Pengalaman Hidup di antara NU dan Muhammadiyah

Dani Ismantoko

Saya lahir di tengah-tengah komunitas yang mengikuti ormas Muhammadiyah. Tanda yang begitu kentara adalah berkaitan dengan ritual ibadah.

Salat subuh tidak memakai kunut, azan salat Jum’at satu kali. Saat bulan Ramadan tarawih delpan rakaat, sebelas dengan witir. Sekali tarawih empat rakaat, kayak salat Isya. Dua kali salam kelar itu tarawih. Witirnya langsung digabung tiga raka’at.

Namun, ada yang tradisi NU yang nyempil di tengah kemuhammadiyahan komunitas kami. Apa itu? Kami hobi tahlilan.

Pada masa duduk di Mts, saya dimasukkan ke pondok pesantren yang berafiliasi Nahdlatul Ulama. Tanda ritual yang saya sebut di atas, berubah drastis. Ada kunut, azan Jumat dua kali. Ketika Ramadan, tarawih 20 rakaat, witir tiga rakaat. Tiap salam dua rakaat. Jadi selesai dalam sepuluh salam. Witir tiga kali salam, dua rakaat plus satu rakaat.

Jujur saya agak setengah kaget. Pertama dalam urusan doa kunut. Saya tidak bisa. Dan mau tidak mau harus menghafalkan dengan susah payah.

Lulus dari Mts saya masuk ke sekolahan SMK yang basis ormasnya adalah Ahmadiyah, tepatnya Ahmadiyah Lahore. Ritual ibadah Ahmadiyah Lahore cenderung mirip Muhammadiyah. Tidak pakai kunut, azan salat Jumat satu kali. Tarawih kurang tahu. Saya tidak pernah tarawih di sekolahan ketika masa SMK.

Baca juga:  Mengumpat dan Melaknat menurut Imam Ghazali

Pada masa SMK itu saya tinggal di rumah saudara saya. Lingkungannya bisa dikatakan setengah Muhammadiyah setengah NU. Ketika salat tarawih delapan rakaat tetapi setiap tahapan salat dua rakaat. Selesai keseluruhan delapan rakaat, ditambah tiga rakat shalat witir.

Lulus SMK saya masih tinggal di tempat saudara saya itu. Saya melanjutkan kuliah di Universitas Islam. Di situ saya menemui bermacam-macam organisasi. Ada IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang sudah jelas basis utamanya adalah ormas Muhammadiyah. Ada PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang basis utamanya NU. Ada HMI yang saya kira lebih ke campur-campur antara Muhammadiyah dan NU. Ada juga KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Basisnya kurang tahu. Tapi saya lihat kebanyakan, yang perempuan jilbabnya lebar-lebar dan yang laki-laki celananya cingkrang.

Setelah saya melesaikan masa studi saya pengalaman lintas ormas itu belum selesai. Saya kembali ke kampung halaman yang Muhammadiyah tetapi tahlilan itu. Di kampung halaman itu saya juga ditunjuk menjadi pengurus Ranting Muhammadiyah. Namun saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan yang basisnya NU. Nah loh?

Dari pengalaman-pengalaman itu ada ngeri-ngerinya juga.

Baca Juga

Semasa Mts dan mondok itu saya punya seorang pembimbing asrama sekaligus pengajar ngaji yang benci Muhammadiyah. Dia pernah berbicara di depan saya menjelek-jelekan Muhammadiyah dengan mimik muka dan nada yang nyebelin. Saya langsung berusaha menutupi asal kampung halaman saya yang ikut Muhammadiyah namun tahlilan itu. Bisa-bisa saya kena semprot kalau mengatakan kepada si pembimbing keadaan kampung halamn saya.

Baca juga:  Ihwal Nazam al-Syathibiyyah (Buat Para Penghafal Alquran)

Kengerian itu belum selesai. Pada awal menjadi pengurus Ranting Muhammadiyah saya pernah diajak ke salah satu pengurus sepuh. Lagi-lagi di situ saya mencium orang Muhammadiyah yang nyebelin. Dengan berapi-api si pengurus senior itu menjelek-jelekkan NU. Saya jadi merasa ngeri juga.

Saya kira potensi untuk menjadi “nyebelin” bukan hanya dimiliki oleh sebuah organisasi tertentu saja. Semua organisasi pasti ada potensi “nyebelinnya” juga. Sebenarnya itu wajar, itu bagian dari militanisme seorang anggota ormas. Karena para anggota ormas itu juga dididik sebagai kader yang harus mencintai organisasinya.

Yang penting dari fanatik-radikal, militan itu tidak mengganggu keseimbangan sosial. Untuk kalangan sendiri saja. Bukan untuk kalangan umum.

Saya, sampai sekarang tetap berdamai dengan semuanya. Tidak memperuncing apapun, mana pun, siapapun. Dan saya bisa dengan enak kumpul-kumpul dengan orang Muhammadiyah, NU, ataupun pergi ke SMK tempat sekolah saya yang Ahmadiyah Lahore itu. Bernostalgia dengan guru-guru saya dulu. Hahaha. Asyik juga.

Lihat Komentar (1)
  • bang, mirip2 sih, sy lahir di tengah keluarga nu, nikah dg putri seorng tokoh muhammadiyah, bersohib, berdagang dg rekan muh dan nu, ya militansi jelas ada, cuman sy berusaha tebar sisi SINERGInya…biar smua sadar kl kita INDONESIA, sodara se muslim, #respeck 4r u

Komentari