Sedang Membaca
Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (1/3)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (1/3)

R. Iffat Aulia Ahmad Argawinata

Diskursus tentang kenikmatan dan kebahagiaan diri telah menarik perhatian para filsuf sejak zaman dahulu. Abu Bakr ar-Razi (w. 313 H) dan para penganut mazhab naturalis (at-tabi‘iyyah) berpendapat bahwa kenikmatan (ladzdzah) terletak dalam kembalinya pribadi manusia kepada pembawaan alaminya.

Ia memisalkan keadaan nikmat seperti seorang pengelana yang tinggal di suatu tempat nan sejuk dan rindang lalu harus menempuh perjalanan yang amat panas serta terik hingga akhirnya berpulang ke tempat asalnya tadi. Kala berada dalam perjalanan, ia merasakan kegelisahan yang begitu besar (adza) dan terus-menerus menostalgiakan kenikmatannya yang hilang (istildzaz). Begitu tiba sekali lagi pada kediamannya yang menyenangkan, istildzaz itu hilang dan ladzdzah dengan seketika menggantikannya. Baca Abu Bakr Muḥammad b. Zakariyya’ ar-Razi, aṭ-Ṭibbur Ruhani.

Menyoal kebahagiaan (eudaimonia), Aristoteles (w. 332 SM) mengetengahkan bahwa hal tersebut merupakan aktivitas yang dikerjakan oleh seorang manusia guna mencari dari dalam dirinya sendiri sesuatu yang menjadi kedambaannya. Kebahagiaan bersifat swatantra sebab ia tidak kekurangan apa pun. Ia membedakan dirinya dari kenikmatan pada tataran bahwa ia harus mengandung nilai-nilai kebajikan.

Seorang sahaya, ucap Aristoteles, bisa saja mereguk kelezatan badani yang sama seperti manusia budiman. Akan tetapi, jelas, yang pertama tak dapat dikatakan berbahagia sebagaimana yang kedua.

Kenyataan ini, menurutnya, berpangkal dari realitas bahwa para bijak-bestari mengisi hidup mereka dalam pergumulan kontemplatif. Semakin kontemplatif, mereka pun semakin bijak dan, alhasil, semakin bahagia.

Baca Juga:  Jaran Goyang dalam Tiga Variasi

Berangkat dari penuturan kedua filsuf besar Islam dan Yunani di atas, kita dapat merumuskan sebuah sintesis bahwa, bila diiringi dengan peranti-peranti kebaikan dan dikembangkan secara kontinu, kenikmatan yang berlaku sementara dapat berhilir pada kebahagiaan yang berlangsung langgeng.

Dengan kata lain, seseorang akan mencapai tingkat-tingkat kebahagiaan yang paripurna ketika ia mengeksplorasi hakikat-hakikat dan pembawaan alami dari dirinya dalam usaha serta perenungan yang berkelanjutan. Pertanyannya, apakah sebenarnya yang menjadi hakikat kemanusiaan itu?

Alquran menjawab persoalan tersebut. Dalam Surah ar-Rum ayat 30, Allah Ta’ala berfirman:

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَنْ يَّهْدِيْ مَنْ أَضَلَّ اللّٰهُ ۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نَّاصِرِيْنَ ۝ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۚ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝

“Sebaliknya, orang-orang yang aniaya justru mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu mereka tanpa adanya pengetahuan. Lantas, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada ia yang telah Allah sesatkan? Dan, bagi mereka, tiada terdapat orang-orang yang menolong. Oleh karena itu, tegakkanlah wajah engkau dengan condong kepada agama! Demikianlah fitrah Allah yang di atasnya Dia fitrahkan manusia. Tiada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang kokoh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat ini dengan gamblang mengutarakan bahwa fitrah yang dalam padanya manusia diciptakan adalah untuk mencondongkan “wajah” secara teguh ke arah agama.

Baca Juga

Sebab, mengutip Ibnu Jarīr (w. 310 H), kata fiṭrah di sana berkedudukan sebagai nomina infinitif (maṣdar) yang diinferensi dari makna kalimat, “Fa aqim wajhaka li ad-din hanifa.” Fitrah itu tidak akan berubah sampai akhir hayat. Hanya saja, mayoritas orang tidak memahaminya karena noda-noda kedurjanaan telah menghitamkan jiwa mereka.

Baca Juga:  NU Menghalau Darul Islam

Berkenaan dengan agama yang ke arahnya manusia diuntut untuk senantiasa bercondong, Nabi Muhammad Saw sendiri selaku penerima wahyu Alquran telah menerangkan bahwa ia adalah Islam. Imam at-Tabrani(w. 360 H) meriwayatkan bahwa beliau pernah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ إِلَّا عَلٰى فِطْرَةِ الْإِسْلامِ حَتّٰى يُعْرِبَ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

“Tiada seorang pun yang dilahirkan, kecuali di atas fitrah Islam, hingga ia fasih dalam berbicara. Kemudian, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Kristiani, atau Majusi.”

Jadi, mencondongkan diri dengan penuh perenungan dan tak henti-hentinya pada nilai-nilai keislaman adalah nama lain dari fitrah alias hakikat kemanusiaan. Untuk meraih kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki, inilah jalan yang harus ditapaki oleh manusia. Tanpanya, ia akan menjadi mangsa nan empuk bagi ketergelinciran yang, jika terjadi secara berulang kali, dapat berakibat pada kelumpuhan kedua kakinya.

Lihat Komentar (0)

Komentari