Sedang Membaca
Agama Kata-Kata

Agama Kata-Kata

Ren Muhammad

Adakah hubungan erat antara babi dengan pilpres? Jawabannya tergantung bagaimana Anda menilai Jokowi dan pesaingnya yang ngebet jadi presiden itu. Lantas apakah pilpres dan kekafiran berhubungan mesra? Nah, bagian yang ini mari kita sowan ke Bung Karno.

“Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’. Kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap ‘kafir’. Pengetahuan Barat–kafir; radio dan kedokteran–kafir; pantalon, dasi, dan topi–kafir; sendok-garpu dan kursi–kafir; tulisan Latin–kafir; ya bergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun–kafir!”

Demikian nukilan surat Sukarno kepada T. A. Hassan bertitimangsa 18 Agustus 1936–kala ia baru menjalani dua tahun masa pembuangannya di Ende, dan susah payah membangkitkan lagi gelora api perjuangannya yang nyaris padam. Semoga ketika membaca tulisan ini Anda tidak termasuk golongan kafir juga.

Jika ditarik mundur ke belakang, surat bernuansa pemikiran progresif itu, sudah berjarak delapan puluh satu tahun dengan masa kita sekarang. Rentang panjang yang mestinya cukup mendewasakan alam keberislaman kita, keberagamaan kita sebagai bangsa.

Kini tengoklah ke sekeliling. Cermati dan amati juga keseluruhan diri kita secara utuh. Apa yang sejatinya terjadi? Adakah beda tegas bila kita membawa embelembel agama dalam kehidupan, dan tidak sama sekali? Mungkinkah Islam yang kita anut, misalnya, tak harus selalu diseret dalam rimba raya perbalahan?

Kejumudan umat Islam hari ini, tampaknya tak jauh beda dengan yang digelisahkan Bung Karno saat itu. Kita masih gagal total meleburkan agama dalam laku keseharian. Kita senang memisah-memilah ajaran agama yang padahal telah berurat akar dalam kehidupan.

Kita bahkan dengan enteng menepis kebaikan hidup hanya kerana pengetahuan keagamaan kita yang kurang mumpuni. Soal ini masih diperparah dengan kerja bawah tanah segelintir Manusia Cari Api yang senang mengadu domba orang beragama, dengan beberapa kata sakti semacam bidah, kafir, murtad, dan sesat.

Mereka lupa cara bersuka cita dalam dan dengan agama. Mereka alpa mengingat betapa gembiranya kita dulu ketika masih kecil, kala melakoni perintah tuhan. Kini mereka telah berubah arah. Bukan lagi mengabdi pada Tuhan, namun bertekad membela Tuhan. Jadi pengacara akhirat. Mereka mungkin khilaf.

Baca juga:  Ibnu Hirzhim dan Peristiwa Pembakaran Ihya Ulumuddin

Jika Tuhan butuh dan harus dibela, maka Dia sama dengan terdakwa. Lemah tiada daya. Lantas apa artinya la hawla wa la quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Adzim itu? Apakah agama kemudian bisa membuat kita jadi manusia adikuasa?

Sekadar memantik saja, perkara di atas bukan hanya terjadi hari ini. Umat Islam sudah dibikin rungsing dengan fitnah sejak Rasulullah SAW wafat; sudah mulai bertikai lantaran politik kepemimpinan; bersitegang bahkan berbunuhan hanya demi kekuasaan menjadi khalifah.

Masih ada begitu banyak soal pelik yang tak mungkin kami terakan di sini, yang semua itu ternyata juga kita ulangi lagi. Kita sama sekali tak belajar pada sejarah agama sendiri. Kita tak pernah belajar mengenali keyakinan sendiri, kepercayaan sendiri, kedirian sendiri. Kita sibuk berdebat tentang Tuhan yang entah, dan abai pada diri yang lebih mudah dimengerti.

Kita sibuk mengoreksi orang lain. Menghakimi mereka. Mencoreng mukanya. Menafikan adanya. Menolak hadirnya. Mencemooh perilakunya. Mencibir pemikirannya. Nyinyir pada apa yang ia punya, dan tak kita miliki.

Kita getol menguliti salah dan dosa orang lain, tapi luput pada salah-dosa sendiri–dan celakanya, merasa benar sendiri. Padahal pengetahuan kita tentang kebenaran, tak sebatas alif.

Umat Islam pada abad-21 ini punya tugas berat–bukan secara berjamaah, namun senyampang individual. Kita berkarat dalam kenaifan dan kepandiran. Kita tenggelam jauh ke dasar kegelapan pengetahuan keislaman. Pemikiran kita bertungkus lumus pada soal dosa-pahala, neraka-surga, kafir-sesat. Tak lebih. Sedikit saja dari kita yang punya kemampuan menarik diri dari medan pertempuran kata-kata.

Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi pernah menggubah puisi dalam Kun ma la Budda Minhu lil Murid, yang berbunyi:

Siapa saja yang mengada-ada tentang agamanya,

Maka ia melawan jalan Tuhan, dan keselamatan.

Seorang bidah!

Berpalinglah kepada hukum! Jangan membuat rumit.

Semua itu terlarang buatmu. Semua obrolan cerdik tentang ini adalah kepandiran.

Tiada guna bagi maqam dan ahwal.

Agama tidak untuk diperbincangkan: Agama adalah apa yang Tuhan katakan.

atau apa yang Sang Guru penuntun dan utusan (‘alaihissalam) ajarkan:

Bahwa agama bukan sekadar kata-kata.

Menganut agama, sama belaka dengan merangkul angin. Jika tak bisa dirasakan, maka belum absah disebut jalan hidup yang lurus.

Baca juga:  Tahfidzul Quran Sebagai Tradisi Menjaga Keontetikan Alquran

Tulisan ini sejatinya lahir dari tantangan redaktur muda Alif.id untuk mengomentari karangan berjudul “Mengapa Tubuh Saya Menolak Makan Babi” karya Niduparas Erlang. Nama yang apik untuk seorang pengarang.

Baca Juga

Kami memilih untuk tidak menjadikan babi sebagai terdakwa, dengan menyusun pertanyaan yang lebih radikal: kenapa kita harus dan mau beragama? Menjadi Muslim tepatnya. Jika Islam adalah agama yang mengajarkan keselamatan, sudahkah kita merasa selamat kerananya?

Pada titik apa kita sungguh benar menjadi seorang muslim tanpa harus melibatkan segala atributnya? Kebutuhan kita pada agama apa sama persis dengan butuh makan-minum? Apa dampak utama dari keberagamaan kita? Sekadar bisa mengaji Alquran, salat, zakat, puasa, dan haji? Begitu sajakah?

Kini, agama sekadar menjadi bahan rumpian. Persis kabar angin. Lebih parahnya lagi, kerap jadi mitraliur olok-olok yang dimuntahkan di khutbah-khutbah keagamaan. Semua orang bisa berdalil dan berdalih. Tak beda jauh obrolan omong kosong di warung kopi yang membahas segala hal–tapi sumir. Kering makna. Jauh panggang dari api.

Agama Kehidupan

Apa yang sejatinya telah kita lihat selama hidup, adalah apa-apa yang sungguh tak terlihat utuh sama sekali. Semua tercitra secara sembarang. Tercacah. Teriris hingga bagian terkecil. Matahari yang menggantung di langit sana, jadi menciut dalam pandangan kita.

Padahal bumi yang kita huni, kerdil belaka tinimbang matanya hari itu. Bahkan kanvas langit pun tak senyatanya biru mengharu. Tak ubahnya samudera yang membentang luas. Mata kita benarbenar tak bisa diandalkan.

Namun apa lacur, hidup tetap bergulir tak bisa dihentikan. Kita kerap disuguhi pusparagam pemandangan. Kendati sebagian besarnya berlalu begitu saja–bahkan tetap tak bisa dimafhumi. Seperti halnya bila pandangan kita diselimuri wajah buruk rupa seorang pejuang kemanusiaan yang hatinya selembut kapas. Seputih salju. Pun dengan tampang rupawan bromocorah kehidupan. Sangat sedikit sekali di antara kita yang bisa melihat sesuatu sebagaimana adanya.

Buruk di mata kita, elok menurut Tuhan. Sementara bagus kata kita, rusak di hadapan-Nya. Itulah salah sebuah perkara besar manusia. Saling membenturkan pandangan yang jelas rincih.

Barangkali sepanjang usia, kita tak pernah sekali pun berhasil melihat segala yang tampak sesuai apa yang ditampakkan kehidupan. Jika kita sebagai puncak penciptaan dianugerahi penglihatan, tentu semua yang tercipta, niscaya juga “melihat” tingkah polah kita. Lantas, dengan dan bagaimanakah kehidupan memandang kita sepanjang tugasnya di dunia?

Baca juga:  Pendidikan dan Kontribusi Kita

Hidup, kehidupan, dan agama itu, berkait kelindan. Sulit dipisahkan. Ketiganya tak bisa berjalan sendirian. Kehidupan yang bajik, adalah agama yang berbuah baik. Bijak bestari. Agama menyediakan peta jalan Pulang, yang lucunya adalah titik awal keberangkatan kita semula. Maka mudah dimafhumi jika Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajari kita memasang niat hidup mukim di dunia, seperti berikut ini:

“Dari Zaid bin Tsabit RA, beliau berkata, ‘Kami mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal ia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang telah Allah tetapkan baginya, dan sesiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utamanya) maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah–tak bernilai di hadapannya.” (HR Ibnu Majah 4105, Ahmad 5/183, Ad-Daarimi 229, Ibnu Hibban 680).

Jadi, bilakah hubungan kita dengan Islam baik-baik saja? Jangan terlampau tegang, Kisanak. Yuk kita ngopi… []

Ren Muhammad, 15 Maret 1941 Çaka

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top