“Igama” Napas Peradaban

Ren Muhammad

Di negeri cincin api ini, seribuan tahun silam, ada sebuah keyakinan mendalam yang diyakini oleh masyarakat dari bentangan Timur hingga ke Barat. Kini kita mengenal itu sebagai adat istiadat, norma, atau moral–meski sebenarnya istilah itu agak kurang tepat. Nun di Toba, Tapanuli Utara sana, ada sekelompok masyarakat yang masih memeluk keyakinan tersebut secara khidmat.

Mereka menamai diri dengan sebutan Parugamo Malim. Lazim disingkat Parmalim. Jumlah mereka memang sangat kecil. Berkisar lima ribu orang atau 1.127 kepala keluarga. Sayang, negara dengan kecerobohannya menggolongkan mereka sebagai komunitas beragama. Padahal, mereka hanya sedang berusaha menghidupkan sebuah landasan kehidupan yang bernama ugama: peraturan yang berlaku antar sesama manusia.

Saat era baru mulai merebak ke seantero dunia, dan tata kehidupan masyarakat dikendalikan oleh sistem kerajaan (monarki), lahirlah sebuah sistem berupa agama: peraturan timbal balik antara raja dan kawula. Sabda raja sama dengan firman Tuhan. Apa yang dianut raja, juga harus diyakini rakyatnya. Maka raja pun mendiami area pengultusan. Tak sedikit yang kemudian dianggap setengah dewa. Demigod.

Raja adalah sumber hukum tunggal lagi utama. Tak boleh dibantah. Melawan berarti ingkar, dan tentu mati. Nebukadnezar, Hamurabbi, Fir’aun, Constantine, Tunggul Ametung, dan Haile Selassie (Raja Ethiopia ke-225 dari garis Raja Sulaiman dan Ratu Sheba), adalah sedikit contohnya. Pada nama besar mereka, kekuasaan adalah sisi lain dari pengaturan manusia.

Melampaui ugama dan agama, masyarakat Nusantara dulu kala percaya secara penuh pada igama: peraturan timbal balik antara Sang Hyang Cakrawarti, Sang Maha, dengan manusia. Igama menjadi napas kehidupan.

Sejatinya, kita punya masalah serius di sini. Penggunaan kata agama yang entah bagaimana diterjemahkan menjadi a (tidak) dan gamos (kacau), membuat urusan kita sebagai bangsa dan negara jadi silang sengkarut.

Baca juga:  Tongklek, Dakwah Sunan Bonang di Bulan Ramadan

Maka wajar bilamana negara cenderung bertingkah sekenanya. Cari aman sendiri. Pemeluk keyakinan yang minoritas, akan mengalami pembiaran. Sebaliknya, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan kalangan mayoritas, dianggap sebagai kecelakaan sejarah.
Sejatinya, konsep igama mengajak manusia menyedari hakikat keberadaannya di dunia, dan untuk siapa hidup ini akan dipersembahkan. Mewedari alam pikiran kita tentang Dia yang tak tepermanai. Tiada terucapkan dalam bahasa. Maka benarlah tesis Ludwig Wittgenstein dalam epilog Tractatus-nya, “Mengenai apa yang tidak dapat dibicarakan, hendaknya manusia diam.”

Belajar beragama

Jangan-jangan agama yang kita anut benar memang hanya sekadar melekat di KTP. Kita hanya manusia yang sekadar lahir beragama. Lebih senang belajar agama dari ocehan televisi, radio rusak, bukubuku sampah, dan internet, tinimbang meguru pada para begawan kehidupan.  Belajar kepada mereka yang telah berhasil menemukan benang merah agama dengan hidup yang serbaneka, pada mereka yang telah dengan bijaksana bernafas dengan jantung agama, dan meramunya jadi untaian makna.

Melihat dan mengamati perang dunia ketiga di ladang pembantaian Suriah, nampaknya umat beragama tak lagi punya masa depan. Nyaris gagal jadi agen utama penyebar kebajikan ke semesta raya. Misi utama para nabi utusan Tuhan, rasanya sulit ditemukan dalam hidup kita sekarang. Selebihnya, Islam dan agama lain yang masih ada, tinggal jadi seonggok dongeng dari masa lalu yang jauh. Remah-remah yang tersisa selalu tentang pertumpahan darah akibat intrik politik, kisah usang para penyintas yang lari dari kenyataan dan mengaku sufi, jula-juli para pengkhotbah karbitan, dan penjual ayat-ayat Tuhan.

Baca juga:  Warna Islam dalam Tradisi Lokal

Sejak hampir sepuluh ribu tahun agama hadir di dunia ini, dan kini diembankan di pundak kita, namun peradaban yang kita kembangkan tak lagi menghasilkan saintis ungulan, perenung ulang, dan mistikus kampiun. Hari ini, kita tak berkutik menghadapi gelombang perubahan zaman yang melaju dalam percepatan.

Percabangan ilmu baru terus digali. Fisikiwan dengan astronom, sepakat mendirikan disiplin ilmu astrofisika. Ahli molekul bergandengan tangan dengan biolog, dan melahirkan biologi molekuler. Ruang-ruang hening agama pun kini mulai riuh rendah juga dengan panggung hiburan yang ditemukan melalui algoritma. Kita menyebutnya hologram.

Dunia kita terkonvergensi sedemikian cepat. Sementara umat beragama, tak benar-benar mengerti apalagi memanfaatkan gerak perubahan zaman demi menggali harta karun yang terpendam dalam tubuh agamanya. Kita hanya membuat dunia kian sesak. Saat yang bersamaan, sampah kebodohan kita kian menggunung.

Kita hanya menunggu waktu, mati tabrakan di jalan tol digital. Era sibernetik telah membuat begitu banyak manusia, terlena pada daya jelajah teknologi. Lantas abai pada kemampuan akal, hati, jiwa, dan ruh Tuhan yang ditiupakan-Nya ke dalam diri kita. (QS. Shad [38]: 72)

Baca Juga

Meneruskan gagasan ilmuwan besar dunia abad ke-11 M, Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haitsam yang pernah berkata, “Jika tujuan akhir seseorang belajar adalah mencapai kebenaran, maka ia harus membuat dirinya sebagai musuh dari semua yang telah dibacanya.” Ya, membaca buku terbuka kehidupan.

Menajamkan akal sehat

Zaman halai-balai begini, sudah kian sulit bagi kita mencari cara mendidik diri, kecuali dengan terus menajamkan akal sehat, dan menjernihkan hati. Itulah pilihan yang mungkin dilakukan. Sudah terlampau banyak kekacauan dalam pikiran. Terlanjur berkarat keyakinan yang sejatinya mudah dirimpang. Kita teramat sering membuang waktu belajar menikmati hidup yang hanya selintasan saja. Kita ini hidup untuk apa dan siapa? Apakah untuk hidup itu sendiri? Sesekali, perlu juga kita mencari jawabannya. Agar jelas duduk perkara kehadiran kita di dunia.

Baca juga:  Merti Dusun, Metode Orang Jawa Berwudu dari Dosa

Jika semua amal yang kita lakukan diperuntukkan ke tuhan, lucu juga kiranya. Dia itu pemilik segalanya di jagat raya kasat dan ghaib, yang berlapis. Tak kurang suatu apa. Tiada bergantung pada apa pun jua. Lantas persembahan macam mana yang bisa kita haturkan demi menyenangkan-Nya?

Mungkinkah kebajikan yang kita lakukan dapat menghibur Dirinya yang dibekap kesendirian abadi? Benarkah kedegilan kita selama ini dapat memantik murka-Nya? Jika memang demikian, nampaknya Tuhan harus kita lengserkan dari singgasananya. Apa pasal? Dia tak lebih pengasih dan penyayang tinimbang ibu kita di rumah.

Kerancuan memahami hal sepenting itu, bisa berdampak pada kejumudan tiada berujung. Agama yang berkembang hari ini, entah kenapa malah terkesan jalan di tempat. Berhenti tumbuh dan seolah gagal menghadapi kerumitan kita sebagai pengampu tunggal kehidupan.

Pertanyaannya adalah, apakah agama, atau kita yang salah paham pada kerja cerdas Tuhan? Jangan-jangan kita hanya mengada-ada saja selama ini. Jika Tuhan butuh kita sembah, kita puja-puji, setinggi langit, maka Dia dan kita sama menderita dalam kekurangan dan kelemahan. Jantung igama adalah keyakinan pada-Nya dan bisa dirasakan, yang kemudian bernapas dalam sebuah peradaban.

Lihat Komentar (0)

Komentari