Sedang Membaca
Antara Taubat, Hijrah, dan Egoisme
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Antara Taubat, Hijrah, dan Egoisme

Prophet 1

Membincang perkara taubat dan seluk-beluknya, memang terkesan naif. Betapa tidak, wilayah ini masuk ke ranah hak prerogatif Allah. Tak satu pun kita bisa memastikan pertaubatan sendiri, diterima atau tidak oleh-Nya—kendati sudah mengikuti kaidah yang dianjurkan dalam Islam. Maka demi menghindari kerancuan semacam, kami memilih menukil dua buah kisah, terkait bagaimana harapan seorang hamba yang hina-dina, dipanjatkan dengan segala kerendahan diri—yang lebih rendah dari tanah.

Kisah pertama diperankan oleh seorang pemuda belia dari Bani Israil. Rekam jejak kejahatannya yang sangat mengagumkan. Ia dijauhi sanak semenda, kerabat, handai taulan, teman, dan siapa saja yang mengenalnya. Mereka semua sudah tak mampu mencegah segala perbuatan bejatnya. Bahkan menyebut namanya pun dianggap pamali.

Karena itulah, segenap masyarakat berdoa kepada Yhweh agar pemuda kita dihukum dengan balasan setimpal. Tanpa menunggu tempo, doa mereka dikabulkan. Yhweh mewahyukan kepada Nabi Musa as, bahwa “Dalam golongan Bani Israil ada seorang pendosa besar yang masih belia, dan ia harus dikeluarkan dari kampungnya. Keberadaan lelaki pendosa ini akan menjadi sebab mereka masuk neraka.”

Alhasil pemuda tersebut diusir oleh Musa as dari kampungnya. Bilamana pemuda itu lari ke kampung lain, Musa pun mengusirnya lagi. Begitulah seterusnya, setiap ia singgah di sebuah kampung, ia langsung diusir oleh masyarakat setempat, karena reputasi banditnya yang fenomenal. Sampai akhirnya pemuda kita terdampar di sebuah gurun pasir tak beroase. Lantaran tak ada sesuatu yang dapat ia makan, serta air yang bisa diminum, ia pun terkulai sakit di atas hamparan padang pasir yang luas nan mematikan.

Dalam kesakitan, pemuda kita merintih, “Tuhan, seandainya ibuku di sebelah kepalaku, tentu ia akan menangisiku yang dalam keadaan nista begini. Jika saja ayahku datang, tentu ia akan menolongku, memandikanku serta mengafaniku. Jika saja istriku berada di sini, tentu ia kan meratapi kepergianku tuk selamanya. Jika saja anakanakku kemari, tentu mereka akan menangis di belakang jenazahku sembari berdoa, ‘Duhai Allah, ampunilah kiranya ayah kami yang asing ini, orang yang papa, ahli maksiat, pendosa besar yang ditolak masyarakat dan tidak terima dari desa ke desa, hingga terpencil di gurun yang ganas. Ia keluar dari dunia yang membuatnya putus asa dari harapan lain, selain atas Rahmat-Mu.’”

Baca juga:  Risalah Dakwah Milenial

Laki-laki itu merintih lagi, “Duh Allah, jika kauputuskan hamba dari ayah, ibu, istri, dan anak-anakku, jangan kiranya kaucerai-beraikan pula daku dari Rahmat-Mu. Hatiku terbakar oleh perpisahan dengan mereka. Jangan lagi kaubakar patik dalam api neraka-Mu hanya karena maksiatku.” Rupanya doa pemuda kita dikabulkan Allah Swt, yang kemudian memerintahkan sesosok bidadari agar menyerupai ibu dan istrinya, serta beberapa bidadari kecil yang menyerupai anakanaknya. Allah juga mengirimkan malaikat yang menyerupai ayahnya. Semua duduk tepekur di dekat pemuda itu, lantas menangis tersedu sedan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Demi melihat pemandangan tersebut, hati pemuda kita menjadi tenteram. Ia pun berkata, “Duhai Allah, jangan Engkau putuskan aku dari Rahmat-Mu. Sungguh Engkau sangat berkuasa atas segala sesuatu.”

Sekian jenak kemudian, pemuda kita pun merangkul ajal menuju ke haribaan Allah. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa as agar mengurusi jasadnya.

Di tempat itu telah meninggal seorang Wali-Ku. “Mandikan! Kafankan! Sembahyangkan!” demikian bunyi firman Yhweh.

Musa terperanjat ketika sampai di tempat yang ia tuju. Sebab, Wali tersebut ternyata pemuda yang pernah diusirnya, atas perintah-Nya jua. “Pemuda inikah yang dulu banyak berbuat dosa, yang kukeluarkan dari desa ke desa, atas perintah-Mu?” tanyanya.

“Benar, Musa,” jawab Yhweh. “Aku telah mengampuninya, dan menyayanginya, karena rintihannya di dalam sakit, karena berpisah dengan kampungnya, orangtuanya, istri dan anakanaknya. Lantas Aku kirimkan bidadari yang menyerupai ibunya, dan malaikat yang menyerupai ayahnya, semata karena Rahmat-Ku atas kehinaannya dalam keasingan. Jika mati seorang asing, menangislah penghuni langit dan bumi hanya karena iba kepadanya. Lalu bagaimana Aku tak iba padahal Akulah Dzat Paling Pengasih dari semua yang berbelas kasih?”

Baca juga:  Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Bertalian dengan riwayat di atas, mari kita tilik sebuah Hadits Nabi Muhammad Saw, “Hamba yang sarat dosa, tapi selalu mengharap ampunan Allah, lebih baik dari hamba yang selalu beribadah tapi putus asa terhadap Rahmat Tuhan-nya.” Apalagi mereka yang gemar melabeli status tersesat pada orang lain.

Mari kita tinggalkan pemuda itu, dan mengunjungi Madinah pada suatu ketika. Dalam sebuah majelis, Rasulullah Saw menyampaikan kisah seorang anggota “geng” Bani Israil yang telah membunuh sembilanpuluh sembilan orang. Orang ini kemudian menyesal dan ingin bertaubat. Maka ia pun mendatangi seorang rahib, lalu bertanya, ‘apakah Allah masih berkenan menerima taubatku, mengampuni, dan melimpahkan Rahmat-Nya kepadaku?’

Sang Rahib mengatakan bahwa ia sudah terlampau jahat. Dosanya berjelajela dan tak bisa diampuni lagi. Demi mendengar jawaban demikian, maka ia menjadi marah dan sekonyong-konyong membunuh rahib tersebut—sebagai orang keseratus yang ia binasakan. Namun ia kembali menyesali perbuatan itu dan bertanya kepada seorang alim dari kalangan Ahli Kitab. Jawaban yang ia terima rada menenangkan. “Masih ada jalan untuk bertaubat. Dengan syarat, kauharus keluar dari negerimu dan pergi ke negeri seberang. Di sana kau akan menemui banyak sekali orangorang yang sedang bertaubat dan senantiasa berbuat baik, serta meminta ampun kepada Allah Swt.”

Maka ia pun membulatkan tekad untuk memulai ritus taubat. Apa daya, di tengah perjalanan ia terjatuh dan menemui kematian atas takdir Allah Swt. Melihat hal ini, Malaikat Rahmat (pemelihara) dan Malaikat Adzab (penyiksa), kemudian mendatangi sosok jenazah orang tersebut, dan kemudian terlibat perselisihan. Masingmasing mengakui mayat tersebut sebagai bagiannya. Malaikat pemelihara ingin memelihara dan memuliakannya. Sementara malaikat penyiksa juga hendak menyeret dan menyiksanya.

Lantaran mengalami kebuntuan, dua malaikat ini kemudian menghadap Allah Swt, hingga mereka didawuhi mengukur jumlah langkah pembunuh yang telah mati dan bertaubat tersebut. Setelah diukur, maka diketahuilah bahwa dirinya telah satu jengkal lebih dekat ke arah tujuan. Ia telah meninggalkan wilayah kemaksiatannya lebih jauh. Maka ia pun menjadi milik malaikat rahmat (pemelihara), sementara seluruh dosanya membunuh seratus orang telah diampuni oleh Allah Swt, dengan doa yang bunyinya begini:

Baca juga:  Mempertanyakan Kebijakan Politik Islam Presiden Joko Widodo

“Wahai Tuhanku, jika Engkau memaafkan dan mengampuni segala dosa hamba, maka para kekasih dan para nabi-Mu akan turut senang, sedangkan setan musuhku dan musuh-Mu akan bersedih karenanya. Tetapi jika Paduka menyiksaku, maka setan beserta kawan-kawannya akan turut senang, sedangkan para nabi dan kekasih-Mu pasti bersedih.” Alquran sebagai panduan utama Islam, juga merekam kaidah yang menerangkan perkara taubat.

Sejatinya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orangorang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang taubatnya diterima Allah, dan Dia Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS Perempuan [4]: 17)

Saudara-saudariku, cermatilah nash di atas dengan saksama. Seakan ayat itu menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa dan mengetahui hukumnya, tidak pantas bagi Allah untuk menerima taubatnya, dan taubat yang diterima hanya taubat orang yang berbuat dosa dan tidak mengetahui hukumnya. Padahal maksud dari ayat tersebut tidak demikian. Orang alim yang mengerti hukum dan tetap berbuat dosa, sesungguhnya ia termasuk golongan juhala’ (orang bodoh). Manakala ia berbuat dosa, ilmunya dicabut oleh Allah.

Taubat yang diterima Allah adalah pertaubatan orang yang pernah berbuat dosa meskipun ia tahu hukumnya. Ada pun berbuat dosa bagi orang yang tidak mengerti hukum, maka hal itu tidak dianggap dosa. Allah senantiasa menerima taubat siapa saja di antara hamba-Nya yang mau menyadari kesalahan mereka. Namun apa lacur, kita sering berprasangka buruk pada Allah, dan lebih sering menuhankan pikiran sendiri yang payah. Dia bukan kita yang mudah marah dan memendam dendam. Tak ada yang bisa memafhumi Dia kecuali Dirinya sahaja. Maka mustahil, ada seseorang yang sanggup membuat Tuhan murka. Pahamilah ini… []

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top