersurat tidak ada pengabaran edisi khusus Lebaran, Wanita memiliki beban sosial merayakan bersama lewat ragam tulisan.

Lebaran selalu dirayakan dengan gempita dan berbahagia, tapi tidak di “Kissah Lebaran bagi Aisjah” yang menjadi tulisan pembuka majalah. Kisah Aisjah merupa kesedihan di momentum paling membahagiakan umat.

Aisjah harus sendirian menghadapi nestapa hidup, “Demikian pula keluarga Aisjah jang telah empat bulan kehilangan tulang punggung keluarganja. Hidup di masa sekarang ini terlalu mentjekam. Terlebih bagi keluarga seperti Aisjah, suami tak ada, anak² jang memerlukan bimbingan dan pemeliharaan jang sempurna, sungguh hidup seperti ini memerlukan ketabahan hati dan kesadaran.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Orang-orang menyongsong kemenangan, Aisjah justru menghadapi kematian Dida yang baru berusia 6 tahun. Maman, anak lelakinya berusia 4 tahun masih belum menyadari kesedihan yang dihadapai Aisjah. Dengan lugu, Maman meminta baju baru seperti anak-anak lain merayakan Lebaran. Keluguan ini semakin membesarkan rasa bersalah Aisjah.

Baca juga:  Manusia adalah Binatang yang Bisa Tertawa

Keluguan Maman mengingatkan puisi liris-ironis Baju Bulan (2013) milik Joko Pinurbo. Bocah perempuan ingin menambal kesedihan tidak berkeluarga dengan baju baru yang “seharusnya” lumrah didapatkan anak-anak di mana pun.

Kita cerap, Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru./ tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,/ sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan./ Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?/ Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan/ bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni/ baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,/ mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat/ menangis di persimpangan jalan…

Joko Pinurbo menampilkan bulan sebagai representasi ketinggian atau puncak religius. Ada pemberian dari langit bagi gadis kecil sebatang kara di muka bumi. Bulan dengan bajunya yang kuno menjadi sindiran atas gemerlap barang-barang dunia.

Lebaran selalu bergerak di seputar uang, baju, dan keluarga. Si bocah bahkan tidak memiliki satu pun dari ketiganya, tidak ada peristiwa membeli dan hal bernuansa baru. Impian baju baru adalah setitik impian kecil di saat Lebaran menuntut keinginan yang lebih besar dan harus diberesi dengan uang.

Tak perlu berlama dalam kesedihan Aisjah dan bocah berbaju bulan, Wanita tetap bersepakat Lebaran lekat dengan baju baru. Halaman fesyen “Badju Baru buat Upik” oleh Mhd. Arifin memberikan dua model gaun manus untuk anak-anak perempuan. Dikatakan kepada pembaca kala itu, “Badju baru bagi si Upik untuk lebaran—memang merupakan sarat mutlak. Bagi ibu² kedatangan tekstil coupon dirasakan sebagai suatu pertolongan besar. Karena ini—walaupun Lebaran baru sadja lalu—dua model badju untuk si upik jang dirantjang oleh Sdr. Moch. Arifin—ada baiknja djuga diketahui ibu² lainnja.”

Baca juga:  Bagaimana Para Ulama Menghormati Nabi Muhammad?

Kita bayangkan masa itu banyak perempuan memilih menjahit sendiri baju untuk keluarga daripada membeli baju jadi. Halaman fesyen di majalah-majalah perempuan selalu menyajikan ragam mode sebagai tanggapan atas keterampilan perempuan menjahit.

Tidak kalah sedap tentu rubrik masak “Seni Dapur” yang pasti menyajikan aneka resep kue untuk lebaran oleh Nyonya Soepono. Ada tujuh jenis kue disajikan; kue nottenkoekjes, kue cake, kue semprit, kue colombyn, kue kottetangen, kue kokis, kue roti goreng, kue kruiduk (taart bumbu). Dari penamaan, kue tampak baru dan modern secara pembuatan dan penyajian.

Kue ini tentunya menentukan kelas sosial para peraya Lebaran. Kue-kue ingin membaur dengan aneka jajanan dan masakan tradisional yang mewarnai tatanan kuliner masa 60-an. Kita sadar urusan Lebaran selalu tentang menjamu dan dijamu. Tamu pantang pulang sebelum kenyang atau setidaknya mengicip makanan dalam lodong-lodong di atas meja. Ini sudah menjadi pakem sah. Orang paling tidak berpunya sekalipun, tetap akan menyajikan sesuatu di atas meja Lebaran. Orang dari kalangan menengah ke atas merasa harus menyajikan kudapan berbeda.

Wanita tidak mengaku sebagai majalah bercap Islam. Justru dalam identitasnya sebagai bacaan umum, ia ingin turut memeriahkan Lebaran dalam edisi yang berdekatan dengan hari raya. Setiap tulisan bertema Lebaran masih akan bersanding dengan tulisan-tulisan lain yang mengasup pembaca (perempuan) Indonesia. Berlebaran masih tetap bermajalah.

Baca juga:  Belanja Buku-Buku Soekarno saat Lebaran
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top