Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Mengurai Era Kenabian di Tanah Jawa

Merujuk dari rekaman kejadian seorang calon wakil presiden yang dengan santai melangkahi pusara Kiai Bisri Syansuri (salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama), adalah  bukti betapa adab-kesopanan pada sesepuh, kamitua, leluhur, atau mereka yang lebih dulu pergijadi penting dipelajari.

Padahal jika pun ia mengaku “santri millenial”, setidaknya sudah khatam bab menuntut ilmu, khususnya akhlak. Sebab itu jualah Kanjeng Nabi Muhammad Saw diutus Tuhan ke bumi Arab sana, dan ajarannya terus berkembang ke seantero duniahingga kini.

Seperti juga Isa As yang ditahbis untuk masyarakat Nazareth, saya yakin sepenuhnya jika Nabi Muhammad Saw pun diangkat sebagai Rasul untuk puak Nabi Ismail As di jazirah Arabia. Beda tegasnya adalah, ia membawa pesan agung demi merahmati alam semestatentu dengan teladan akhlaknya yang mulia.

Selain soal tersebut, Islam yang diajarkannya merupakan agama dengan standar akal dan logika yang ketat. Ini formula ajaran baru yang memadukan kaidah metafisika dalam balutan fisika dasar penciptaan jagat raya beserta isinya.

Itulah kenapa Islam jadi begitu mudah diterima di belahan dunia mana pun. Termasuk di negeri keramat ini.

Kami akan membatasi kajian sisi keramat itu dari satu sudut pandang arkeologis, sebagaimana temuan Plato dalam Timæus et Critias, Stephen Oppenheimer (Eden in The East) & Arysio Santos (Atlantis: The Lost Continent Finnaly Found)berikut temuan terbaru para peneliti di Gunung Padang, Lembah Bada, dan Borobudur. Peradaban besar dua-tiga dimensi yang telah dikembangkan leluhur kita, telah disepakati sebagai yang tertua dalam skala dunia.

Data-faktanya sulit dibantah. Otentik. Dari penelitian mereka lah mencuat nama Lemuria, Atlantis, Dwipantara. Ketiganya mengembangkan ajaran yang sama: Sundayana (Pemujaan Matahari). Percaya atau tidak, sampai hari ini kita masih menjalankan laku itu tanpa kesadaran yang utuh.

Supaya kita tak kehabisan energi mengulas riwayat sepanjang tujuh puluh ribu tahun ke belakang sana, cukup kami sodorkan nukilan dari sebuah naskah Layang Djojobojo atau Layang Nata berdasarkan manuskrip yang dikumpulkan oleh Raden Mas J.R. Basuki dan Michael Zwart, MBA, yang disusun dan dialihbahasakan oleh Pangeran Bendoro Susetyo dan Setyo Hajar Dewantoro.

Ini merupakan bagian dari manuskrip kuno Gunung Klothok yang berisi wahyu Tuhan yang ditangkap oleh Josono yang turun pertama kali pada 4336 SM.

Angka tarikh itu saja, jauh lebih dulu duaribu tahun dari kelahiran Ibrahim as di Ur Kasdim pada 2510 SM (Irak sekarang). Sebagai patriarkh agama Samawi, perannya tak diragukan lagi. Ia adalah pembawa ajaran tauhid bagi Yahudi, Kristen, Islam.

Baca juga:  Gus Dur, Syekh Siti Jenar, dan Wahdatul Wujud

Namanya yang tersusun dari dua kosa kata Ibrani (Ib & Rahim), bisa diartikan dengan Bapak Umat Manusia yang Penyayang. Menjadi wajar bila kemudian tiga agama Samawi itu punya kesamaan visi dalam ajarannya.

Sebentar kita tinggalkan Ibrahim di Ur. Kini kita menuju Makkah & Madinah yang menjadi episentrum ajaran Muhammad bin ‘Abdullah. Islam yang ia bawa, mendarat di sini nyaris sezaman dengan kehadirannya di dua kota suci itu, yaitu Abad ke-6 M.

Mengacu pada visi besar Josono di atas, artinya, kemapanan ajaran Sundayana kemudian mengalami perkawinan silang, atau malah tergerus. Bagaimana cara membuktikannya? Mudah sekali. Dengan memahami laku keberagamaan dan kehidupan kita hari ini: masih dogmatis-doktriner, atau sebaliknya.

Bentuk perkawinan mesra tersebut dapat kita temukan pada ajaran kaum sufi (tasawuf/teosofi) semisal Syeikh al Akbar Muhyidin Ibn ‘Arabi & Mawlana Jalaluddin Rumi. Dua mistikus besar Islam ini terkenal dengan teori emanasinya yang menyertakan Matahari sebagai simbol puncak ketuhanan. Ajaran mereka selaku dikaitkan dengan QS an Nur [24] yang berbunyi, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi…”.

Ibn ‘Arabi menamakan teorinya ini dengan Wahdatul Wujud. Syeikh Burhanpuri yang menganut ajaran itu dan masuk ke negeri Khatulistiwa, menerangkannya dalam Kitab Martabat Tujuh. Setali tiga uang saja. Sama membahas perkara cahaya dan matahari.

Sekarang, mari kita kembali pada. Josono. Sosok Rama agung yang menyerap limpahan Wahyu dan mencatatkannya dalam Kitab Layang Soworo, Dana l, berbunyi:

“Hana kang hanitahake siti pangelingan Jowo sumarengan jeng salir wose jejuluk GUSTI. Sinungan GUSTI kang sawara gesang, hanitahake sawara prawasa ngagesang siti pangelingan Jowo, saking bayinat kang peteng sonoliko GUSTI sumalihake trawang lan wenteh. Kang GUSTI cinanthen tumuwuh.”

Baca juga:  Mengaji Ibnu ‘Arabi dengan Kepala Dingin

“Ada yang menjadikan tanah pengingat Jawa beserta segala isinya yang dijuluki GUSTI. Dia lah GUSTI yang merupakan permulaan hidup, menjadikan permulaan aturan kehidupan tanah pengingat Jawa, dari keadaan yang gelap, seketika itu GUSTI mengubahnya menjadi terang dan nyata. Apa yang GUSTI ucapkan bertumbuh.”

Jawa yang dimaksud dalam teks itu jelas bukan sekadar suku atau pulau dalam terminologi kita sekarang. Jika kita memahaminya berdasar pendekatan Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Ajaran Keindahan Semesta untuk Meruwat Keangkaraan Diri), maka Ja-Wa bisa dimaknai sebagai laku Hurip nan Suwung. Kosong dari segala yang bukan Dia. Jadi tanah Jawa adalah tempat terbaik bagi manusia untuk mengolah dirinya bersama Sang Hyang Tunggal.

Nukilan dari Wahyu di atas, berkenaan dengan semesta raya dan isinya. Ada juga yang bertalian dengan manusia dan perikehidupannya dalam Layang Djojobojo:

“Supaya sira warang Djowo. bisa piwaneh pangerten marang tumitah Djowo. huga tumitah liyane hing karasuh kiye. Supaya sakabehing tumitah bisa jumbuh marang Gusti, Sulo Kang Tenggil Puroso kang tan kena kinaya ngapa. Hananging jalma tumitah kiyu wangkal marang GUSTI, kang paring hurip Ian patine kabeh tumitah. Kiye wahana GUSTI.”

“Agar engkau orang Jawa bisa memberi pengertian kepada seluruh manusia Jawa, juga manusia lain di jagat ini. Agar seluruh manusia bisa jumbuh (bersenyawa) dengan GUSTI, yang melampaui segalanya, yang tak dapat dibatasi oleh apa pun. Tetapi manusia keras kepala kepada GUSTI, yang memberi hidup dan mati kepada seluruh keberadaan. Ini Wahyu GUSTI.”

Berpegang pada Hadits Nabi Muhammad Saw yang mengatakan bahwa ada 124 ribu Nabi-Rasul yang tak tercatat Alquran, maka Josono sangat layak kita dapuk menjadi Nabi pada zamannya pada era Atlantis. Amatilah Wahyu yang diterima Josono dengan Alquran dalam Islam. Sejatinya sama belaka bicara tentang perintah bagi manusia agar menjadi wakil Tuhan di bumi sebagai penyebar Rahmat bagi jagat alit, jagat gede, dan mahajagat.

Tuntutan kita sekarang ialah mengajari diri sendiri tentang betapa indahnya belajar dalam hidup, dan hidup yang selalu dalam kondisi belajar. Ilmu terkait menuntun diri ini sudah merupakan riwayat langka di zaman kita.

Orang-orang sibuk menilai, mengoreksi yang lain di luar dirinya, lalu abai pada kepandiran sendiri.

Banyak orang yang begitu cepat menguliti salah siapa saja, lantas tak pernah mau dan bisa menemukan salah dalam dirinya. Ilmu sedemikian nampak sederhana. Ya… Tapi bila mau dikaji, niscaya sampailah kita pada satu samudera di mana diri sejati menanti dalam balutan rindu purbani.

Baca juga:  Kita dan Tragedi 65 (4): Hiruk Pikuk Intelijen Menjelang G-30-S

Pembelajar terbaik dalam hidup, bukanlah mereka yang punya sederet gelar lan segudang prestasi, melainkan ia yang tahu diri, berikut dengan segala batas, potensi, daya, cipta, dan karsanya. Selemah apa pun kita, masih ada lebihnya. Jika sudah tahu punya kelebihan apa, maka tutupilah kekurangan itu. Hidup nan indah tak melulu soal manfaat dan perenungan, namun yang setiap detiknya adalah kesabaran mengeja huruf tanpa aksara.

Manusia yang berusaha keluar sekuat tenaga dari cangkang keagamaan, kesukuan, ras, bangsa, sentimen negara, apalagi sekadar golongan belaka, pasti akan mengalami penghayatan baru dalam hidupnya. Ia akan mafhum betapa terlampau banyak kekacauan & kejumudan peradaban kitayang hanya berujung samsara, petaka, kehancuran bersama.

Manusia yang gemar melabeli dirinya dengan embel-embel apa pun, takkan pernah bisa mengerti bahwa tubuh yang ia bawa ke mana saja, sekadar bungkus belaka. Suatu saat nanti pasti rusak. Binasa. Lenyap menyedihkan dari sejarah. Digilas waktu yang terus melaju. Padahal kita lahir ke dunia dengan fakultas hidup yang sama: diberi akal, pancaindera, perasaan, dan intuisi.

Manusia yang mau mengolah dengan baik semua fakultas itu satu demi satu, kelak menemukan kesadaran bahwa dirinya tak sendirian di muka bumi.

Semua yang selain dirinya, adalah saudara seair, seudara, seapi, setanah. Semua itu dibentang dalam jagat yang sama dalam ruang-waktu. Kita bisa mengenalinya secara fisik, juga metafisik. Sejatinya, itulah proyek besar lagi luhur dari para Nabi-Rasul Tuhan, para pencerah zaman, kaum bijak bestari, dan kalangan Rama di negeri ini. []

Makassar, 11 November 1927 Saka

Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (5)

Komentari

Scroll To Top