Sedang Membaca
Kisah Ar-Razi: Dokter dan Pembangun Rumah Sakit Handal
Penulis Kolom

Penikmat Kopi dan senja, Pegiat Literasi di Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin, Ngabdi di Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU) Kota Bandung.

Kisah Ar-Razi: Dokter dan Pembangun Rumah Sakit Handal

Lukisan Ar Razi

Seorang bayi terbaring yang di sampingnya duduk seorang lelaki setengah tua mengenakan serban dan jubah yang tengah memeriksanya. Tangan kanan lelaki itu membuka kelopak mata sebelah kiri sang bayi guna mengetahui apa penyakit yang dideritanya. Setelah terlihat sinar yang terpancar dari bola matanya, lelaki itu tahu bahwa sang bayi sedang mengidap penyakit campak.

Lelaki itu merupakan dokter yang pertama dapat membedakan antara penyakit cacar dengan campak: dua penyakit menular yang berbahaya. Dia pula sebagai dokter menjadi peletak dasar pertama membuat diagnosa penyakit berdasarkan pemeriksaan bola mata.

Demikianlah lukisan karya Robert Thom seorang seniman yang banyak menggambarkan keadaan dokter-dokter zaman dahulu: dalam melukiskan Ar-Razi.

Dokter itu bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi, dikenal di dunia barat sebagai Rhazes. Seorang dokter yang hidup di abad ke 9-10 Masehi. Ar-Razi dilahirkan di Raz, Khurasan (Iran saat ini) pada tahun 864 M. dari sejak kecil Ar-Razi tertarik dan menggemari musik. Kepiawaiannya bermain gambus cukup membuat pendengarnya terpesona. Namun, saat usianya mencapai 30 tahun ia menemukan jalan sebagai peranannya tersendiri.

Alkisah seorang kawannya yang merupakan ahli farmasi bekerja pada sebuah rumah sakit di kota Raz. Ar-Razi sering berkunjung pada kawannya dan bermain musik di tengah pasien yang ternyata saat mendengar lantunan musik yang dimainkannya merasa terhibur yang mampu melupakan penderitaan dan meringankan rasa sakitnya. Dari pengalaman itu Ar-Razi sampai pada sedikit kesimpulan, bahwa musik pun merupakan salah satu faktor pengobatan.

Baca juga:  Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (1/3)

Dari pengalamannya itu Ar-Razi mulai memperhatikan masalah pengobatan orang sakit. Namun, ia sadar bahwa musik kendati bisa mengobati namun bukan satu-satunya cara untuk mengobati segala macam penyakit. Ada hal lain yang harus dilalui sebagai jalan penyembuhan seperti operasi dan lain sebagainya. Barulah ia mempelajari ilmu kedokteran secara telaten.

Pada saat itu ada seorang dokter terkenal bernama Ali ibnu Sahal al-Thabari—seorang penganut Yahudi yang kemudian dengan penuh kesadaran memeluk Islam. Ar-Razi belajar kepadanya hingga ia berhasil menguasai ilmu kedokteran. Bukan hanya itu, dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa, ia kemudian mampu mengetahui bahwa masalah kedokteran saat itu masih banyak terliputi oleh pelbagai takhayul dan khurafat yang tidak memiliki dasar logika sama sekali.

Bahkan, saat itu buku-buku Galenus yang dianggap suci oleh kalangan dokter pada masanya hingga beberapa abad kemudian pun tidak bebas dari pandangan takhayul dan khurafat, kendati memang kebenaran yang terdapat pada karya Galenus tidak terbantahkan. Ar-Razi dengan tekun terus belajar hingga pada titik tertingginya ia dipercaya dan diangkat menjadi kepala rumah sakit Baghdad, ibukota dunia Islam dimana ia hidup.Abu Bakar Ar-Razi kemudian terkenal ke segala penjuru. Pasien-pasiennya datang dari Sind, india, bahkan dari Eropa hanya untuk berobat kepadanya.

Baca juga:  Mesir Pernah Bersinar, Jepang pun Datang Belajar

Satu ketika pihak yang berkuasa saat itu Khalifah Harun Al-Rasyid memberi kepercayaan penuh kepada Ar-Razi dan memintanya mendirikan sebuah rumah sakit. Bukan hanya itu, Ar-Razi sendiri yang harus menentukan di mana tempat yang layak untuk pembangunan rumah sakit.

Menarik apa yang dilakukan Ar-Razi kemudian, ia meminta beberapa kerat daging, dan daging-daging itu digantungkan pada beberapa tempat di kota Baghdad hingga kemudian dibiarkan sampai membusuk. Di antara daging-daging yang ia sebar itu ternyata ada yang tidak sampai busuk. Maka, menjadi jelas bagi Ar-Razi bahwa rumah sakit harus dibangun di tempat itu.

Apa yang dilakukan Ar-Razi bukan tak beralasan, dialah dokter pertama yang menginsyafi arti udara yang bersih untuk melawan penyakit menular. Rumah sakit yang didirikannya juga memiliki rancangan pemisahan ruangan bagi pasien dengan penyakit menular.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top