Sedang Membaca
Dakwah Lembut Habib Nusantara (3): Habib Jindan Dan Membangun Citra Islam
Penulis Kolom

pemerhati kajian dakwah, radikalisme dan komunikasi. Saat ini sedang khidmah sebagai Sekretaris LTNU Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Pemuda Hebat Kemenpora RI 2019 ini adalah pengajar pada ITS Surabaya. Penulis buku Dakwah Lembut, Umat Menyambut (2020), Menyelamatkan Negeri: Dari Radikalisme, Covid-19 dan Korupsi (2021), Teori Komunikasi; Membangun Literasi, Menganalisis Situasi (2021) dan dua buku lainnya.

Dakwah Lembut Habib Nusantara (3): Habib Jindan Dan Membangun Citra Islam

Whatsapp Image 2021 05 04 At 21.26.20

Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan lahir di Sukabumi pada 10 Muharram 1398 H bertepatan dengan 21 Desember 1977 M. Alumni Madrasah Jam’iyatul Khoir Tanah Abang ini di antara habib yang membangun citra Islam damai, santun dan toleran. Habib Jindan dari segi usia tentu termasuk Habib muda dibanding dengan Prof. Quraish dan Habib Luthfi. Setelah menempuh pendidikan di tanah air, ia melanjutkan pendidikan di Darul Musthofa, Tarim, Yaman di bawah asuhan Guru Mulia Habib Umar bin Hafizh. Habib Jindan tentu memiliki persamaan dengan Habib Luthfi, yaitu berdakwah dengan mengadakan majelis baik di kediaman maupun di tempat yang lain.

Dalam Youtube Jeda Nulis dengan judul Harus Tahu Beda Berdakwah & Berfatwa (Feat. Habib Jindan), murid al-Qutb Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah Arab Saudi ini menjelaskan suatu hadis, Ballighuu annii walau ayah. Hadis ini dapat dimaknai bahwa menyampaikan dakwah tapi bersumber dari Rasulullah SAW., bukan bersumber dari yang kita inginkan. Kalimat anni, bermakna harus bersumber dari Rasulullah SAW., itu juga boleh diartikan mewakili beliau dalam berdakwah. Pendakwah boleh saja menggunakan metode yang bervariasi, namun tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

Kamu dalam berdakwah, ini dakwah ini mewakili Nabi atau tidak. Mencitrakan Rasulullah atau tidak. Ketika dia berdakwah, oh kamu amar ma’ruf, amar ma’rufnya kamu mencerminkan nabi atau tidak. Nahi mungkarnya kamu mencerminkan nabi atau tidak. Ngajak orang kepada kebaikan, mencerminkan nabi atau tidak,” pesan Pimpinan Yayasan Al Fachriyah Al Habib Novel bin Salim bin Jindan ini saat diskusi santai dengan Habib Husein al-Hadar, Youtuber Jeda Nulis. Habin Jindan menginginkan bahwa pendakwah harus sungguh mewakili Rasulullah SAW., dengan melakukan perbuatan positif.

Baca juga:  Ulama Banjar (105): KH. Abdul Chaliq Jafrie

Pendakwah sejatinya tidak melakukan ujaran kebencian dan provokasi, memaki, mencaci, menyesatkan dan mengafirkan. Di Indonesia, Islam dibawa oleh Walisongo dengan sikap lembut dan santun. Masyarakat tertarik dengan masuk ke dalam agama Islam, karena mereka hadir dengan menghargai kearifan lokal dan dakwah santun, misal datang tidak menghancurkan berhala penduduk lokal. Anggota senior Majelis Al Wafa bi Ahdillah ini membayangkan jika yang membawa Islam adalah kita yang hidup di era milenial ini sebelum Walisongo, niscaya tidak ada yang masuk Islam karena perilaku kita yang merusak citra Islam, demikian pengakuan Habib Jindan dalam Youtube Jeda Nulis.

Senada dengan yang disampaikan Samsuriyanto (2020: 4) dalam buku Dakwah Lembut, Umat Menyambut bahwa para pendakwah nusantara yang dikenal dengan sebutan Walisongo melalui pendekatan kelembutan dalam menebar Islam, sehingga masyarakat pribumi secara berjamaah memeluk Islam dengan senang hati. Walisongo berdakwah secara lembut, sehingga menambah jumlah penganut agama Islam. Di era sekarang justru ada orang yang mengaku sebagai pendakwah namun mudah menyesatkan bahkan mengafirkan orang yang berbeda dengan kelompoknya, seolah-olah mereka telah mendapat jaminan masuk surga.

Meniru Nabi Sepenuh Hati

Dalam Youtube AVnews TV9 dengan judul Ngaku Bela Agama, Wajib Simak Nasihat Habib Jindan Berikut Ini (Edisi Lengkap), alumni SD Islam Meranti ini memberikan ceramah di Istana Bogor tahun 2017, “Sebab kelembutan tidak diletakkan dalam sebuah perkara melainkan akan menjadi mahkota menghiasi perkara tersebut. Tapi perkara sebagus apapun kalau kasar, tidak baik, tidak ada rahmat di dalamnya, maka tidak akan bisa diterima di dalam hati masyarakat”. Berdasar penjelasan di atas, maka mengajak orang lain dalam kebaikan juga harus dengan cara lembut. Demikian juga melarang keburukan, tentu juga menampilkan sikap kelembutan. Hindari anggapan bahwa melarang maksiat kepada orang lain harus dilakukan dengan cara kekerasan, justru dakwah akan ditolak dan mereka akan semakin bersemangat dalam bermaksiat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Ulama Banjar (103): H. Syafriansyah, BA

Lebih lanjut putra Habib Novel bin Jindan ini berdoa semoga Allah SWT. memberikan keberkahan kepada kita. Allah SWT. menjadikan kita sebagai pencontoh sejati terhadap Rasulullah SAW., Demikian juga para pemimpin, para ulama, para masyarakat dan keluarga kita. Namun kita tetap berpegang terhadap solusi dari Rasulullah SAW. Mohammad Amin Abd. al Aziz (1999: 115) menerangkan tentang al-qudwah qabl al-da’wah, yaitu prinsip yang memberi keteladanan sebelum berdakwah. Pendakwah merupakan contoh bagi mitra dakwah, sehingga semua ucapan, sikap dan tindakannya selalu diperhatikan bahkan ditiru oleh mitra dakwah.

Bagi Penasihat Majelis Silaturrahim Ulama dan Habaib kota Tangerang dan sekitarnya ini saat hendak mengakhiri ceramah agama di Istana Bogor, jika kita beranggapan bahwa tidak menemukan solusi pada diri Rasulullah SAW. Hal ini terjadi kemungkinan salah para ulama yang kurang pandai mencerminkan akhlak beliau. Jika melihat hal yang tidak baik pada diri pendakwah dan ulama, hindari di dalam menyalahkan makhluk sempurna tersebut. Sebab Rasulullah SAW. benar, sementara para penceramah yang mungkin kurang pandai mencerminkan akhlak beliau.

Kita sebagai muslim sejatinya adalah pendakwah yang memiliki tanggung jawab besar untuk menampilkan akhlak indah kepada mitra dakwah, terutama kepada non muslim. Menunjukkan akhlak mulia kepada non muslim termasuk bagian dari dakwah, yaitu da’wah bi al-hal (dakwah melalui perbuatan). Misalnya, memberikan makanan, membantu tetangga non muslim yang sedang membutuhkan adalah salah satu bentuk membangun citra baik Islam kepada penganut agama lain.

Baca juga:  Hikayat Walisongo (9): Dakwah Moderat Sunan Muria melalui Kesenian dan Kearifan Lokal

Samsuriyanto (2021: 23) dalam Buku Menyelamatkan Negeri: Dari Radikalisme, Covid-19 dan Korupsi menilai pendakwah yang menyampaikan pesan Islam tapi menebar ujaran kebencian di hadapan masyarakat agar terjadi fluktuasi bahkan peperangan antar sesama anak bangsa harus ditinggalkan. Mereka tidak sedang menebar konsep Islam, tapi malah merusaknya. Mereka telah merusak citra Rasulullah SAW. yang senantiasa berdakwah dengan persuasif. Berapa banyak orang yang meninggalkan Islam yang semula tertarik dan terpikat, namun berubah sebagai pembenci karena ulah para pendakwah yang tidak mencerminkan akhlak Islam. Para pendakwah harus menampilkan dakwah lembut, agar dapat diterima oleh masyarakat yang majemuk. (Biografi Habib Jindan lebih lanjut baca di https://www.alfachriyah.org/tokoh-dan-pengajar-al-fachriyah/habib-jindan-bin-novel-bin-jindan/).

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top