Sedang Membaca
Filsuf Suhrawardi dan Teori Iluminasi

Mahasiswa sekaligus Santri Aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Filsuf Suhrawardi dan Teori Iluminasi

Dalam beberapa buku filsafat terutama Filsafat Islam karya Majid Fakhry, ada beberapa Tokoh Filosof Islam yang merekonsiliasi antara filsafat dan agama, filsafat dan mistisisme. Para Filosof tersebut beranggapan bahwa agama dan filsafat itu berjalan selaras karena kebenaran agama dan filsafat sama, tetapi yang berbeda itu ialah metode untuk mancapai kebenaran tersebut.

Salah satu di antara filosof tersebut adalah Suhrawardi Al-Maqtul atau lebih dikenal dengan bapak Iluminasi yang mencoba mengembalikan dan menjelaskan bahwa kaum parepatetik pada zamannya telah gagal memahami maksud pendirinya. tak hanya itu,  Surawardi Al-Maqtul juga merekonsiliasi filsafat dan sufisme. Selain itu ada filosof juga yang bernama Al-Syirazi (Mulla Shadra), menurutnya kebenaran itu sifatnya turun-temurun, yang pada awalnya berasal dari para Nabi kemudian diturunkan kepada para filosof yunani, diturunkan lagi kepada para sufi, dan terakhir diturunkan kepada para filosof pada umunya.

Iluminasi Isyraqi” secara definitif

Iluminasi Isyrak adalah penerangan tak terbatas dari cahaya tertinggi (nur al-anwar) kepada segala sesuatu yang materil dan yang berada di bawahnya. Adapun pengertian isyraqi memiliki banyak arti, antara lain, “kata israqi berarti terbit dan bersinar, berseri-seri, terang karena disinari dan menerangi. Tegasnya, isyraqi berkaitan dengan kebenerangan atau cahaya yang umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagian, keterangan, dan lain yang membahagiakan” (Dr.H.A. Khudori Soleh, M.Ag, Filsafat Islam, hlm 142).

Dalam bahasa fisafat, iluminationism berarti sumber kontemplasi atau perubahan bentuk dari kehidupan emosinal kepada pencapaian tindakan dan harmoni. Proses iluminasi sendiri menurut kaum isyraqi ialah, proses seseorang mendapat hikmah secara praktis melalui perpindahan ruhani dari tubuh yang bersifat kegelapan murni yang didalamnya tidak terkandung pengetahuan dan kebahagiaan, kepada cahaya tertinggi yang sifatnya akali dan terdapat pengetahuan dan kebahagiaan yang dapat dicapai bersama-sama.

Baca juga:  Ulama Banjar (121): KH. Badaruddin

Kebijaksanaan isyraqi sendiri berdasar pada dua prinsip yaitu cahaya dan kegelapan sebagaimana di bangun oleh para ahli hikmah Persia seperti Jamasp, Farshadshur dan Buarjumihr, adalah sebagian simbol-simbol rahasia dan tersembunyi tersebut (Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam, hlm 117).

Sekilas profil Suhrawardi

Suhrawardi, nama lengkapnya Syihab Al-Din Yahya Ibn Habasy ibn Amira’Suhrawardi Al-Maqtul dilahirkan pada 546/1153 di Desa Suhraward di dekat kota Zanjan dalam Persia modern, sebuah desa yang telah menyumbangkan sahamnya berupa tokoh besar dalam islam. Ia menerima pendidikan awalnya dari majd al-Din al-Jili di Maraghah. Setelah itu, Suhrawardi pergi ke Isfahan- saat itu merupakan pusat belajar terkemuka di Persia- untuk melanjutkan studinya dan menyempurnakan pendidikan formalnya bersama Dhahir al-Din al-Qari.

Setelah merampung pendidikan formalnya, Suhrawardi mulai melangkah ke Persia, menemui berbagai guru sufi, diantaranya sangat menarik perhatianya. Kenyataanya sejak fase kehidupan inilah ia memasuki jalan sufi dan menghabiskan periode lama dalam pengasingan spiritual “khalwat” dan menenggelamkan diri dalam dzikir dan meditasi. Perjalananya semakin lebar sehingga mencapai Anatoli dan Syiria. Dari Damarkus, Syiria, ia pergi ke Aleppo untuk berguru pada Safir Iftikhar Al-Din.

Dalam seluruh karyanya , suhrawardi menggunakan istilah-istilah seperti “kaidah ilumuminasi”  (qa’idah isyraqiyyah): “aturan-aturan iluminasionis” (dhawabith isyraqiyyah). Tujuan argumen-argumen dasar iluminasionis (daqiqah isyraqiyyah) dan frase-frase semacam itu adalah untuk mengidentifikasi masalah-masalah khusus dalam bidang Logika, Epistemologi, Fisika, dan Metafisika wilayah-wilayah pemikiran yang direkontruksi atau direformulasi dengan cara yang sangan inovatif. Dalam ajaranya tentang isyraqi ada dua pokok yang dibahas, yaitu gradasi esensi dan kesadaran diri.

Baca juga:  Zainah Anwar, Aktivis dan Feminis Muslim Malaysia

Dari dua ajaran tersebut lahir ajaran atau teori ketiga, alam mitsal, di mana struktur ontologis dari realitas spiritual atau ‘alam atas’ dianggap mempunyai kemiripan atau mengambil bentuk-bentuk gambar konkret dari alam materi atau ‘alam bawah’. Sebenarnya dalam tradisi Orientalis yang lebih tua menandaskan  dengan tegas bahwa, filsafat iluminasi pada dasarnya bukan hal baru. Karena menurut mereka dalam catatan-catatan singkat dan pendek Ibn Sina mengenai filsafat timur (al-hikmah al-masyriqiyyah) sebenarnya telah mendahuluinya (Dedi Supriyadi, M.Ag., pengantar filsafat islam, hlm 184).

Teori Iluminasi Suhrawardi

Menurut suhrawardi tentang gradasi esensi, apa yang di sebut sebagai eksistensi adalah sesuatu yang hanya ada dalam pikiran, gagasan umum, dan konsep yang tidak terdapat dalam realitas, sedangkan yang benar-benar esensial atau realitas yang sesungguhnya adalah esensi-esensi yang tidak lain merupakan bentuk-bentuk cahaya (Dr. H.A. Khudori soleh, M.Ag., filsafat islam, hlm 146). Artinya, eksistensi yang di bicarakan suhrawardi ini berkaitan dengan sesuatu yang abstrak, sedangkan esensinya berkaitan dengan sesuatu yang materil.

Maksud dari pengadaan eksistensi dan esensi adalah untuk menunjukan keberadaan tuhan yang mana kita harus paham tentang eksistensi dulu baru kita bisa memahami esensi. Cahaya-cahaya ini adalah sesuatu yang nyata dengan dirinya sendiri karena ketiadaanya berarti kegelapan dan tidak dikenali. Artinya, cahaya adalah sebab utama keberadaan sesuatu. Oleh karena itu, cahaya tidak membutuhkan definisi bahkan, tidak ada yang lebih tidak membutuhkan definisi kecuali cahaya. Eksistensi Suhrawardi bersifat ada yang belum tentu Nampak sedangkan esensinya bersifat ada ya sudah tentu Nampak.

Baca juga:  Cak Nur dan Konsep Sakral-Profan Emile Durkheim

Meskipun demikian, di puncak urutun wujud terdapat cahaya-cahaya murni, yang membentuk anak tangga menaik.  Bagian tertinggi merupakan cahaya di atas cahaya yang menjadi sumber eksistensi semua cahaya yang berada di bawahnya, baik yang bersifat murni maupun campuran (Majid Fakhry, sejarah filsafat islam, hlm,131).

Cahaya tertinggi ini identik dengan Wujud Swa-ada (Wajib al-Wujud) dalam konsep Ibn Sina. Artinya, cahaya tertinggi ini bersifat tunggal, dan mandiri, sebab keberadaanya lah yang menimbulkan serangkaian cahaya lain. Masing-masing cahaya tersebut memiliki tingkat intensitas penampakanya, tergantung pada tingkat kedekatanya dengan Cahaya Segala Cahaya (Nur al-Anwar) yang merupakan sumber segala cahaya. Semakin dekat dengan Nur al-Anwar berarti semakin sempurnalah cahaya tersebut.

Cahaya dari cahaya-cahaya (nur al-anwar), adalah Esensi Ilahi yang cahayahnya menyilaukan disebabkan oleh kemilau dan intensitasnya. “Esensi cahaya Mutlak pertama, Tuhan, memberikan penyinaran konstan, yang dengan itu ia termanifestasi dan membawa segala sesuatu pada keberadaan (eksistensi), memberikan kehidupan kepadanya dengan sinarnya. Segala sesuatu di dunia berasal dari cahaya esensi-Nya dan segala keindahan dan kesempurnaan merupakan karunia dari rahmat-Nya, yang percapaian sepenuhnya pada iluminasi ini merupakan penyelamatan (salvation).” (Bagian dari Hikmat al-isyrat ini diambil dari terjemahan Bahasa Inggris M. Smith, Readings from the Mystics of Islam (London, 1950), hlm 79).

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top