Sedang Membaca
Denys Lombard ke Makam Kiai Telingsing: Ziarah dalam Sepi (2)
Penulis Kolom

Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Belajar sejarah di UGM. Tinggal di Bogor, Jawa Barat

Denys Lombard ke Makam Kiai Telingsing: Ziarah dalam Sepi (2)

Denys Lombard (2010) menegaskan bahwa tidak ada sumber sejarah yang rinci tentang Kiai Telingsing. Rujukan pustaka pun minim. Ia disebut sekilas oleh de Graaf dan Pigeaud dalam karya mereka tentang kerajaan-kerajaan Islam pertama di Jawa (H.J. De Graaf & T.H. Pigeaud, 1974).

Denys Lombard, menelusuri riwayat tokoh ini dari buletin PITI, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (A.Syamsuddin, 1972). Melihat betapa peka masalah Islam Tionghoa di Nusantara serta betapa rumit masalah di sekitar sejarah peralihan teknologi dari Tionghoa ke Jawa (Denys Lombard, 2008), cukup berfaedah kiranya kalau memperhatikan makam Kiai dan tukang kayu dari utara ini.

Untuk pergi dari masjid Agung ke Kampung Sunggingan, jalan yang paling mudah adalah melalui Jalan Dr. Wahidin. Di jalan Dr. Wahidin nomor 86 terdapat bangunan bersejarah yakni Masjid Bubrah. Maksudnya masjid runtuh. Hanya tembok barat dan selatan yang masih tersisa di gedung kecil dar bata dan bersegi panjang itu. Pada tembok barat dapat dilihat bekas sebuah mihrab. Keadaan bagian dalamnya cukup baik sedangkan dari luar jelas terlihat bagian tembok yang menjorok ke luar.

Menurut pengamatan Denys Lombard (2010), hiasan bangunan itu, pola bersegi enam, juga terdapat di Masjid di Sendang Duwur dan Mantingan. Menurut Denys Lombard (2010) situs bersejarah Masjid Bubrah mirip dengan masjid dari abad ke-16 atau tahun 1500-an dan gayanya khas Majapahit.

Baca juga:  Riwayat Buya Hamka, Ulama Multitalenta

Denys Lombard agak sedih dengan renovasi masjid ini. Maklum, sejarawan lebih suka bangunan kuno dari pada bangunan modern.

Denys Lombard menulis dengan sedih bahwa masjid ini dipugar pada tahun 1984 dan sayangnya bangunan modern masjid tidak menceritakan informasi tentang bentuk aslinya. Ada bedug dan kentongan.

Makam Kiai Telingsing terletak beberapa langkah dari masjid itu, di batas Kampung Sunggingan dan sangat lain keadaannya. Dilihat dari luas makam itu tampak seperti bangunan besar biasa berbentuk huruf T dan tertutup oleh atas genteng biasa.

Namun ternyata bangunan itu sesungguhnya adalah sebuah cungkup modern yang menutupi dan melindungi beberapa unsur yang jauh lebih kuno. Tertulis di dalamnya bahwa makam keramat itu telah dipugar pada tanggal 29-4-1964, tetapi sulit diketahui apakah cungkupnya dibangun atau hanya diperbaiki pada waktu itu.

Seluruh bangunannnya menurut sebuah poros utara selatan. Bagian kuno merupakan suatu ruang inti berbentuk memanjang dan sebuah serambi.

Dalam ruang inti terdapat dua makam yaitu makam Kiai Telingsing dan makam salah satu seorang sahabatnya yang tampaknya tidak dikenang lagi namanya. Tidak ada makam dalam serambi. Tetapi, terdapat dua buah lagi di sisi kirinya dan sebuah lagi di sisi kanannya.

Serambinya dikelilingi dua deretan tembok rendah, 1,5 meter, dari batu bata yang diselingi oleh pilar-pilar dari batu bata yang bagian atasnya secara kasar berbentuk limas. Pilar-pilar ini serupa dengan pilar-pilar di Masjid Panjunan Cirebon. Kedua tembok itu tak terputus di sebelah kiri barat, tetapi di sebelah kanan, sebelah timur, di sela oleh tempat wudhu kecil, dengan bak air, yang airnya datang dari sumur di luar.

Baca juga:  Katanya Gus Dur Wali? Kok Kalah dalam Pertarungan Terbesarnya?
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top