Sedang Membaca
Agama itu Cinta
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Agama itu Cinta

Ren Muhammad
  • Manusia yang hanya sekadar memuja agama, takkan pernah bisa merasakan keindahan hidup yang dilumuri cinta.

Sekelompok pemuda-pemudi duduk melingkar dalam sebuah halalbihalal di bilangan Depok, Jawa Barat, pada 4 Syawal 1440 H. Sepintas, sarasehan ini tampak biasa saja. Tapi ternyata tema yang sedang mereka bincangkan sarat kedalaman.

Berkisar pada asal-usul agama (Islam), dan masa depan kehidupan umat manusia. Kita sama-sama mafhum bahwa agama telah mewarnai sejarah peradaban sejak tujuh ribu tahun silam. Rentang waktu sepanjang ini, paling tidak, cukup sebagai bahan renungan tentang kenapa agama harus ada dan apa kandungan nilai di dalamnya.

Bagi kita yang kadung mewarisi agama secara turun-temurun, ada beberapa pertanyaan radikal yang kerap luput diajukan pada diri sendiri. Kesatu, kenapa kita mesti beragama? Kedua, apakah agama hanya sekadar soal neraka-surga? Ketiga, di bagian manakah dalam diri kita agama bersemayam?

Mari kita jawab tiga soal tersebut satu per satu.

Apa alasan utama kita harus beragama? Mencari selamat atau manfaat? Selamat dari apa? Manfaat bagi siapa? Jika tak memeluknya lantas kenapa?

Padahal sebagian besar kita memulai karier beragama melalui doktrinasi-dogmatisasi orangtua. Bukan berdasar pencarian, apa pula kegelisahan. Adakah dengan bekal agama kita serta-merta menjadi benar?

Bila memang iya, kenapa sesama umat beragama malah saling menyalahkan. Bilamana agama sumber kebijaksanaan, lalu kenapa para penganutnya saling berbalahan dan sampai berbunuhan?

Andai tolok ukur menganut agama agar menjadi pemegang tunggal kebenaran, maka tak salah kiranya Hitler membentuk fasisme. Dalam hal ini, Nazi merupakan semacam ejawantah sebuah “agama” yang salah kaprah. Entahlah.

Kehadiran Nabi Muhammad Saw di Makkah pada abad ke-7 M, sama sekali jauh dari kepentingan praktis masyarakat Arab di jazirah. Ia tak berniat menggulingkan kekuasaan pamannya, Abu Sufyan, sebagai kamitua di sana.

Ia hanya ingin membanteras kejahilan peradaban yang terjun ke titik nadir. Ia tak bercita-cita jadi pemimpin kabilah, kafilah, apalagi khilafah. Tak.

Sebab risalah yang dibawanya, ditujukan demi merahmati alam seisinya. Termasuk anak-anak manusia. Muhammad Saw hadir mengingatkan bahwa kita adalah makhluk spiritual yang turun dari langit, dan berjalan di bumi. Keindahan akhlaknya adalah kunci keberhasilan risalah Islam.

Rasulullah Muhammad Saw terusir dari Makkah hanya karena dianggap mengganggu kemantapan pemberhalaan berkedok ekonomi yang dikelola para tetua kabilah. Kerana itulah, tak usah resah melihat Islam dipolitisasi. Toh, pada awal kemunculannya pun fitnah sudah sedemikian rupa mewabah.

Bahkan abad demi abad perjalanan sebuah agama, selalu saja ada segelintir oknum yang memanfaatkannya sebagai mesiu pertikaian umat manusia.

Tantangan sekaligus tugas kita yang utama adalah mencari titik temu agama dalam kehidupan. Landasan terkuat yang bisa menjawab apakah kita terlahir untuk beragama, atau agama yang hadir untuk kita. Demikianlah.

Secara prinsip, tak ada satu pun agama yang tidak mengajarkan kebaikan dan menolak keras segala keburukan. Lantas jika kita sedang berbuat baik, apakah kemudian kita telah menjadi umat beragama yang budiman? Bilakah saat melakukan kebaikan itu kita sama dengan telah menjalankan laku beragama yang baik? Tanpa embel-embel agama, bisakah kita tetap berbuat kebaikan?

Baca juga:  Ketika "Ya Allah" Berubah Menjadi "Yawla"

Rasulullah Muhammad Saw diutus Allah demi menyempurnakan akhlak mulia. Artinya, telah ada yang disebut akhlak itu. Hanya saja belum paripurna. Berarti, kehadiran Islam yang dibawa oleh Beliau, menjadi penyempurna akhlak manusia. Lantas bagaimanakah cara menyempurnakan akhlak yang dimaksud?

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah Swt).” Hal ini menunjukkan adanya “keserupaan” Allah dan makhluk dari segi sifat. Jika Allah Maha-pengampun (Al Ghofur), Maha-pemaaf (Al-Afwu), dan Maha Sabar (As-Shabur), maka manusia juga harus memaksimalkan diri meniru sifat-Nya, yaitu menjadi makhluk pengampun, pemaaf dan penyabar.

Tuhan memberi tanpa diminta. Terus memberi dan tiada kekurangan. Dia mencintai kebaikan dan keindahan. Sangat mustahil mendzalimi makhluk, sebab Dia menautkan diri-Nya dengan segala ciptaan—terutama manusia, yang menjadi puncak Maha Karya.

Terkait penyempurnaan akhlak, secara mudah begini pemahamannya. Allah menghendaki berbuat kebaikan tanpa alasan, apalagi balasan. Nah, mari kita telaah diri sendiri. Bisakah kita melakukan sebuah kebaikan tanpa harus berharap imbal baliknya? Sementara sudah merasa berbuat baik pun, sama dengan terjebak dalam pamrih. Satu perbuatan menjadi baik jika terbebas dari keakuan.

Sepenggal hadis di atas mengisyaratkan hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya, yang lebih tepat dikatakan imanen. Berumah dalam kesadaran. Para sufi lebih tertarik mendekati Tuhan melalui jalur ini.

Sebab, didukung ayat demi ayat Alquran yang lebih menonjolkan aspek kesadaran akal budi, feminitas, kelembutan, kasih-sayang, dan jamaliyah (keindahan)-Nya.

Itulah kenapa para arif billah, manusia bijak bestari tak terlalu gandrung membicarakan surga-neraka dalam laku kehidupan mereka dan pengajarannya. Mereka hanya disibukkan oleh persoalan mengendalikan diri sendiri dari jeratan nafsu duniawi.

Egosentrisme yang kerap kali menjungkalkan kita dalam lembah kenistaan. Jatuh ke derajat terendah. Lupa diri. Tinggi hati. Merasa yang paling benar, bahkan melampaui kebenaran itu sendiri. Duh…

Sampai di sini, kita telah menjawab dua soal. Tersisa satu pertanyaan lagi: di bagian manakah dalam diri kita agama bersemayam?

Merujuk pembabaran di atas, kesadaran kebertuhanan membawa kita pada ranah transendensi. Di luar batas kesanggupan kita sebagai manusia. Adikodrati. Sangat luarbiasa.

Ulama Islam menamai ikhwal ini dengan sebutan pengalaman ruhani/batin. Pengalaman yang kemudian mengendap ke dalam jiwa, lantas menumbuhkannya. Membesar. Tinggi menjulang menerobos langit dunia.

Bekal inilah yang kelak membuat para Nabi, Rasul, dan gnostikus menjadi unggul di atas pentas kehidupan. Agama bagi mereka bergelimang pengalaman kemanusiaan. Nabiyullah Ibrahim as mengampuni Namrudz yang melemparkannya dalam kobaran api.

Baca juga:  Klandestin Trans-Nasional Pengerat Islam Nusantara

Nabi Yusuf as memaafkan sebelas kakak kandungnya, yang bersekongkol membuang ia ke sumur. Rasulullah Saw mencintai seluruh musuhnya, dan merangkul mereka setelah berbai’at padanya dalam rengkuhan Islam.

Imam ‘Ali meridhai Muljam yang telah menusuknya dengan pedang beracun. Sukarno memilih tak membalas dendam pada Suharto—yang telah ia besarkan sejak bukan siapa-siapa bagi Indonesia. Bung Karno lebih berpihak pada ratusan juta rakyatnya yang terancam perang saudara, tinimbang memenangkan kopa dan darwitanya pribadi.

Ya, Bapak Proklamator teramat sangat mencintai manusia dan kemanusiaan. Mengasihi dan menyayangi bangsanya sendiri. Umat manusia.

Berkenaan dengan yang demikian, kami teringat pada pidato kebangsaan Sukarno manakala memungkasi sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

“Prinsip kebangsaan ini ada bahayanya. Mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme sehingga berpaham “Indonesia uber alez.” Inilah bahayanya kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Padahal tanah air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja daripada dunia. Ingatlah akan hal ini. Kita harus menuju persamaan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia merdeka, tetapi harus menuju pula kekeluargaan bangsa-bangsa.”

“Justru inilah filosofi prinsip kedua, yang saya usulkan kepada tuan-tuan dan bolehlah saya namakeun Internasionalisme. Ia tidak dapat subur kalau tiada berakar dalam buminya nasionalisme, yang juga tak dapat tumbuh subur kalau tiada hidup dalam taman sarinya internasionalisme.

Jadi dua hal ini saudara-saudara, prinsip satu dan prinsip dua yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.”

Baca Juga
Bagaimana Ekspresi Ulama Sunda Mencintai Nabi? 3

Kemurnian Agama

Pada abad ke-21 ini, kita terlanjur terbelah dengan segala rumusan sosiologi Barat, yang mengotakkan manusia dalam terma kesukuan, ras, dan golongan. Padahal sejatinya, dari dan di mana pun kita lahir, kita tetap manusia yang sama-sama bisa sedih, senang, terluka, berbahagia. Bahasa yang kita gunakan boleh berdeda. Namun rasa yang kita miliki sejatinya sama belaka.

“Di pusat keberadaanmu, kau akan memiliki jawaban tentang siapa kau sebenarnya dan apa yang kau inginkan,” demikian yang disampaikan Lao Tzu (601 SM) pada murid-muridnya. Maka dengan begitu kita pun tahu apakah agama turun demi kemanusiaan, atau manusia turun untuk memeluk agama.

Manusia yang hanya sekadar memuja agama, takkan pernah bisa merasakan keindahan hidup yang dilumuri cinta.

Manusia jenis itu, takkan sanggup mengerti bahwa jalan menuju tuhan sebanyak jumlah keturunan Adam. Maka tak syak bila kemudian Allah menerakan dalam Alquran ayat berikut ini:

“… untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat. Namun Dia hendak mengujimu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali. Lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan (ketika di dunia).” (QS al-Ma’idah [5]: 48)

Baca juga:  Bom di Mesir, Setelah di Gereja, Kini di Masjid

Hampir sebagian besar manusia, Muslim terutama, yang sengit berpikir tentang Qadha dan Qadar dalam hidupnya. Qadha itu belum terjadi dan takkan terjadi lagi. Sedang Qadar, sudah terjadi dan takkan terulang lagi. Dua bagian ini takkan bisa dimengerti apabila hidup sebagai jantung agama dalam diri kita, tak pernah tersentuh pelajaran kemanusiaan.

Islam bukan hanya perkara masjid. Menilik pada rukun yang pertama, agama terakhir ini berjalin kelindan dengan penyaksian kehadiran Allah dan Rasul-Nya. Allah mengejawantah di dunia, melalui ajaran keselamatan & rahmat semesta alam yang disampaikan Rasulullah agung, Muhammad Saw. Manusia sempurna yang lemah lembut dan tanpa cela. Ia mencintai kehidupan, dan kehidupan mengharumkan namanya.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Takkan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.”

Lalu ada seorang yang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah Saw berpesan, ”Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau disayangi oleh penghuni Iangit.” (HR. Abu Daud, lihat Shahihul Jami’ No. 3522).

Menelaah dua hadis tersebut, sejatinya tak ada yang pantas kita banggakan dengan status agama. Islam atau bukan, kemanusiaan kita yang dipertanyakan. Agama diturunkan tidak untuk mengajari manusia jadi pembunuh.

“Sesiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakanakan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan sesiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al-Maidah [5]: 32).

Bila ada manusia yang merasa yakin benar dan kerana itu ia ingin selamat sendiri, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Kehadirannya di dunia ini saja sudah anugerah terbesar dan keajaiban yang nyata.

Sebab tak satu manusia di bumi ini yang pernah memesan pada Tuhan ingin memeluk Buddha, berjenis kelamin perempuan, lahir di Isreal, anak Fir’aun, beristri Madonna, atau punya ayah semacam Hitler. Maka dari itu, mari merenungi kehadiran kita di sini. Kenapa kita mengada jika kelak harus meniada—selamanya.

Agama itu Cinta. Rindu pada kebahagiaan adalah imannya. Maka izinkanlah kami menyampaikan bahwa hidup adalah ujian tentang cinta, kasih, dan sayang tak berkesudahan. Mugiya rahayu sagung dumadhi. (atk)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top