Sedang Membaca
Dunia Keseharian Na Willa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Dunia Keseharian Na Willa

Setyaningsih

Si Samin, bacaan anak garapan Mohammad Kasim yang pertama dicetak pada 1924 dan mengalami cetak ulang kesebelas kali pada 2007, sempat merekam keseharian bocah jenaka bernama Samin. Dunia keseharian Samin berkisar tentang keluarga, ayam, berkelahi, teman, sungai, puasa, berhitung, kuda, hari pertama masuk sekolah.

Si Samin lahir di masa kolonial sebagai pemenang sayembara mengarang anak pada 1920 oleh Balai Pustaka demi menanggapi krisis bacaan tentang kehidupan anak-anak Hindia (Christantiowati, 1996). Awalnya, Si Samin berjudul Pemandangan dalam Doenia Kanak-kanak. Si Samin ingin menghindar dari kesan bacaan kolonial yang diskriminatif, selalu memosisikan anak-anak pribumi sebagai tokoh figuran.

Dunia keseharian anak-anak masih bertuah untuk disimak ataupun dikenang. Na Willa yang cetak pertama pada Januari 2018 garapan Reda Gaudiamo dan digambari dengan manis oleh Cecilia Hidayat, menawarkan keseharian bocah nan polos dan jenaka.

Na Willa, bocah perempuan berumur sekira lima tahun di Gang Krembangan di Surabaya memiliki rupa-rupa cerita bersama Mak, Pak, Mbok, teman-teman, bu guru, pasar, ayam, radio, buku bacaan, ikan bandeng, kereta api, hari pertama sekolah, mukena. Tanpa menyebutkan tahun secara gamblang, pembaca diperkenankan menduga-duga lewat penanda aneka benda, bahasa, dan peristiwa.

Dunia kanak Willa dirayakan saat radio “Erres” memperdengarkan suara Lilis Suryani dan Mak menjahit dengan mesin Singer.

Masa 60-an, siaran RRI adalah hiburan populer. Televisi masih asing, tapi santapan majalah dan buku bagi keluarga Willa kentara menandai kedigdayaan media cetak di Indonesia sejak masa 50-an. Willa rutin mendapat asupan buku tanpa melupakan gerak raga bermain dengan teman-teman di gang.

Kita cerap, “Mak selalu membeli buku, setiap minggu. Bisa di toko buku, bisa di kios kecil di samping gereja, bisa juga hasil pemberian atau oleh-oleh Bapak setiap kali dia pulang berlayar”.

Baca Juga:  Mencuri Buku Milik Gus Dur

Anak-anak lumrah merasa ingin tahu, banyak bertanya, mengajukan permintaan, dan selalu ingin mencoba. Pun dengan Willa memiliki rasa penasaran pada banyak benda di sekitar. Willa nekat membuka empat sekrup di belakang radio karena penasaran apakah ada orang bersuara dari “dalam” radio.

Saat dibelikan anak ayam, Willa mengalami pertumbuhan emosi meski tidak sampai pada tataran amat kompleks. Hal ini dimulai dari ingin, memiliki, dan akhirnya mencipta ikatan pertemanan dengan cara memberikan nama: Ayam Kuning Kecil Sekali. Willa mengolah kemampuan diri untuk merawat dan bertanggung jawab.

Apa Adanya

Bagi orangtua, Na Willa memang menjadi pengingatan masa kecil. Bagi anak-anak, Willa bisa menjadi teman imajiner. Willa menjauh dari nada penceritaan yang bernasihat dengan jelas. Kita murni mendapatkan cerita yang menyiratkan entitas keseharian tanpa perlu ambisi menggali untuk menemukan pesan moral.

Justru dengan cara ini, Reda memosisikan Willa bersuara dengan polos menunjukkan realitas sosial sekitar masa itu, mulai dari pola asuh keluarga, harmoni beragama, sampai masalah rasisme.

Ada satu adegan saat Willa sendirian melewati rumah Warno, warga kampung yang tinggal di rumah nomor delapan. Warno berteriak, “Asu Cino!” Willa tentu merasa marah dan memukul Warno. Rasisme berkaitan dengan Cina memang masalah serius di Indonesia. Meski tidak terlalu berkulit putih, Willa memang memiliki darah Cina dari Pak.

Willa tidak pernah diajari Mak menampik kecinaan atas diri. Mak mengatakan kepada Willa sebagai bentuk rekonsiliasi sekalipun terasa perih, “Lain kali, kalau dia bilang begitu lagi, diam saja! Tidak usah didengar! Tidak usah dibalas. Orang lain tahu kalau yang salah dia. Tapi kalau kamu balas, semua setuju kalau kamu yang salah meski dia memang pantas dihajar.”

Dalam hal beragama dengan santai, santun, dan rukun tanpa jargon multikulturalisme, ditunjukkan lewat pertemanan keluarga Willa dengan keluarga Farida.

Dua bocah ini berteman dengan biasa saja tanpa merumitkan agama. Kepolosan Reda terasa saat ia memilih tidak menyebutkan identitas keagamaan anak, tapi lebih menarasikan dengan peristiwa.

Baca Juga:  Melacak Akar Konflik Timur Tengah

Kita cerap, “Setiap sore, sehabis mandi, habis matahari terbenam, Farida tidak boleh keluar rumah. Ada ramai-ramai di rumahnya. Banyak anak-anak di sana. Farida ada di situ juga. Mak bilang, Farida belajar mengaji. Bersama yang lain, aku dengar suaranya.

Willa tentu penasaran dan diizinkan ikut “ramai-ramai” mengaji di rumah Farida seolah tak terbedakan dari bermain boneka atau masak-masakan. Di lain waktu, Willa mengajak Farida main ke rumah menghias pohon cemara menjelang Natal.

Bagi Farida, pengalaman ini tidak sampai pada tataran teologis. Dua bocah lebih merasakan sebagai bagian dari keceriaan dan kegembiraan bermain. Realitas sehari-hari yang bisa saja sangat ruwet bagi orang dewasa, menjadi begitu enteng diterjemahkan lewat kepolosan anak.

Na Willa menjadi begitu lincah, cair, jenaka, dan menyenangkan karena tidak sepenuhnya terikat atau terpisah dari dunia orang dewasa. Orangtua dan bahkan negara tidak hadir sebagai penegak doktrin dan petuah pakem menjadi anak yang baik.

Dengan mata lugu, pembaca justru bisa belajar bagaimana anak memandang keluarga dan menanggapi dinamika sosial di sekitar. Anak tidak melulu digambarkan sebagai korban perubahan zaman. Dunia keseharian Na Willa yang polos masih menawarkan kejadian bersahaja untuk merasa gembira, sedih, marah, dan kesal secara apa adanya.

Na Willa sangat patut dijadikan rekomendasi bacaan menyenangkan sekaligus berharga.

Identitas Buku

Judul                : Na Willa

Penulis             : Reda Gaudiamo

Ilustrasi            : Cecilia Hidayat

Penerbit           : POST Press

Cetak               : Kedua, Agustus 2018

Tebal               : xvi+115 halaman

ISBN                : 978-6-02-603042-9

 

 

 

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari