Sedang Membaca
Beragama: Menjadi Umat Pembaca

Beragama: Menjadi Umat Pembaca

Setyaningsih

Tuhan memelukku dan berkata,
“Pergilah dan wartakanlah pelukanKu.
Agama sedang kedinginan dan kesepian.
Dia merindukan pelukanmu.”

Pemeluk Agama, Joko Pinurbo (Buku Latihan Tidur, 2017).

Seorang bocah perempuan, menghabiskan masa bersekolah di madrasah ibtidaiyah kampung, suatu waktu mempertanyakan apakah dia sudah menjadi pemeluk agama yang benar-benar teguh. Dia melewatkan masa kanak pada 1990-an di desa pinggiran Boyolali.

Si bocah sering sepedaan bersama teman-teman. Dia biasa menutup kepalanya dengan kerudung putih lusuh. Busana kausnya tetap berlengan pendek. Seorang teman pernah mengejek, “Pakai kerudung kok lengan bajunya pendek.” Si bocah agak malu, tapi tidak mau merasa pilu. Dia tetap sepedaan dengan sepeda kecil yang karatan dan sesekali rem tidak mempan.

Si bocah hidup di keluarga muslim, tapi orangtua tidak memiliki biografi nyantri. Bapak banyak belajar dari tetua agama di desa, kitab-kitab berhuruf Arab pegon, tafsir Al-Azhar Hamka, terjemah singkat Ibnu Katsier, buku-buku penuntun kecil dari Al-Ghazali, tafsir Quraish Shihab, dan buku-kitab lainnya.

Bapak juga suka buku-buku tentang tetumbuhan. Di meja, buku-buku berkumpul bersama kitab suci Alquran. Buku cerita nabi dan cerita Wali Songo sempat memukau si anak meski kemasan buku sangat buruk. Dia terpukau pada manusia-manusia suci nan fantastis.

Membaca cerita, membuat dia membayangkan bagaimana hidup di masa lalu. Seperti salat yang diajarkan sebagai ajakan sembahyang bersama, buku-buku bapak secara tidak langsung menggoda untuk membaca apa saja.

Kelak, dia sadar tentang ayat pertama yang suci itu, “bacalah!” tidak bisa berhenti pada kitab suci Tuhan saja. Beragama dengan waras terutama adalah dengan membaca, bukan membagikan unggahan agama yang sembarangan dari media sosial atau terus-terusnya memberi nasihat kepada orang tanpa pendasaran keilmuan dan kebijaksanaan kuat untuk terus mencari.

Si bocah ketika dewasa bertemu buku yang sangat memukau sekaligus mengagetkan, Musyawarah Buku (Khaled Abou El Fadl, 2002). Di buku terkatakan bahwa Alquran sebagai, “bacaan yang menjadi permulaan semua bacaan”.

Tidak ada keprihatinan bergama yang begitu tidak tersadari selain menjadikan kitab suci sebagai bacaan tunggal, dengan melupakan buku-buku yang lain. Seolah, Tuhan tidak bisa ditemukan selain di ayat-ayatnya yang suci.

Baca juga:  Ta’liq ‘ala Risalah fi ‘Ilmil Isti’arat: Kitab Retorika Karya Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas (1911)

Padahal, “Tuhan, melalui sebuah kitab tunggal, Engkau mentransformasi kami menjadi sebuah peradaban buku-buku.” Si bocah sadar berada di tengah umat yang perlahan melupakan diri sebagai umat pembaca.  Si bocah terus ingin tahu dari buku-buku. Hidup bersama buku-buku. Si bocah sekarang sudah dewasa. Aku.

Buku = Kitab

Kita jarang sekali diajari menyebut dan menganggap buku-buku selain berhuruf Arab sebagai “kitab”. Penyebutan itu terasa terlalu suci bagi buku-buku yang bisa saja diletakkan sembarangan, ditumpuk, selalu masuk tas sampai lusuh, atau dicoret.

Anggaplah sebuah buku cerita memukau yang kita selesaikan dan terus kita ingat sebagai bacaan pertama bahkan bisa terkenang sampai dewasa serta paling menentukan daya baca kita, tidak teranggap sebagai kitab setara sucinya dengan Alquran.

Dari pengalaman membaca sangat personal, pengalaman menulis buku mewujud sebagai manifestasi personal di tengah kehidupan komunal. Sejarawan dan spiritualis Karen Armstrong di Majalah Tempo (8-14 Juli 2013) mengakui bahwa pemikiran menulis The History of God, Muhammad: A Biography of the Prophet, dan lain-lain semacam menjadi suatu titik pendorong memikirkan welas asih.

Armstrong mengatakan ketidakmampuan kita menerima yang minoritas adalah masalah besar nasionalisme. Ada kekukuhan saat Armstrong mengatakan “agama bukan sumber konflik” merujuk pada sensitifitas dan perang melanda dunia atas nama agama.

Lewat penghargaan Technology, Entertainment, Design (TED) pada 2008, Armstrong menyerukan penyerbarluaasan gagasan welas asih “Charter of Compassion”. Perdamaian di dunia masih sangat bisa diusahakan lewat pemahaman global, “jangan memperlakukan orang lain seperti kita tidak mau diperlakukan.”

Seruan ini dijabarkan Armstrong dalam buku yang di Indonesia sudah diterjemahkan penerbit Mizan, Compassion, 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih (2012). Di sini, Armstrong mengajak publik dunia mengingat lagi tata kehidupan beragama dari pelbagai agama dan orang-orang suci yang menyerukan perdamaian.

Tahun 2000-an, literasi perdamaian lewat terjemahan novel-novel membuka jalan imajinasi turut merasakan konflik di negeri asing. Konflik di Timur Tengah melahirkan suara-suara dokumentatif atas kejahatan kemanusiaan dan kejahatan atas nama agama. Paling dirugikan tapi tidak menyerah adalah para perempuan.

Baca juga:  Mutu Kitab Kuning Terbitan Lokal Terjaga 

Penerjemahan buku mengajak pembaca di negeri-negeri yang cenderung lebih damai belajar dari hidup perempuan yang tengah bergulat menyuarakan perdamaian untuk diri, keluarga, teman, dan tanah leluhur. Ada cerita perempuan revolusioner bernama Kamila dari Afganistan yang didokumentasikan oleh mantan reporter ABC News, Gayle Tzemach Lemmon pada lawatan ke Afganistan (2005). Novel dokumentasi The Dressmaker of Khair Khana dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Penjahit dari Khair Khana (Gramedia, 2013).

Kamila adalah satu dari para perempuan Kabul yang dilarang bersekolah dan bekerja. Dia melakukan tidak revolusioner dari rumah dengan cara merintis usaha jahit pakaian dan kursus menjahit yang melibatkan keluarga, tetangga, teman, dan para perempuan yang tidak bisa lagi bekerja di luar rumah karena ancaman Taliban.

Kenyataannya, Kamila memiliki pelanggan dari kaum Taliban yang membeli baju untuk keluarga. Rumah dipakai Taliban untuk mati-matian menyembunyikan perempuan dari dunia atas nama perintah agama, justru memberi nafas bertahan hidup.

Baca Juga

Cerita lain ditulis oleh Latifa (Perempuan Internasional PBB 2002) dalam Wajah Terlarang (Fresh Book, 2006) diterjemahkan dari My Forbidden Face (2002). Latifa bercerita tanah Afghanistan yang kelam karena pendudukan Taliban sejak 26 September 1996. Sekolah, musik, film, dan segala kegembiraan di luar rumah diharamkan.

Latifa menulis, “Suatu hari seorang wanita Eropa mengutipkan sebuah nyanyian untukku. ‘Wanita adalah masa depan pria.’ Di Afganistan, lebih dari tempat lainnya, aku berdoa semoga kaum lelaki segera menyanyikan syair-syair ini juga”. Buku lain yang sampai diterjemahkan ke dalam 10 bahasa di 14 negara adalah Sognando Palestina, L’Amicizia, L’Amore, La Guerra yang diterjemahkan menjadi Sognando Palestina. Impian Palestina: Kisah tentang Persahabatan, Cinta, dan Perang (Pustaka Alvabet, 2006).

Buku ini ditulis oleh Randa Ghazy, seorang gadis keturunan imigran Mesir sebagai bukti empati kepada Palestina yang dicabik senjata perang. 10 bahasa dan 14 negara berarti pengakuan internasional bahwa masalah perang menjadi pertanggungjawaban global. Novel-novel menaut apa yang diserukan Karen Armstrong, “Agama bukan sumber konflik.”

Baca juga:  Sabilus Salikin (83): Tata Cara Halaqah Zikir Rifa'iyah (2)

Beberapa tahun terakhir, dunia Barat menunjukkan sikap mendua para masalah imigran. Ada semacam rasa traumatis ada ras dan agama yang dibawa para pencari suaka. Mohsin Hamid dalam novel yang masuk nominasi Man Booker Prize 2017 berjudul Exit West (2018) secara imajinatif mendokumentasikan gelombang imigran dari Timur Tengah atau negeri-negeri Asia menuju Eropa dan Amerika. Para pencari suaka adalah orang-orang yang dicabik perang. Mereka nekat menuju tanah harapan meski sulit diterima sebagai “sesama manusia” karena identitas ras dan agama.

Lewat salah satu tokoh utama pencari suaka, Saeed, kita melihat hidup yang berubah total. Perjalanan mencari suaka telah memberi pergolakan batin rumit dalam melihat lagi kenangan atas keluarga dan iman. Saeed mengalami pemaknaan ulang iman setelah cobaan berat itu. Baginya, salat bukan sekadar ritual bertendensi teologis.

Waktu kecil, Saeed melihat orangtuanya sembahyang dan merasakan ada kelegaan di sana. Sekarang, “…pada dasarnya dia salat sebagai tanda cinta atas segala hal yang telah hilang, segala hal yang akan hilang, dan segala hal yang tak mungkin dicintai dengan cara lain.

Ketika salat dia menyentuh orangtuanya, yang di luar itu sudah tidak dapat disentuh, dan dia menyentuh perasaan bahwa kita semua adalah anak-anak yang kehilangan orangtua, kita semua, setiap laki-laki dan perempuan dan anak laki-laki dan anak perempuan, dan kita semua juga akan membangkitkan rasa kehilangan pada mereka yang datang setelah kita dan mencintai kita.”

Ada buku-buku yang menyentuh iman, menempatkan kita pada masalah keberagamaan dan kemanusiaan global yang nyata daripada sekadar pertengkaran menjadi siapa paling saleh di grup media sosial atau seribu perkumpulan pengajian.

Kita barangkali tidak pernah begitu mengalami situasi beragama sekeras, seyakin, sepakem saat ini sampai orang di sekitar yang berbeda sedikit saja, langsung dianggap kafir. Kita ingat, biografi para orang suci selalu memuat pencarian, keraguan, selalu haus merengkuh pengetahuan.

Pencarian itu tidak bisa diselesaikan dari satu kitab saja.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top