Sedang Membaca
Mengapa Perempuan Lebih Religius daripada Laki-Laki?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengapa Perempuan Lebih Religius daripada Laki-Laki?

Rohmatul Izad

Bila membincangkan soal perempuan dalam konteks agama-agama, kesan pertama yang terbentuk di angan-angan kita adalah agama dan perempuan bukan teman yang baik. Sebuah hubungan yang pilu karena perempuan sering menghadapi kerangkeng struktural yang membelenggu kebebasan.

Untung saja, banyak gerakan-gerakan perempuan yang telah membawa angin segar untuk mendobrak kerangkeng itu atas nama kesetaraan dan hak asasi.

Banyak teori mengungkapkan bahwa otoritas laki-laki lebih tinggi daripada perempuan disebabkan oleh kehadiran negara, agama, dan struktur masyarakat itu sendiri.

Karenanya, banyak perempuan dengan gigih melawan ideologi mainstream dan berjuang untuk memberikan ruang bagi suara-suara yang dibungkam. Paling tidak, perspektif feminis ini telah memberi “nilai tambah” bagi perjuangan perempuan, baik di kehidupan nyata maupun dalam kajian-kajian akademis.

Saya sendiri mengamini bahwa sejak kelahirannya, agama memang kurang ramah terhadap perempuan. Meskipun, kita sering mendengar bahwa agama lahir, salah satunya fungsinya, untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

Namun kenyataannya, tidak ada agama yang benar-benar menempatkan perempuan setara dengan laki-laki. Fakta ini mirip seperti ketika kita bicara “gajah dalam tempurung” yang banyak orang memilih menghindarinya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan konstruksi hubungan laki-laki dan perempuan dalam konteks sosial kemasyarakatan ataupun dalam lingkup agama. Bagi saya sendiri, wacana tentang gender telah sebegitu melimpah, tinggal bagaimana kita mengkaji lebih lanjut tentang prospek kesetaraan itu untuk keperluan yang lebih luas.

Baca juga:  Wacana Gender di Pesantren Putri

Saya justru lebih tertarik pada tema-tema pinggiran dalam porsi yang lebih kecil, misalnya tentang bagaimana mengukur ketebalan iman antara laki-laki dan perempuan, apakah praktik ibadah mereka bisa diukur? Atau, lebih religius mana antara kedua gender tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita bukan hanya diharuskan untuk melihat dimensi psikologis antar-keduanya, atau melihat bagaimana kedua gender itu dimaknai dan diperlakukan oleh syariat agama, tetapi kita juga perlu melihat realitas sosial di mana masyarakat itu mengamalkan ajaran agamanya.

Sebuah survei yang dihimpun oleh Marta Trzebiatowska dan Steve Bruce dalam Why Are Women More Religious That Men? sebagaimana dikutip Mun’im Sirry (2018) menunjukkan bahwa tingkat religiositas perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki.

Tingkat religiositas mereka diukur, misalnya, dengan kedatangan ke gereja atau keterlibatan mereka dalam acara-cara keagamaan, dan hasilnya cukup mengejutkan. Survei yang dilakukan sejak sebelum Perang Dunia II hingga sekarang menunjukkan gender gap dalam kehadiran di Gereja, dengan perbandingan rata-rata 60% perempuan berbanding 20% laki-laki.

Dalam survei tahun 1990 di Inggris, misalnya, dari mereka yang datang ke gereja hanya 41% laki-laki. Survei tahun 2005 dan 2007 memperlihatkan penurunan; hanya 38% dan 35%. Hal ini bukan hanya tergambar dari kehadiran orang-orang Kristen ke gereja, tetapi juga dalam hal doa.

Dalam survei tahun 1951, 58% perempuan berbanding 31% laki-laki mengaku berdoa minimal sekali dalam sehari.

Baca juga:  Para Perempuan Pemberi ASI Rasulullah SAW

Bisa dipastikan, orang-orang Amerika tampaknya lebih religius dibanding Inggris, tapi gender gap antara perempaun dan laki-laki juga cukup terlihat, yakni perempuan lebih religius daripada laki-laki. Survei tahun 2008 memperlihatkan, presentase perempuan yang secara teologis mengaku konservatif 16 poin lebih tinggi ketimbang laki-laki.

Tahun 1990-an, World Values Survey (WVS) meneliti 38 negara soal kepercayaan tentang adanya Tuhan. Hasilnya, kaum perempuan yang percaya Tuhan lebih banyak dibanding laki-laki. Tingginya tingkat religiositas perempuan itu ditemukan dalam banyak agama, termasuk Yahudi, Kristen, Islam, dan Hindu.

Meski keterlibatan perempuan dalam agama sangat tinggi dan dampak agama terhadap mereka sangat besar, gerakan perempuan untuk menekan ketegangan dan konflik agama-agama kurang begitu menonjol. Dan, kontribusi kaum feminis dalam ikut-serta menggalakkan dialog dan aksi lintas agama hampir tidak tampak.

Padahal, isu konflik dan perdamaian merupakan perkara pelik yang seharusnya juga menjadi perhatian serius, khususnya bagi perempuan yang intensitas agamanya mungkin lebih tinggi.

Berbagai survei itu menggambarkan bahwa ternyata perempuan lebih dekat dengan agama ketimbang laki-laki, kendati agama juga terkadang kurang ramah terhadap perempuan. Apa sebenarnya motif yang mendorong perempaun lebih religius daripada laki-laki?

Menurut saya, ini lagi-lagi soal kurangnya peran perempuan di ranah publik. Sebabnya, ibu-ibu yang kurang sibuk dengan pekerjaan, katakanlah ia hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, lebih banyak cenderung dekat dengan aktivitas kerohanian.

Baca juga:  Emma Poeradiredja, Pelopor Kesetaraan dari Tanah Pasundan

Saya tidak menyalahkan profesi pekerjaan yang mungkin membuat sebagian besar laki-laki menjadi tidak religius, atau bukan maksud saya mengkritik perempuan karena mereka kurang aktif di forum-forum perdamaian atau menjadi lebih religius karena kurang sibuk dengan pekerjaan, hal semacam ini namanya bias gender. Sebabnya, antara pekerjaan dan religiositas tidak memiliki hubungan satu sama lain, hanya mungkin memiliki dampak, betapapun kecil.

Selain itu, watak agama yang lebih dekat dengan motif-motif perasaan dan hati, lebih singkron dengan kondisi psikologis perempuan yang umumnya lebih mengedepankan perasaan daripada pikiran.

Artinya, banyak laki-laki kurang religius, bahkan anti agama, dengan mendasarkan diri pada argumen-argumen rasional dan menganggap bahwa religiositas tampak tidak masuk akal. Meski banyak juga kelompok feminis yang menentang fakta ini, tapi paling tidak ada rasio logis yang dapat mengantarkan kita pada pemahaman mengapa perempuan tampak lebih religius ketimbang laki-laki.

Di lain hal, banyak kaum feminis yang kurang tertarik pada soal pluralisme agama. Ketidak-tertarikan itu, lebih tepatnya, mereka merasa frustasi disebabkan oleh watak patriarkis agama-agama.

Meskipun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak sarjana Muslim mulai mempersoalkan tafsir-tafsir patriarki dan menawarkan model pemahamaan keagamaan yang berbasis kesetaraan. Karenanya, isu keragamaan agama sesungguhnya sangat relevan dengan concern mereka pada perjuangan gender.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top