Sedang Membaca
Bagaimana Menetapkan Status Seorang Perawi
Penulis Kolom

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, sekarang aktif sebagai Pengajar di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah Berjan Purworejo.

Bagaimana Menetapkan Status Seorang Perawi

E7hwvhtuyamecfl

Dalam menetapkan status seorang rawi apakah dia rawi yang tsiqah atau tidak, ada beberapa cara yang dapat ditempuh. Berikut ini penulis sebutkan cara-caranya disarikan dari kitab Manhaj al-Naqd karangan Syekh Nuruddin ‘Itr, al-Raf’u wa al-Takmil karya al-Laknawi, dan referensi pendukung lain:

Mendapat Penilaian dari Para Ahli

Penilaian dari para ahli dalam ilmu Jarh wa Ta’dil dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui status seorang rawi apakah dia rawi tsiqah atau tidak. Misal seorang ahli seperti Ahmad bin Hanbal, Ibn Hibban, Ibn Hajar, atau lainnya mengatakan bahwa Fulan adalah rawi yang terpercaya, maka keterangan tersebut dapat dijadikan acuan untuk menstatuskan rawi tersebut sebagai orang yang tsiqah. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah minimal para ahli yang menilai.

Pendapat Pertama

Sebagian ulama berpendapat seorang rawi dianggap tsiqah atau tidak jika telah mendapat penilaian minimal oleh dua orang ahli hadis. Misalnya, Imam Ahmad dan Imam Ibn Hibban mengatakan bahwa Fulan adalah rawi yang tidak tsiqah, maka keterangan ini bisa dijadikan acuan untuk menstatuskan rawi tersebut sebagai rawi yang tidak tsiqah. Berbeda jika hanya satu orang yang menilai, maka tidak bisa dijadikan acuan. Hal ini berdasarkan analogi, yaitu menganalogikan jarh wa ta’dil dalam hadis dengan jarh wa ta’dil dalam masalah persaksian (syahadah), di mana dalam masalah persaksian, dibutuhkan minimal kesepakatan dua orang yang menilai seorang saksi apakah bisa dipercaya atau tidak.

Baca juga:  Politik Ukhuwah Islamiyah: Satu Lagi Tugas Menteri Agama

Pendapat Kedua

Ulama lain seperti al-Khathib, Ibn Shalah, dan banyak ulama berpendapat bahwa untuk menstatuskan seorang rawi apakah dia tsiqah atau tidak, cukup dengan penilaian satu orang saja. Artinya, jika salah satu ahli hadis telah mengatakan bahwa Fulan tsiqah, maka hal ini dapat dijadikan acuan untuk menstatuskan rawi tersebut sebagai orang yang tsiqah. Para ulama yang memegang pendapat kedua ini berargumen bahwa menerima jarh wa ta’dil dalam hadis ketetntuannya sama dengan ketentuan menerima riwayat hadis, yang mana tidak menyaratkan jumlah minimal dua orang. Menurut para ulama ini, jarh wa ta’dil dalam hadis tidak sama dengan jarh wa ta’dil dalam permasalahan persaksian. Pendapat kedua inilah yang sahih seperti disebutkan Ibn Shalah dalam Muqaddimah-nya

Masyhur sebagai Orang Tsiqah (Istifadlah)

Maksud dari poin nomor dua adalah ketika seseorang sudah masyhur sebagai orang yang berilmu dan terpercaya, maka tidak perlu ada penilaian dari para ahli hadis. Karena kemasyhuran ilmu dan kredibilitasnya tersebut sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah orang yang tsiqah. Kemasyhuran ini bahkan lebih kuat dari penilaian (ta’dil) seorang ahli hadis. al-Khathib al-Baghdadi memberi contoh orang yang masuk kategori ini adalah seperti Imam Malik, Imam Sufyan al-Tsauri, Imam Sufyan bin ‘Uyaiynah, dll. Beberapa ucapan para ulama yang menunjukkan tentang hal ini adalah:

al-Khathib al-Baghdadi Dalam alKifayah,

فهؤلاء وأمثالهم لا يسأل عن عدالتهم، وإنما يسأل عن عدالة من كان في عداد المجهولين

Baca juga:  Pembebasan Hagia Sophia adalah Perlawan Terhadap Sekulerisme

Mereka dan orang-orang dengan kriteria seperti mereka tidak perlu dipertanyakan sifat ‘adalah-nya. Yang perlu dicari tahu sifat ‘adalah-nya adalah orang-orang yang tidak dikenal.

Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang kredibilitas Ishaq Ibn Rahuwaih, lalu beliau menjawab:

مثل إسحاق يسأل عنه؟ إسحاق عندنا إمام من أئمة المسلمين

Orang seperti Ishaq masih dipertanyakan kredibilitasnya? Bagiku, dia adalah salah satu ulama besar bagi kaum muslimin.

Imam Yahya Ibn Ma’in

Yahya Ibn Ma’in pernah ditaya tentang Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam, lalu beliau menjawab:

مثلي يسأل عنه؟ هو يسأل عن الناس

Orang sepertiku ditanya tentang Abu ‘Ubaid? Dialah yang seharusnya ditanya tentang orang lain

Ucapan Yahya Ibn Ma’in ini menunjukkan bahwa Abu ‘Ubaid tidak perlu dipertanyakan lagi kredibilitasnya. Bahkan, seharusnya dialah yang dimintai pendapat tentang orang lain karena keluasan ilmunya.

Dikenal sebagai Ulama

Yang dimaksud dari poin ketiga ini adalah jika ada orang yang telah masyhur sebagai ulama dan tidak diketahui ada yang melakukan kritik tentang kredibilitasnya (jarh), maka orang tersebut dihukumi sebagai orang yang tsiqah atau terpercaya. Penggagas pendapat ini adalah Ibn ‘Abdil Barr, beliau mendasarkan pendapatnya pada hadis:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله

Baca juga:  Statemen Gus Yaqut dan SE Menag dalam Kajian Turast Klasik

Ilmu ini diemban oleh para orang yang memiliki sifat ‘adalah di setiap generasi.

Para pengemban ilmu adalah ulama, maka berdasarkan hadis di atas, ulama adalah orang yang memiliki sifat ‘adalah. Pendapat ini mendapat kritik dari Ibn Shalah dalam Muqaddimah-nya. Setelah menukil pendapat tersebut, Ibn Shalah berkomentar

وفيما قاله اتساع غير مرضي

Pendapat Ibn ‘Abdil Barr tersebut mengandung unsur kelonggaran tidak bisa diterima.

Maksud Ibn Shalah adalah bahwa pendapat Ibn ‘Abdil Barr terlalu longgar jika dimutlakkan, karena tanpa keterangan apapun tentang sifat orang tersebut langsung menghukumi seseorang sebagai orang yang tsiqah. Seharusnya, orang yang tidak diketahui bagaimana personalnya, masuk dalam kategori majhulin; para rawi yang tidak dikenal. Namun, al-Sakhawi dalam Fath al-Mughits menukil ucapan al-Dzahabi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud Ibn ‘Abdil Barr bukanlah orang-orang yang tidak dikenal.

Yang dimaksud oleh Ibn ‘Abdil Barr adalah orang yang masyhur sebagai ulama ahli hadis, dan setelah diselidiki tidak ada yang menilai kredibilitasnya baik atau buruk, maka dia dihukumi sebagai rawi yang tsiqah. Hadis yang dijadikan hujjah oleh Ibn ‘Abdil Barr sendiri seperti dikatakan Syekh Nuruddin ‘Itr status kesahihannya diperdebatkan oleh para ulama. Banyak ulama yang menilainya sebagai hadis lemah (dla’if), namun sebagian ulama ada yang menilainya sebagai hadis hasan karena diriwayatkan dari banyak jalur.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top