Sedang Membaca
Oase di Tengah Pandemi: Wabah Corona dan Umat Islam Indonesia di Belanda
Adrian Perkasa
Penulis Kolom

Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga dan PhD candidate di Universiteit Leiden.

Oase di Tengah Pandemi: Wabah Corona dan Umat Islam Indonesia di Belanda

Whatsapp Image 2020 04 02 At 5.25.51 Pm

Gambar di atas merupakan foto salah satu halte bus yang berada di daerah Amersfoort, Belanda. Menariknya, tulisan yang terpampang di sana merupakan kutipan dari ayat suci Al-Quran yakni Al- Maidah ayat 32. Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini, “Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh umat manusia”. Tulisan tersebut meski sederhana, bisa diibaratkan oase di tengah padang pasir yang kering kerontang. Begitu syahdu menyentuh kalbu di tengah gelombang wabah pandemi Covid-19 yang tengah kita hadapi di seluruh belahan dunia.

Betapa tidak, isi dari percakapan khususnya yang ada di media-media sosial nyaris semuanya berisi hal-hal yang membuat kita khawatir, panik, cemas, dan banyak hal negatif lainnya. Belum lagi apabila kita melihat tidak sedikitnya mereka yang mengeruk keuntungan di kala banyak pihak kesusahan. Mulai dari seseorang yang menimbun berbagai kebutuhan sehingga menyebabkan langkanya barang tersebut hingga oknum pejabat yang menyelipkan aneka kepentingannya manakala publik disibukkan dengan pandemi. Memang kita harus waspada dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kemungkinan yang terburuk, akan tetapi jika kita terus-terusan terpapar oleh berita semacam ini, bisa jadi kita sendiri malah terkena imbas hal-hal negatif. Bukankah kata Ibnu Sina kepanikan adalah separuh penyakit itu sendiri?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bisa jadi poster yang ada di atas tadi akan tampak biasa saja apabila terpampang di negeri yang mayoritas warganya adalah pemeluk Islam. Namun manakala poster itu muncul di tengah masyarakat dengan populasi umat Islamnya minoritas seperti Belanda, tentu akan memunculkan efek yang berbeda. Apalagi di kehidupan perpolitikan Belanda terdapat satu kelompok tertentu dan politisi yang secara terang-terangan mengusung agenda anti-Islam. Eksistensi pesan yang terpampang di ruang publik seperti yang ada dalam gambar tersebut memperlihatkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dakwah semacam ini harus diakui merupakan bentuk dakwah yang kreatif, cerdas, dan tepat sasaran dalam menyikapi perkembangan pandemik Corona khususnya di Belanda.

Baca juga:  Tafsir Pisang dan Pesan H Munawar Chalil

Bagi umat Islam Indonesia yang ada di Belanda, situasi ‘intelligent lockdown’ seperti yang diterapkan oleh pemerintah Belanda tentu merupakan tantangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Bagaimana tidak, ibadah lima waktu, sholat Jumat, hingga pengajian rutin yang biasa dilakukan harus terhenti sementara mengikuti aturan dari pemerintah. Di sinilah saya hendak berbagi secuil pengalaman dan pengamatan terkait bagaimana umat muslim Indonesia di Belanda tetap berupaya menyebarluaskan ajaran Islam sejak berlangsungnya ‘intelligent lockdown’ pertengahan Maret lalu hingga awal bulan April 2020.

Salah satu upaya kreatif untuk tetap menjaga silaturrahim dan menambah ilmu agama adalah melalui pengajian daring atau online. Berbagai platform yang menyediakan livestreaming hingga aplikasi meeting seperti Zoom menjadi populer sebagai sarana pengganti tatap muka langsung. Tidak hanya antar umat Islam Indonesia yang ada di Belanda melainkan juga dengan yang ada di Indonesia. Hal ini tampak pula dari apa yang dilakukan oleh KH Dr Ahmad Nafi’ pengurus pusat Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) dengan jamaah tariqat yang tinggal di Belanda. Pada bulan Januari dan Februari silam, Kyai Nafi’ berkesempatan untuk mengisi beberapa pengajian komunitas muslim Indonesia di beberapa kota di Belanda. (Baca: Ngaji Tasawuf di Belanda).

Meski telah kembali ke tanah air, Kyai Nafi’ tetap menjalin komunikasi yang intens dengan komunitas muslim Indonesia di Belanda. Selain bertukar kabar melalui media seperti WhatsApp group, pada beberapa kesempatan beliau juga mengirimkan pesan-pesan maupun ijazah doa khususnya dalam menghadapi wabah Corona. Pengasuh Pondok Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel Jember ini juga mengirimkan wejangan pada saat kegiatan khususiyah Senin, 30 Maret yang lalu. Melalui livestreaming, komunitas Islam yang ada di Den Haag, Leiden, Wageningen, hingga Eindhoven bisa mengikuti apa yang disampaikan oleh Kyai Nafi’ meski secara fisik terpisah puluhan ribu kilometer.

Baca juga:  Konsep Islam Nusantara yang Disalahpahami

Di antara berbagai pesan yang disampaikan, terdapat satu hadits Rasulullah SAW yang kiranya sesuai untuk menjadi panduan umat muslim hari ini di tengah pandemi Corona. Hadits yang disampaikan tersebut terdapat dalam Shahih Muslim yang menyatakan ketakjuban Nabi terhadap orang yang beriman. Bagaimana tidak, dalam kondisi apapun seorang mukmin itu selalu meresponnya dengan baik. Ketika diberi kesenangan, ia bersyukur dan pada saat diberi musibah, maka ia bersabar. Dalam penjelasan Kyai Nafi’ baik bersyukur maupun bersabar sama-sama bernilai ibadah. Bahkan bisa jadi musibah itu diturunkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya agar si hamba mendekatkan diri atau taqarrub kepada-Nya.

Pesan ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Mungkin tidak sedikit di antara kita, termasuk saya sendiri, yang merasa dirugikan ketika pandemi ini semakin meluas. Betapa banyak acara, komitmen, dan urusan-urusan lainnya harus tertunda bahkan batal karena dampak yang ditimbulkan oleh wabah Corona. Bukanlah hal yang mudah untuk menerapkan work from home atau bekerja dari rumah bagi kita. Belum lagi banyaknya keterbatasan yang terjadi seiring semakin ketatnya kontrol yang diambil oleh pemerintah termasuk urusan ibadah. Di sinilah kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi musibah pandemi Corona dimanapun kita berada.

Kesabaran bukanlah berarti berpangku tangan, pasrah menerima apapun begitu saja. Di titik ini kemudian Kyai Nafi’ mengajak jamaahnya yang terdiri dari berbagai latar belakang baik profesi, pendidikan, hingga tempat bermukimnya untuk membaca fenomena pandemik ini sesuai dengan kompetensinya. Bagi mereka yang berprofesi sebagai tenaga medis dan bisa diibaratkan sebagai ujung tombak dalam perjuangan menanggulangi dampak pandemik Corona tentu harus mendapat prioritas utama. Belum lagi berbicara dampak sosial ekonomi di depan mata, tidak hanya bagi mereka yang ada di Indonesia maupun di Belanda melainkan juga di seluruh dunia, maka tentu diperlukan ikhtiar bersama untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut.

Baca juga:  Menghampiri Kematian (2): Pengalaman Mati Suri Seorang Muslim dan Ahli Syaraf Harvard

Maka di sinilah wejangan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari kembali bergema, Isy Kariman aw mut Syahidan, hiduplah dengan mulia atau matilah secara syahid. Kita semua memiliki peran penting. Bagi mereka yang memiliki privilege atau keistimewaan untuk bisa bekerja di rumah, tetaplah di rumah. Betapa banyak di antara kita yang tetap harus bekerja ke luar rumah dengan berbagai risiko baik tertular maupun menulari. Tentu mudah sekali menyalahkan berbagai pihak atas musibah wabah ini, tetapi tentu saja saat ini bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Bak lingkaran setan, tidak akan berhenti wabah ini jika kita terus saling menyalahkan. Muhasabah diri bagaimana kita bisa menjadi bagian dari solusi bukan malah menambah masalah.

Banyak cara kreatif untuk kita agar bisa berkontribusi kepada masyarakat. Pesan yang ada di halte bus tadi salah satu contoh konkritnya. Memang harus diakui tidak mudah untuk menghadapi situasi seperti ini, tetapi bukan tidak mustahil pula justru memunculkan beragam inisiatif baru yang mungkin belum terjadi atau tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Seperti misalnya dalam suasana ‘intelligent lockdown’ di Belanda, pengajian di kalangan komunitas muslim Indonesia di Belanda semakin intens dan beragam. Kitab-kitab yang dulu pernah dibaca, kini dibuka kembali dan dipelajari bersama. Di antara kitab tersebut bahkan juga dibahas salah satu naskah tertua terkait ajaran akidah dan akhlaq beraksara dan berbahasa Jawa.

Tentu masih banyak contoh lainnya yang tidak bisa tertuliskan semuanya di sini. Apalagi mengingat bulan Ramadan akan segera tiba, tentu intensitas kegiatan umat muslim pun bertambah. Teriring doa kita panjatkan agar wabah Corona segera diangkat oleh Allah SWT, juga semoga kita dipertemukan oleh-Nya dengan bulan yang paling mulia, bulan Ramadan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top