Royyan Julian
Penulis Kolom

Menulis sejumlah buku, bergiat di Universitas Madura dan Sivitas Kotheka.

Masjid dan Panggilan Etis Agama

Suatu kali seorang teman berkata, “Semangat membangun masjid berbanding terbalik dengan semangat menunaikan ibadah.” Masjid besar berdiri di mana-mana, tetapi jamaah sedikit. Ketika salat bersama ditunaikan, masjid—barangkali nyaris semua masjid di Tanah Air—selalu menyisakan ruang lengang, gerowong yang amat lebar. Masjid hanya penuh pada hari Jum’at dan Hari Raya.

Akan tetapi, saya kira persoalan yang tak kalah genting bukan itu. Kemegahan masjid menampakkan perbedaan mencolok dengan umat Islam Indonesia yang masih didera kemiskinan. Masjid berkacak gagah dengan baju glamor, sedangkan masyarakat terlihat lusuh dengan kemelaratan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saat ini jamak di berbagai tempat, masjid hanya dibuka saat jadwal salat berlangsung. Di luar itu, masjid tertutup. Masjid tampak seperti rumah orang-orang kaya di kompleks: mewah, terkunci, sepi, dan mengundang maling. Keterisolasian masjid merentangkan jarak Rumah Ilahi dengan umat. Sementara itu, kecemasan datangnya pencuri menunjukkan bahwa masjid telah menimbun benda-benda duniawi yang berlebihan.

Dahulu, lima belas abad silam, kaul seorang nabi dideklamasikan pertama kali di sebuah gua pada malam Ramadan yang sunyi untuk merespons panggilan orang-orang terpinggirkan. Transformasi ekonomi yang spektakuler telah menyapu muruwah, ideologi etis suku Quraisy. Muruwuh atau solidaritas antaranggota suku lenyap, digantikan oleh kompetisi mengakumulasikan kekayaan yang diyakini dapat membuat pemiliknya kekal. Jahiliyah merupakan kata sifat yang disematkan kepada masyarakat Quraisy yang kala itu tengah dibanjiri ketimpangan ekonomi.

Baca juga:  Dosa Manusia dalam Kabut Asap

Visi primordial kenabian Muhammad diwedarkan untuk merestorasi muruwah yang telah dihancurkan kapitalisme yang mengancam kelangsungan hidup klan-klan miskin. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti,” sabda Nabi. Gerakan komunitas orang beriman yang diinisiasi Muhammad berdiri untuk merekatkan koherensi sosial yang telah diceraikan oleh ngarai keserakahan.

Kira-kira dua puluh tiga abad sebelum Muhammad menerima wahyu, di sebuah lereng gunung, Musa mengalami kejadian yang sama. Yahweh yang dikenal orang-orang Median sebagai Allah Gunung Sinai mendelegasikannya untuk membebaskan Bani Israil yang telah diperbudak para Fira’un sejak empat ratus tahun sebelumnya. Digerakkan oleh suara yang bergaung dari semak bidara terbakar itu, Musa menggiring anak-anak Yakub eksodus dari Mesir menuju tanah terjanji.

Dari kedua peristiwa tersebut, kita sadar bahwa firman pertama turun bukan dalam khotbah tentang yang ilahi—yang mungkin sudah diketahui orang-orang saat itu. Pertama kali, nubuat memancar ke wilayah gelap kesengsaraan manusia. Pesan implisitnya begitu terang: langgaskan setiap penderitaan. Teologi pembebasan—meminjam nama gerakan padri di Amerika Latin—merupakan cikal-bakal kelahiran agama.

Kini gema itu telah pupus. Atau barangkali memang sudah lama terkikis. Agama yang dahulu pernah berdiri di sisi kiri kaum papa, kini berbedak dan bergincu bersama orang-orang kaya. Agama terseret gaya hidup konsumtif kelas menangah/atas dan melupakan tanggung jawab moralnya sebagai juru selamat kemanusiaan.

Baca juga:  Merawat Masjid Kita

Empati umat Islam kepada mereka yang terpinggirkan perlu dipertanyakan. Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini, oligarki tidak pernah goyah. Kekayaan 50 orang paling makmur di Indonesia dengan orang biasa berbanding 630.000 kali lipat.

Kelas menengah/atas bisa naik haji/umrah berkali-kali tanpa memastikan terlebih dahulu meja makan tetangganya. Di Indonesia, haji/umrah bukan lagi peristiwa religius, melainkan fenomena kelas sosial. Di situlah istilah “tamu Allah” menjadi begitu problematis, seakan-akan Tuhan hanya memanggil mereka yang punya uang.

Sementara itu, para dai/mubalig—sebagai representasi orang saleh—di layar kaca begitu vulgar memperlihatkan kekayaan: busana, kendaraan, istri-istri jelita. Mungkin saat ini kita sukar menemukan ulama ugahari seperti Gus Dur yang kerap dikisahkan sebagai pribadi daif dan kalis, sosok yang tak meninggalkan harta serta rela menanggalkan kekuasaan. Dengan modal kewiraannya yang rapuh, Gus Dur tegak sendirian menghadapi kepungan kekuasaan yang tak berpihak kepada rakyat kecil. Tidak mewarisi etos kemanusiaan Gus Dur, fatwa-fatwa ulama kini malah seringkali melumpuhkan masyarakat bawah, tetapi jarang mengoreksi watak jahat negara.

Demikianlah masjid nan megah dan mewah menjadi citra agama yang alpa menyapa kefakiran. Ketika ditanya, apa itu Islam, Muhammad menjawab: Islam adalah memberi makan kepada orang lapar dan menebarkan kedamaian kepada orang yang dikenal dan tak dikenal. Tetapi barangkali agama telah dikutuk zaman yang sudah jauh berlari. Dahulu, agama datang untuk memenuhi hajat manusia. Kini, manusia hadir untuk kepentingan agama.

Baca juga:  Teknologi Suara: Mengingat Hamka hingga Gus Dur
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top