Sedang Membaca
Belajar dari Orang-orang Pandir
Penulis Kolom

Mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga.

Belajar dari Orang-orang Pandir

Img 20210704 211056 (1)

“Hari apa kita shalat Jumat di Rasafah kemarin?” tanya Hamzah bin Baidh suatu hari kepada anaknya. Sejenak anaknya mencoba mengingat-ingat, sebelum akhirnya menjawab, “Hari Selasa, Ayah.”

Percakapan ganjil itu adalah salah satu contoh dari kisah-kisah kocak yang dapat kita temukan dalam kitab yang disusun oleh Ibnu al-Jauzi, Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin. Seperti ditegaskan dalam judulnya, buku ini memang bercerita tentang para pandir dan pelupa atau lemah akalnya.

Dalam pengantarnya, Ibnu al-Jauzi, penulis kelahiran Bagdad tahun 1116, itu  menjelaskan alasannya menyusun kitab yang isinya tentang kisah-kisah konyol seperti itu. Sebelumnya ia pernah menyusun kitab Akhbar al-Azkiya (kisah tentang para cerdik cendekia) yang dari sana para pembaca bisa mereguk banyak hikmah dan teladan. Lalu ia kepikiran untuk menulis tema sebaliknya.

Menurutnya,  kisah-kisah pandir dan kocak pun bisa memberi manfaat. Pertama, kita bisa bersyukur karena masih dianugerahi kewarasan sehingga tidak jatuh pada tindakan-tindakan konyol. Kedua, cerita-cerita konyol bisa menjadi selingan dari rutinitas yang menjemukan.

Ibnu al-Jauzi pun lantas mengepul cerita-cerita yang aneh dan menggelikan. Ada cerita tentang khalifah, pejabat, ulama, perawi hadis, hingga rakyat jelata. Ia juga mengumpulkan definisi dan ciri-ciri seseorang disebut hamaq, sebagaimana dipahami masyarakat saat itu.

Guyonan Kiai Said Agil tentang hubungan jenggot dan kepandiran memang topik lama yang berkembang di dunia Arab. Orang yang berjenggot panjang diidentikkan dengan kebodohan. Namun guyonan semacam itu agaknya terkait dengan adanya ketegangan hubungan antara ahl rakyu dan ahl hadis saat hadis hadis saat itu.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (42): Tafsir Surah Yasin

Membaca buku ini, selain dibuat terkekeh, para pembaca pun akan dibuat maklum bahwa hal-hal konyol dan pandir bukan hanya milik orang yang tidak terpelajar dan awam.

Istilah hamaq, pandir, memang memiliki banyak arti. Kata itu tidak selalu berarti orang bodoh atau idiot. Hamzah bin Baidh yang bertanya tentang hari pelaksanaan shalat Jumat bukanlah orang tolol. Ia adalah seorang penyair yang cerdas, hanya saja ia memang kerap bertingkah bloon.

Kata hamaq, juga bisa merujuk pada jenis orang-orang yang tidak tahu tapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ia pun sering digunakan untuk mengacu pada perbuatan yang bertujuan baik namun ditempuh dengan cara yang buruk.

Karena itu, kisah-kisah populer tentang si Juha, yang sering kita kenal sebagai humor sufi, dalam klasifikasi Ibn al-Jauzi dimasukkan dalam kategori kisah hamaq. Sebab cara yang dipakai oleh Juha sering di luar kelaziman.

Diceritakan, misalnya, Juha pernah menyembunyikan uangnya di padang pasir. Ia menggali pasir dan menguburnya. Lalu, agar sewaktu-waktu bisa mengambilnya dengan mudah, ia menggunakan mendung yang kebetulan memayungi kepalanya sebagai petunjuk lokasi.

Pernah juga, suatu ketika, ada tetangga Juha yang meninggal. Juha diminta untuk menemui penggali kubur. Juha pergi dan bernegosiasi soal harga dengan si penggali. Ia lalu memutuskan pergi ke pasar dan pulang ke rumah duka dengan membawa kayu yang dibelinya seharga dua dirham.

“Untuk apa kau beli kayu-kayu ini?” tanya keluarga si mayit heran.

“Penggali kubur itu tidak mau dibayar kurang dari lima dirham. Makanya aku beli kayu itu saja untuk menyalib jenazah. Dengan begitu, kita masih untung tiga dirham, dan si mayit pun akan terbebas dari penderitaan kubur dan pertanyaan Munkar dan Nakir,” jawab Juha.

Baca juga:  Merinding Menyaksikan Kitab-Kitab Klasik Peninggalan Banser Surabaya

Bahwa seseorang perlu penanda bagi barang simpanan atau bahwa akan ada pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir di kubur diketahui umum. Tapi cara yang ditempuh Juha untuk menyikapi hal tersebut sungguh tidak biasa. Mungkin perbuatan-perbuatan itu dimaksudkan untuk menyindir sikap sok tahu. Mengingat sok sok tahu, sok pintar agaknya merupakan jenis kepandiran yang paling umum.

Dan sikap itu, kita tahu, tidak hanya ada di zaman dulu. Sekarang sikap tersebut bahkan sering dipamerkan secara terbuka. Orang-orang mengumbar komentar tentang sesuatu yang tidak ia pahami. Bahkan dalam soal agama, tidak sedikit orang yang baru mengerti sedikit bersikap seolah-olah sudah ahli, seperti kisah Ibn al-Jauzi tentang seorang lelaki.

Lelaki berjalan bergegas. Di tengah perjalanan ia bertemu temannya. “Mau ke mana kamu?” sapa sang temannya.

Ke pasar, mau membeli keledai, jawabnya.

Katakan Insya Allah, saran si teman.

Bukan begitu cara menggunakan insya Allah, lha uang sudah di kantong dan keledai ada di pasar kok, ia membela diri dan berlalu.

Ketika ia sedang sibuk mencari-cari keledai yang cocok, uangnya dicopet. Ia pun pulang dengan hampa, perasaannya sedih dan marah.

Dalam perjalanan pulang ia kembali bertemu dengan si teman. Melihat air mukanya yang kecut dan tak ada keledai bersamanya si teman lagi-lagi ingin tahu. “Apa yang terjadi padamu? Mana keledaimu? selidiknya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (25): Islam, Iman, dan Ihsan

Uangnya dicopet, insya Allah,” jawabnya.

“Bukan begitu cara menggunakan Insya Allah,” balas si teman.

Maka, kalau hari-hari ini kita harus melanjutkan proyek’ Ibnu al-Jauzi tersebut, barangkali kita tidak akan kekurangan bahan untuk dicatat. Baik yang dilakukan oleh presiden, menteri, hakim, anggota DPR, ketua partai, pejabat BUMN, KPK, gubernur, bupati, camat, lurah, ustad, artis, orang-orang biasa di sekitar kita atau kisah kita sendiri.

Catatan-catatan itu mungkin akan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang, sebagaimana karya Ibnu al-Jauzi. Selain sebagai hiburan, kisah-kisah itu akan menjadi pengingat agar mereka tidak perlu mengulang kepandiran yang sama.

Kepandiran kadang menular. Karena itu, Ibn al-Jauzi juga mengingatkan kita agar selalu waspada dan hati-hati jika bergaul dengan orang pandir. Selain menular, kepandiran juga tak jarang menimbulkan bahaya.

Ibn al-Jauzi menukil kisah tentang seorang penduduk Rayy yang datang ke rumah Hatim al-Uqaili, seorang ulama periwayat hadis terkemuka. “Anda yang meriwayatkan bahwa Nabi saw. memerintahkan membaca Surat Al-Fatihah di belakang imam?” tanyanya penuh selidik.

“Iya. Hadis itu memang benar dari Nabi saw.” jawab Hatim.

“Anda bohong! Dengar ya, Surah Al-Fatihah belum ada di masa Nabi saw. Surat itu baru turun pada masa Umar bin Khattab!!!” bentaknya.

Nah, kan.

 

Judul buku :   Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin

Penulis :  Abu Faraj Ibnu al-Jauzi

Penerbit : Dar al-Fikr al-Lubnani

Tahun : 1990

Halaman: 206

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top