Sedang Membaca
Kepemimpinan Dana Mbojo dalam Jawharatul Ma’arif
Hilful Fudhul
Penulis Kolom

Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pimpinan Alumni Pondok Pesantren Darul Furqan Kota Bima

Kepemimpinan Dana Mbojo dalam Jawharatul Ma’arif

  • Kitab Jawharatul Ma’arif sendiri ditulis oleh Haji Nur Hidayatullah al-Mansur Muhammad Syuja’uddin, yang dirujuk dari kitab Syamsul Ma’arifil Kubra karya Ahmad Ibn ‘Ali al-Buni.

Terdapat banyak sekali peninggalan naskah dari berbagai daerah dari Aceh sampai Banten. Kesemuanya terdapat naskah-naskah penting yang bercerita tentang sejarah, agama, pendidikan hingga politik.

Dalam hal kepemimpinan pula tidak lepas dari catatan naskah atau kitab sebagai rujukan dalam memilih pemimpin. Tentu, berbagai khazanah yang kita temukan hari ini memberi gambaran bahwa masa kejayaan Islam memberi berbagai dampak pada perkembangan Bima dan umumnya Nusantara.

Buku Kiai Said

Dalam Islam, istilah kepemimpinan disematkan dengan kata imamah atau khilafah. Terdapat rujukan berbagai naskah serta kitab sebagai referensi untuk memutuskan berbagai hal. Seperti dalam konteks kepemimpinan terdapat kitab karya Imam Ghazali yaitu Nasihat al-Muluk sebagai kitab penting yang melahirkan berbagai kitab serupa diberbagai daerah di nusantara, umumnya kitab ini menjadi rujukan sampai era kesultanan.

Di berbagai kesultanan terdapat berbagai naskah atau kita rujukan dalam berbagai hal seperti kitab al-Mawahibur rabbaniyah ‘anil as’ilahil jawiyah karangan ulama Makkah yang diterjemahkan dalam Jawa.

Selain itu, di kesultanan Bima terdapat kitab Jawharatul Ma’arif sebagai rujukan kesultanan Bima dalam memilih pemimpin atau setidaknya ciri dalam kitab tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Kitab Jawharat al-Ma’arif ditulis pada 2 Jumadil Akhir 1299 H atau sekira 1882 M.

Kitab ini  berisi tentang nasihat bagi pemimpin untuk memiliki berbagai sifat penting yang harus dimiliki oleh pemimpin, agar sejahtera rakyatnya, aman, diridai oleh Allah SWT. Kitab ini juga merujuk semangat kitab Nasihatul Muluk karya Imam Ghazali.

Baca juga:  Sapu dan Blangkon Sunan Ampel untuk Nahdlatul Ulama

Kitab Jawharatul Ma’arif sendiri ditulis oleh Haji Nur Hidayatullah al-Mansur Muhammad Syuja’uddin, yang dirujuk dari kitab Syamsul Ma’arifil Kubra karya Ahmad Ibn ‘Ali al-Buni.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terdapat dua bagian dalam kitab Jawharat ini, yaitu tentang Ilmu Ketatanegaraan yang berisi tentang nasihat serta ciri yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, dan bagian kedua berisi tentang Ilmu Hikmah dan Ilmu Gaib.

Ada ciri-ciri yang harus dimiliki oleh pemimpin yang tertuang dalam kitab Jawharatul Ma’arif antara lain, ada akalnya, ada ilmu, menahani amarahnya yang tiada patut, elok parasnya, dapat memacu kuda, berbicara perlahan-lahan, sangat mengasihi akan segala dengan menolongi akan segala kelaparannya atau kesukarannya, mengambil insaf pada segala yang teraniaya daripada segala yang menganiaya.

Yang menarik, nasihat pada kitab ini menyarankan untuk pemimpin, senantiasa membaca kitab Qisas al-anbiya’, kitab Bidayatul Hidayah atau kitab Ihya’ ‘Ulumiddin.

Banyaknya hal yang harus menjadi ciri bagi pemimpin di Dana Mbojo atau dikenal dengan Bima, menempatkan berbagai hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan tidak lepas dari pengetahuan tentang ilmu hikmah agar bijaksana dalam memimpin negerinya.

Selain kitab Jawharat terdapat Syair Kande yang dibaca khusus untuk prosesi pengangkatan sultan pada kesultanan Bima, poinnya menjadi penting agar menjadi ciri khas pemimpin yaitu terdapat kalimat “ Nde na busi marada oi” dalam potongan syair yang artinya pemimpin harus berkepala dingin dalam menghadapi persoalan, bahkan lebih dingin dari air.

Kalimat lain “Na ngame marada mina”, yang artinya ulet dan cekatan serta “ Na neo marada wolo”, artinya ringan tangan membantu rakyat.

Dalam hal kepemimpinan, banyak hal yang harus dilakukan dan terdapat ciri-ciri penting bagi seorang pemimpin. Ini menjadi tolak ukur dalam memilih pemimpin dan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Baca juga:  Mengenang KH A. Wachid Hasjim: Perjalanan Terakhir Menuju Sumedang, 18 April 1953

Seorang pemimpin tidak boleh asal-asalan walau dalam sistem kesultanan yang menganut monokrasi, anak-turunan yang selanjutnya berkesempatan memimpin, akan tetapi kepemimpinan dizaman kesultanan juga harus ada tolak ukur yang jelas terutama dalam hal yang harus dimiliki oleh seorang Sultan Bima. (atk)

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top