Sedang Membaca
Musyrik Menurut Kiai Bisri Mustofa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Musyrik Menurut Kiai Bisri Mustofa

Hamzah Sahal

Dalam sebuah rekaman suara, terdengar suara Kiai Bisri Mustofa (ayahanda Gus Mus) sedang berpidato, dengan bahasa Jawa. Era Orde Lama hingga awal Orde Baru, Kiai Bisri memang dikenal sebagai singa podium, selain juga menulis banyak buku, atau kitab.

Mulai dari rakyat biasa hingga Bung Karno, bisa menikmati isinya pidatonya. Suara beliau mantap, cempreng tipis-tipis, sedap sekali jika menyitir Alquran atau puisi-puisi Arab, dan tak lupa, humor segar.

Rekaman pidato lima menitan itu adalah penggalan pidato di Lasem, Rembang, tahun 1977. Diunggah oleh Yahya Cholil Staquf, cucu Kiai Bisri, Februari, 2014.

“Musyrik. Ada musyrik kasar, ada musyrik halus. Musyrik kasar; nyembah patung, nyembah batu, nyumbah kayu. Musykrik halus?” terang Kiai Bisri.

“Nyembah istri. Loh istri kok disembah? Ya dituruti terus sampai melupakan Gusti Allah ya sama saja disembah,” terang Kiai Bisri disambut tertawa.

Setelah itu, Kiai Bisri menceritakan contoh musyrik halus yang pernah dilakukannya sat menjadi DPR. Dia bercerita saat menjadi DPR di zaman Orde Lama. Ketika sedang sidang lalu bunyi bedug salat Jumat bertalu-talu, Kiai Bisri berteriak suka menghentikan rapat. ”Stop, stop.”

Nah, pada suatu Jumat, bedug tanda waktu Jumatan berbunyi, tapi pimpinan masih berpidato.”Saudara-saudara..”

Baca Juga

“Saya mau pamit Jumatan repot. Bedug sudah bunyi, ini kok masih pidato terus. Mau ninggal Jumatan repot. Jumatan juga repot.”

“Ya sekali-kali bolos Jumatan,” kata Kiai Bisri Mustofa, disambut tertawa para pendengarnya. Ini mengejutkan, ada seorang kiai kharismatik, ulama yang produktif menulis, mengaku meninggalkan salat Jumat saat menjadi anggota DPR. Tidak “jaim”, tidak merasa paling baik.

“Sesungguhnya yang saya lakukan (meninggalkan Jumatan) mengalahkan Gusti Allah dan memenangkan yang lain. Ini namanya musyrik halus.”

Lihat Komentar (0)

Komentari