Pendaftaran Workshop Menulis

Dialog Pengusiran Iblis dari Surga

Edi AH Iyubenu

Ada satu aporisma dalam kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandary yang berbunyi begini: Ma’shiyatun auratsat dullan wa ikhtiqaran/khairun min tha’atin auratsat ‘izzan wa istikbaran.

Artinya:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kemaksiatan yang menumbuhkan perasaan hina dan rendah diri

lebih baik daripada ketaatan yang menumbuhkan perasaan tinggi dan sombong.

Saya ingin mengajak Anda berkembara ke samudra rohani al-Hikam tersebut dengan melayari kapal besar bernama surat Shad ayat 71-85 yang mengabadikan dialog Allah Swt dan iblis sebelum dijatuhkan dari surga. 

Allah Swt berkata kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia dari tanah (thin). “Jika telah Kusempurnakan dan Kutiupkan RuhKu kepadanya, hendaklah kalian menyungkurkan diri dan bersujud kepadanya….”

Sujudlah semua malaikat. Kecuali iblis. Dan, tepat di detik ini jugalah, Alquran menyebut iblis sombong dan menjadi bagian dari kaum kafir. Jadi, makhluk yang pertama kali menorehkan kesombongan adalah iblis.

Mari catat dulu clue pertama ini di sini: sombong adalah warisan iblis yang menyebabkan kekafiran.

Kemudian Allah Swt bertanya kepada iblis, apa gerangan yang membuatmu enggan bersujud, memenuhi perintah-Ku? Apakah engkau bersombong diri dan golongan ‘alin (tinggi hati)?

Tentu, Allah Swt tahu isi hati iblis. Pertanyaan tersebut hanya “komunikasi retoris afirmatif”. Dan iblis benar-benar mengafirmasinya kemudian dengan menjawab: 

“Aku lebih baik darinya. Engkau mencipatakanku dari api dan Engkau menciptakankannya dari tanah.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Catat lagi clue kedua di sini: rasa sombong bersumber dari perasaan “lebih baik”.

Allah Swt lalu mengusir iblis dari surgaNya dan sekaligus menimpakan laknatNya kepadanya, selamanya hingga hari pembalasan. 

Catat lagi clue ketiga di sini: kesombongan mengundang laknat Allah Swt.

Iblis meminta ijin kepada Allah Swt untuk menyesatkan semua manusia ke dalam barisannya, yakni “barisan sombong” dalam konteks pembacaan ini. Allah Swt pun mengijinkan.

Finalnya, clue kelima, Allah Swt berkata: “Sungguh Aku akan memenuhi neraka Jahanam denganmu (iblis) dan siapa pun mereka yang mengikutimu semuanya.”

Sekarang, mari kita masuk ke samudra al-Hikam

Tentu, semua kita memahami bahwa aporisma tersebut tak bisa ditakwil sebagai abai dan membiarkan diri berbuat maksiat. Tidak! Ini bukan hanya logical fallacy yang parah, namun sekaligus merusak tradisi para sufi yang senantiasa menjadikan kepatuhan syariat sebagai fondasi pertama dalam mengarungi makrifatullah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ungkapan puitik para sufi memang akan babak-belur bila tidak ditakwil secara simbolis.

Dalam simbolisme, berdenyar “korpus terbuka” dalam istilah Mohamed Arkoun, yakni senantiasa terhampar samudra makna, maksud, dan sasaran yang seluas pembacaannya sendiri atau lebih. Jika ada seribu pembaca aporisma tersebut, maka akan terbentang seribu timbaan makna, maksud, dan sasaran, dan bahkan bisa lebih ruah lagi. 

Simbolisme adalah gaya dasein manusia hakiki yang sekaligus memperlihatkan bahwa manusia adalah benar-benar mewarisi “Ruh Allah Swt” (wa nafahtu ‘alaihi ruhi). Ruh Allah Swt pada diri ini dapat kita kerucutkan pada mysterium tremendum (Jalaliyah) dan mysterium fascinant (Jamaliyah) –dalam tipologi Annimarie Schimmel.

Pada arah Jalaliyah aporisma tersebut, kita memahami bahwa perintah Allah Swt kepada kita untuk taat kepadaNya, teguh menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, adalah keniscayaan kehambaan kita kepada Sang Khaliq. Ia adalah ekspresi “pantas paling niscaya sederhana” dalam relasi hierarkis hamba dan Tuan.

Tetapi, itu tak pernah cukup. Maka mestilah ia diberanjakkan untuk meliputi arah rohaninya sekaligus, kedalaman batiniahnya, yakni “rendah diri, rendah hati” –sesuai khittah hamba.

Di arah inilah Jamaliyah itu bekerja. Sumbernya ialah bahwa Kemahakuasaan Allah Swt (Jalaliyah) sebagai Tuhan, Tuan, Khaliq, tak tergantung sedikit pun pada penyembahan dan pengabdian manusia (hamba, makhluk) kepadaNya. JalaliyahNya akan tetap tegak, kokoh, dan abadi sekalipun seluruh makhluk mengingkariNya.

Maka, kejamaliyahan itu mestilah lalu mengambil peran inhern-otomatis dari kejalaliyahan itu, karena dengan cara simbiosis-mutualis demikianlah seorang hamba dapat membangun dirinya dengan kafah. 

Dengan kata lain, kepatuhan Jalaliyah yang pertama mestilah dikafahkan dengan kepatuhan Jamaliyah pula. Jika salah satunya berlubang, berlubanglah kekafahan kehambaan diri ini kepadaNya. Salah satu risikonya ialah terjatuh pada kesombongan, menjadi hijab rohani, dan terhempaslah diri dari barisan hambaNya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sampai di sini kita mengerti dengan saksama pesan Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandary di atas, bahwa hendaknya “Pendidikan Allah Swt” secara Jalaliyah dan Jamaliyah kepada kita membuahkan Diri yang berarah dua sekaligus: kepatuhan syariat dan kerendahan hati.

Dengan gaya negasi yang paripurna, al-Hikam mengandaikan bahwa patuh syariat tetapi gagal rendah hati alias menyemburkan kesombongan itu lebih tercela dibanding berbuat maksiat yang kemudian memijarkan perasaan hina dan rendah diri pada pelakunya. Sebab dari rasa hina dan rendah diri inilah potensi untuk melaju kepada kepatuhan syariat menjadi terbuka lebar, dan derajat itulah yang kemudian akan mengarahkan kepada kekafahan sikap sang hamba kepada Sang Khaliq (patuh dan rendah hati). 

Ini berbanding terbalik dengan mereka yang tinggi hati karena merasa telah menjadi pelaku syariat yang teguh.  Kualitas rohaninya kepada Sang Khaliq bakal serupa belaka dengan persuaan air dan daun talas. Lahiriahnya patuh syariat Allah Swt, tapi rohaninya membangkangiNya. Sungguh anomali!

Kepada iblis yang “merasa lebih baik” dibanding Adam yang diciptakan dari tanah (atau dalam konteks kita, misal, memandang rendah orang yang belum istiqamah shalat jamaah di masjid), Allah Swt menjatuhkan laknat, menggolongkannya ke dalam kelompok kafirun, dan mengazabnya kelak dengan neraka Jahanam. 

Lebih lanjut iblis memberikan “bocoran” bahwa hanya mereka yang muhklis yang akan selamat dari tipu-dayanya, yakni “merasa lebih baik”, tinggi hati, dan sombong itu.

Karakter mukhlis ini, berdasar paparan sebelumnya, dapat kita pahami sebagai terejawantahnya Jalaliyah dan Jamaliyah pada diri: patuh syariatNya di satu sisi dan pula rendah hati cum bagus akhlaknya di sisi lain. 

Inilah sikap kafah seorang hamba; semacam perayaaan Kemahaan Allah Swt di dalam diri, bahwa hanya Allah lah Yang Maha Agung dan sekaligus Maha Welas Asih. 

Hamba yang kafah tentulah akan merayakan ketakziman mutlak (hanifan musliman) kepada KeagunganNya, sekaligus merayakan keindahan perilaku (akhlak karimah) kepada sesamanya. Wallahu a’lam bish shawab.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top