Sedang Membaca
Menjadi Wali karena Sabar Menghadapi Istri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menjadi Wali karena Sabar Menghadapi Istri

Rizal Mubit

Di Hadramaut Yaman ada makam seorang wali bernama Aburrahman Bajalhaban. Beliau diangkat menjadi wali Allah karena kesabarannya menghadapi istri yang cerewet dan keras kepala. Namun sebelum peristiwa pertemuan dengan dua orang wali Allah, beliau tidak sadar kalau dirinya wali. Sebab merasa dirinya hanya manusia biasa sebagaimana orang lain.

Nama Abdurrahman Bajalhaban dikenal banyak orang sebagai suami yang sangat sabar. Khususnya sabar saat dimarahi istrinya. Beliau tak pernah membalas kemarahan istrinya meskipun level cerewet istrinya lebih dari perempuan pada umumnya. Karena sikap istrinya, lama-lama Syaikh Abdurrahman Bajalhaban tidak betah di rumah. Beliau pun pergi meninggalkan rumah.

Di perjalanan, Syaikh Abdurrahman kehabisan bekal. Tanpa disengaja beliau bertemu dengan dua orang wali pengelana. Abdurrahman Bajalhaban kagum sekali dengan dua orang wali pengelana ini. Sebab dua orang ini setiap kali meminta sesuatu Allah selalu dikabulkan.

Minta makanan, Allah memberinya makanan. Minta minuman, Allah lalu menurunkan minuman. Sehingga dua orang ini tak perlu bekerja namun bisa memenuhi kebutuhan hariannya.

Syaikh Abdurrahman Bajalhaban pun penasaran lalu mencoba melakukan hal yang sama diminta oleh dua orang wali.

“Ya Allah, saya minta makanan ini. Ya Allah saya minta minuman ini,” ucap Syekh Abdurrahman.

Baca juga:  Belajar Toleransi dari Desa

Tak lama kemudian, turunlah makanan yang diminta. Jumlahnya dua kali lipat dari jumlah yang diminta dua wali pengelana tersebut.

Dua orang wali pengelana ini pun takjub penasaran. Ternyata ada orang yang memiliki kemampun yang lebih hebat dari mereka. Lalu dua orang wali ini pun bertanya kepada Syaikh Abdurrahman Bajalhaban.

“Syaikh, doa apa yang panjenengan ucapkan sehingga bisa mendapatkan makanan dari Allah lebih dari yang kami minta?”

Syekh Abdurrahman Bajalhaban pun bingung sebab baru pertama kali mendapatkan makanan dari Allah. “Ngapunten. Maaf. Aku ingin tahu doa apa yang panjenengan sampaikan sehingga bisa mendapatkan makanan yang kalian minta dari Allah.”

Salah satu dari mereka menjawab.

“Begini, Syaikh. Ketika kami ingin sesuatu makanan, kami akan salat lalu kami meminta kepada Allah dengan bertawassul melalui Syaikh Abdurrahman Bajalhaban, seorang wali yang saleh diangkat derajatnya oleh Allah karena kesabarannya menghadapi istrinya. Beliau tinggal di dekat pegunungan ini.”

Syaikh Abdurrahman pun takjub mendengar penjelasannya. Ternyata selama ini beliau dikenal orang sebagai wali yang sabar menghadapi istri.

“Bagaimana dengan panjenengan, Syekh?”

Baca Juga

Syekh Abdurrahman pun menceritakan bahwa dirinya adalah orang yang mereka tawasuli. Kedua orang inipun sungkem kepada Syaikh Abdurrahman. Beliau lalu pulang dan menceritakan kewaliannya kepada istri. Setelah itu, istrinya menjadi lebih lembut.

Baca juga:  Perhatian Orientalis terhadap Kajian Tasawuf

Dari kisah tersebut kita bisa mendapatkan kesimpulan bahwa memiliki istri yang cerewet bila disikapi dengan positif akan berdampak positif pula. Cerewetnya seorang istri bisa jadi memang sudah sunnatullah.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, Amerika Serikat mengungkap fakta bahwa perempuan berbicara 3 kali lipat daripada laki-laki.

Dalam satu hari penuh, rata-rata perempuan mengeluarkan 13.000 hingga 20.000 kata, sedangkan laki-laki hanya mengeluarkan 7.000 kata. Jadi, memang benar bukan kalau perempuan disebut cerewet.

Imam al-Ghazali dalam  Ihya Ulumiddin menyebutkan bahwa salah satu syarat agar orang bisa menjadi wali Allah adalah sabar menghadapi istri yang cerewet. Ungkapan ini tentu saja ada alasannya. Sebab di dalam Alquran, Allah menyatakan “Wa’asyiruuhunna bi al-ma’ruuf.” Artinya orang harus terus berbuat baik kepada istrinya.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top