Sedang Membaca
Perang Topat, Simbol Kerukunan Umat Islam dan Hindu di Lombok
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibrahimy cum Mahasantri Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur dengan konsentrasi Fikih dan Usul Fikih. Instagram @arfikri4ntb. Relawan Guide (Virtual) Indonesia Generasi Literat.

Perang Topat, Simbol Kerukunan Umat Islam dan Hindu di Lombok

Img 20200803 Wa0024

Makna peperangan dan perdamaian tidak selalu beroposisi biner. Alih-alih perang berkenaan dengan suasana tegang dan kekacauan, sedangkan perdamaian adalah keadaan kebalikannya. Justru tidak demikian dengan Perang Topat yang mentradisi di kalangan masyarakat Desa Lingsar, Lombok Barat. Bahkan sebaliknya, “perang” satu ini menjadi simbol kerukunan beragama masyarakat di daerah tersebut.

Selain itu, sebagai sebentuk akulturasi dua kultur agama yang berbeda, yakni Islam dan Hindu, eksistensi Perang Topat merupakan manifestasi dari falsafah berbangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika (bersatu dalam keberagaman).

Tradisi Perang Topat diselenggarakan di areal Pura Kemalik dan biasanya berlangsung setiap masa sebelum menanam padi, tetapi telah memasuki musim penghujan. Ini sebagaimana penjelasan Ahmad Abdusyakur dalam bukunya, Islam dan Kebudayaan: Akulturasi Nilai-nilai Islam dalam Budaya Sasak.

Sesuai namanya, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Sasak yang beragama Islam dan Hindu dengan saling melempar topat (ketupat). Selanjutnya, ketupat-ketupat yang telah dilempar tadi kemudian dipungut untuk dijadikan semahan agar kelak berhasil panen dan hasilnya melimpah ruah. Semahan atau sesajen itu lazimnya mereka taruh di temuku (tanggul kecil yang berfungsi membagi aliran air sawah).

Setali tiga uang, riwayat lain mendedah filosofi di balik upacara lempar ketupat tersebut. Bahwa beras sebagai bahan baku pembuatan ketupat-ketupat itu termasuk hasil tanah bumi Lingsar, sehingga atraksi melempar ketupat sejatinya amsal mengembalikannya ke asal muasalnya. Di samping itu, masyarakat Lingsar pun meyakini ihwal ini dapat mendatangkan tuah berupa kemangkusan ketupat yang telah dilemparkan dan jatuh ke tanah, menjadi pupuk bagi benih padi yang akan mereka tanam.

Perlu diketahui bahwa terdapat senarai prosesi awal sebelum menuju upacara puncak Perang Topat, antara lain prosesi Pujawali, Kebon Odek, dan Pesajik. Untuk prosesi yang pertama dapat dikatakan bahwa hal itu sebetulnya tergolong ritus eksklusif kalangan umat Hindu. Namun, Pujawali yang diadakan serangkai dengan Perang Topat mendapat pengecualian tersendiri; umat Islam setempat diperkenankan mengikuti upacara Pujawali. Malar-malar, upacara ini dikemas lebih semarak dengan menampilkan aneka hiburan dan kesenian rakyat beberapa hari sebelum dan sesudahnya.

Lalu, prosesi lainnya ialah Kebon Odek (sejenis arak-arakan) yang terdiri atas delegasi pihak muslim dan orang Hindu. Iring-iringan Kebon Odek yang bertugas menjemput dan mengusung Pesajik memutari Kemalik sebanyak tiga kali. Adapun Pesajik berarti sajen yang ditahbiskan sebagai persembahan dalam upacara Pujawali. Setelah sekian prosesi tersebut tuntas, barulah saatnya upacara Perang Topat dimulai.

Jika ditelisik lebih dalam, seperti halnya Perang Topat, seluruh rangkaian upacara penyertanya sama menyimpan nilai-nilai esensial menyangkut kerukunan beragama dan penghargaan terhadap perbedaan. Dalam konteks Pujawali, warga muslim dan penganut Hindu yang notabene berbeda akidah, begitu harmonis duduk berdampingan menjalankan peribadatan atau doa bersama sesuai kaifiah serta keyakinan sendiri-sendiri. Lain lagi prosesi Kebon Odek yang menggambarkan bagaimana kedua belah pihak berintegrasi secara adil sepenanggungan. Walakhir, adanya pesajik sebagai cerminan kesamaan pola pikir orang Islam dan Hindu di sana perihal komitmen transendental mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Koenjtaraningrat mengungkapkan bahwa hakikat sebuah budaya lahir dari konsensus anggota masyarakat berdasarkan hasil kontemplasinya yang didukung atas rasa saling percaya satu sama lain (selengkapnya lihat bukunya berjudul Pengantar Antropologi 1). Begitu pula dengan keberadaan Perang Topat di tengah-tengah masyarakat Hindu-Islam di Desa Lingsar, Lombok. Tradisi ini merupakan simbol perpaduan nilai sekaligus wujud buah perenungan mendalam di antara kedua komunitas beda agama tersebut. Umat Islam dan Hindu Lingsar masing-masing memberikan kontribusi tersendiri dalam setiap rangkaian prosesi adat Perang Topat. Kiranya hal ini yang menyebabkan tradisi “perang ketupat” memiliki makna historis yang mengakar kuat sehingga mampu lestari secara turun-temurun hingga kiwari. 

Namun demikian, pandangan Pitirim Alexandrovich Sorokin tentang konsep kehidupan manusia dan kebudayaan, perlu pula untuk dipertimbangkan. Sosiolog berkebangsaan Rusia itu menyatakan bahwa kehidupan manusia dan kebudayaan beredar dalam pola siklus tertentu; ada waktu di mana kehidupan dan kebudayaan manusia akan mencapai titik jenuh dan kembali kepada konsep awalnya. Manakala kita berpedoman pada konsep ini, maka bukan tidak mungkin keberlangsungan Perang Topat sebagai salah sebuah komponen budaya, akan tergilas zaman; terlebih di era digital zaman sekarang, berikut segala perubahan dan kemajuan drastis yang membersamai.

Asumsi di atas tampak logis jikapun kita mengupas kontroversi mengenai sejarah purwakala “peperangan” ini. Sebab, tak dinyana bahwa menurut sebagian masyarakat muslim Desa Lingsar, ternyata semula yang terjadi bukan “perang ketupat” antara orang Hindu dengan orang muslim, melainkan internal sesama muslim. Versi mereka, upacara Pujawali (dapat pula ditulis: Puja Wali atau dieja: Pujo Wali) adalah ritual haul dalam rangka memperingati kemangkatan sosok wali penyebar Islam awal di pulau Lombok yang moksa di Kemalik. Tempat ini demikian dikeramatkan oleh orang Sasak Islam lantaran menjadi tempat moksanya sang wali. Lantaran itu pula Kemalik menjadi destinasi berziarah warga yang hendak ber-wasilah dengan sang wali, termasuk peringatan haulnya atau Puja Wali. Maka wajar saja berbagai ritual penting keagamaan, semisal zikiran, barzanjian, acara pernikahan, dan ngurisan (acara akikah), dipusatkan di Kemalik.

Wali yang dimaksud kesohor dengan nama Lalu Ketut Miller, seorang ulama Timur Tengah yang datang langsung ke Lombok tanpa melalui pulau Jawa. Sebab itu, beliau digelari Lalu, bukan Sunan laiknya para penyebar agama Islam di tanah Jawa. Akan tetapi, berdasar penusuran penulis, tuturan sejarah ini kelihatannya bertolak belakang dengan  hikayat lian yang menceritakan asal usul tradisi Perang Topat. Alkisah, Raja Sriwijaya kala itu bersama rakyatnya lama mencari kakaknya, yaitu Ketut Miller. Dan akhirnya, pencarian panjang Raja Sriwijaya itu berujung di hutan Lendang Nyambuk yang kini menjadi wilayah Desa Lingsar. Nah, sebagai ungkapan kebahagiaan atas itulah segenap rakyat yang membersamai sang raja saling lempar perbekalan mereka, salah satunya ketupat. Jadi klaimnya, Perang Topat diadakan guna memperingati pertemuan Lalu Ketut Miller dengan adiknya, Raja Sriwijaya.

Beberapa abad kemudian, Anak Agung Gde Ngurah dari Kerajaan Karangasem, Bali, datang ke Lingsar dan mempersunting keturunan Lalu Ketut Miller bernama Dende Lengser. Lalu, Raja Bali tadi membangun persinggahan di area Kemalik yang kemudian karib disebut Pura Kemalik atau Pura Lingsar. Dengan demikian, sejak awal pura tersebut bukan dibangun sebagai tempat peribadatan, tetapi semata untuk persinggahan sang raja. Jikapun kemudian digunakan bersembahyang, tidak sembarang orang  diperbolehkan. Hanya umat Hindu dari kasta brahmana dan kstaria yang boleh beribadah di pura itu. Di sisi lain, konstruk bangunan pura menyimpan keunikan karena mengakomodir simbol-simbol Islam. Contohnya, jumlah anak tangga memasuki pura ada tujuh belas sepadan dengan jumlah rakaat salat sehari semalam; pancuran yang berjumlah sembilan perlambang wali sanga; dan eksotisme posisi pura yang mengarah ke kiblat. Konon, ini dilatari tuntutan warga muslim Lingsar kepada Raja Anak Agung, mengingat tanah tempat dibangunnya pura itu merupakan milik orang-orang Islam.

Seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran dalam konteks penggunaan pura tersebut. Lagi-lagi menurut pengakuan sebagian warga muslim setempat, bahwa kian hari kian tampak kentara usaha dari warga Hindu untuk mengambil alih area Kemalik. Satu bukti nyata, proses Hinduisasi sumber air suci Kemalik yang oleh masyarakat muslim Lingsar diyakini sebagai tempat moksanya Lalu Ketut Miller. Kendati sampai sekarang secara kasat mata masyarakat Islam dan Hindu Lingsar masih rukun berbagi kaveling peribadatan di tempat keramat tersebut.

Arkian, kemasygulan dari komunitas muslim Lingsar yang terekam dari klaim historis sepihak—seperti telah disinggung sebelumnya—dan pengakuan sentimental dari sebagian warga muslim tadi, potensial menjelmakan bom waktu dan pemantik konflik di masa mendatang. Selain, intrik sosial semacam itu pula yang akan menggerogoti kelestarian tradisi Perang Topat. Padahal, selama ini tradisi “perang ketupat” menjadi simbol kerukunan beragama sekaligus perpaduan nilai antara umat Islam dan Hindu di pulau Lombok.

Baca juga:  Rumor dan Hoaks dalam Pewayangan Jawa
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top