Sedang Membaca
Sikap Gus Dur terhadap Orang yang Memusuhinya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sikap Gus Dur terhadap Orang yang Memusuhinya

Redaksi

Pelajaran yang termasuk paling sulit dari Gus Dur kepada saya (mungkin juga bagi seluruh warga NU dan sebagian terbesar bangsa Indonesia) adalah: berteman dengan pihak yang tak sependapat dengan – atau malah memusuhi- kita. Tampaknya hal ini sederhana saja, apalagi kalau cuma diomongkan, diseminarkan, dikhotbahkan, dan ditulis. Yang sulit adalah ketika dipraktikkan. Secara konsisten lagi. Bukan saja mempraktikkan kata “cintailah musuhmu” adalah kerja keras pribadi, tetapi juga punya dampak kepada yang lain.

Bahkan bisa jadi gara-gara melaksanakan kata-kata tersebut secara konsisiten, seseorang bisa minimal “dicurigai” dan maksimal berpotensi “dimusuhi” oleh seantero negeri. Apalagi kalau sudah ada sentimen primordial seperti agama, ras, etnik, dan gender serta “dibumbui” politik! Gus Dur adalah contoh sikap mencintai dan menjadikan teman pihak-pihak yang berbeda pendapat par excellent. Sampai saya pun yang sudah mencoba “memahami” kadang-kadang tidak tahan untuk tidak protes: “Gus, wong orang kayak gitu kok masih diakrabi terus..”. BegItu omelan saya kalau sudah sendirian bersama beliau. Jawaban Gus Dur juga konsisten: “Sampean tenang saja, gak perlu khawatir, Kang.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saya tidak tahu ada berapa manusia di negeri kita yang kawannya begitu bervariasi seperti almaghfurlah: ada yang non-Muslim (dari segala macam agama dan kepercayaan), atheis, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender), agnostis, paranormal, pemberontak, komunis, jenderal, pokoknya sebut saja, pasti Gus Dur punya kenalan di sana. Apalagi kalau cuma kawan yang berbeda aliran politik atau gerakan politik. Meskipun Gus Dur bertentangan secara keimanan, ideologis, strategis, atau apapun, beliau bisa saja bersahabat tanpa pura-pura.

Bukan berarti beliau tanpa reserve atau menjadi relativis, tetapi memang benar-benar menjadikan mereka kawan setidaknya untuk memperluas cakrawala dan menjadi pengontrol diri dari kecenderungan arogansi dan monopoli kebenaran. Itulah sebabnya Gus Dur juga harus menanggung resiko digunjing dan dituduh: sebagai sosialis Ba’athist, antek Yahudi, pengikut Moonisme, pelindung PKI, sampai dengan dianggap Kafir atau mendekati Kafir (na’udzubillah). Padahal, justru dengan perkawanan yang universal ini, ternyata bukan saja Gus Dur dikenal di seantero jagad, tetapi lebih mudah memperjuangkan aspirasi ummat, warga nahdliyyin, dan bangsa pada setting apapun!

Baca juga:  Ketika Gus Dur Pertama Kali Masuk Istana

Salah satu episode yang saya saksikan sendiri dan berbekas mendalam ketika dalam sebuah seminar di Masjid Sunda Kelapa sekitar th 1996, bulan Desember. Gus Dur dikritik Yusril Ihza Mahendra (YIM) soal kedekatan beliau dengan kelompok non Muslim, khususnya ummat Kristiani.

YIM mengatakan, sambil mengutip ayat Alquran yang berbunyi “Muhammadun Rasulullah. Walladzina ma’ahu asyiddaa u ‘alal kuffaari ruhamaa u bainahum..” (Muhammad adalah Rasul Allah, dan bersama beliau adalah orang yang (bersikap) keras/tegas terhadap orang-orang Kafir, tetapi (bersikap) ramah tamah/ kasih sayang di antara sesama (Muslim).”

Menurut YIM, Gus Dur tidak mengikuti ayat ini karena justru beliau terbalik “ramah tamah dengan orang non Muslim, dan sering mengeritik keras terhadap sesama Muslim.”

Gus Dur menjawab dengan santai seperti biasa: “Saudara Yusril perlu mengaji lebih dulu sebelum memberi tafsir Alquran dengan benar. Tegas di dalam ayat ini berarti tegas dalam soal keimanan, bukan soal pergaulan. Kita sebagai Muslim (apalagi dalam kondisi mayoritas) tentu harus tetap ramah dan melindungi terhadap orang non Muslim yang minoritas. Kalau saya sering bersikap kritis terhadap sesama gerakan Islam di Indonesia, ya karena dalam semangat “tawashou bil haq”. Memberikan pembelajaran internal, memang beda dengan pembelajaran keluar. Justru “ruhamaa” atau kasih sayang itu saya ekspressikan dengan cara kritik. Kadang-kadang terdengar keras, tetapi saya tak memonopoli kebenaran seperti kebanyakan ormas atau tokoh-tokoh Islam lainnya.”

Baca juga:  Intoleransi, Tantangan Demokrasi di Indonesia

Jadi, bagi Gus Dur kalau soal iman maka sebagai sorang pemeluk teguh (istilah penyair Chairil Anwar), beliau tidak ada kompromi mengenai kebenaran keyakinannya. Tetapi dalam soal “hablun minannas” atau bergaul dengan sesama manusia, apalagi sesama anak bangsa, para pemilik sah negeri ini, Gus Dur tidak mau membedakan antara Muslim dan non-Muslim.

Bahkan juga demikian dalam pergaulan antar-bangsa, Gus Dur bisa menjalin pertemanan dengan siapapun kendati berlainan keyakina, ras, etnik, bahasa, atau gender. Humanitarianisme Gus Dur adalah dalam prilaku konkret dengan segala macam resikonya. Biasanya, orang hanya mau enaknya saja kalau bersikap baik dengan semua orang, pada hal resiko juga bisa sanbgat serius.

Ketika Gus Dur menjadi salah satu pendiri Yayasan Perdamaian Shimon Peres di Israel, ributlah semua orang dan beliau pun jadi sasaran “hujatan” dari sebagian tokoh dan ummat Islam di negerinya sendiri. Gus Dur sadar sepenuhnya akan resiko tersebut. Tetapi kalau tidak ada yang mau mengambil sikap begitu, mana mungkin negeri ini mampu melakukan dialog dengan lawan yaitu Israel. Apakah kemudian kita mau ngotot tidak mau bicara, sementara kondisi riil politik global menunjukkan perjuangan Palestina mentok gara-gara negara Islam seperti Indonesia tidak mampu melakukan terobosan kreatif dan produktif. Orang boleh tak sepakat dengan strategi Gus Dur, tetapi negara-negara seperti Mesir, Lebanon, Qatar, dan bahkan Hamas sendiri saat ini mulai melihat pentingnya dialog dengan musuh mereka. Sama juga Israel akan terperangkap dalam lingkaran kekerasan jika keukeuh dengan sikap keras dan kebijakan mirip apartheid itu.

Baca juga:  Pernikahan dan Alibinya, Hamsad Rangkuti dan Sebuah Cerpennya

Saya memang belum sampai kepada “maqam” setinggi Gus Dur dan sering bertanya kepada beliau soal perkawanan ini. Misalnya, Gus Dur kok masih juga berteman dengan mereka yang sudah “haqqul yaqin” ikut rombongan dan bahkan pelopor dalam menjatuhkan beliau sebagai Presiden, misalnya. Gus Dur menjawab: “Halah, wong gitu aja kok dipikir. Nanti mereka itu kan pada kena sendiri-sendiri. Rakyat dan sejarah ada di pihak saya, Kang. Mungkin sekarang kelihatanyna saya dikalahkan, tapi belum tentu sepuluh tahun, duapuluh tahun, seabad lagi.”

Bagi saya yang masih manusia biasa ini, memang ada yang disebut lawan dan kawan yang harus diwaspadai, khususnya dalam politik. Tapi, ya itu tadi.. saya kan manusia “biasa”, sementara Gus Dur adalah Insya Allah seorang manusia besar dengan karakter dan jiwa “waliyullah.”

Kendati masih sangat kurang, setidaknya gagasan berteman dengan pihak yang tak sependapat dengan saya, akan terus saya upayakan. Karena inilah pelajaran dari beliau kepada saya yang memang termasuk paling sulit. kalau kita dapat melaksanakan prinsip tolerasnsi yang dipegang teguh oleh Gus Dur sampai wafatnya, Insya Allah ummat islam dan warga NU akan menjadi tulang punggung bagi NKRI dan menjadi “uswatun hasanah” bagi negara-negara berpenduduk Muslim lainnya, dan ummat manusia di seluruh dunia. (RM)

 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

(Sumber: Buku Gus Durku Gus Dur Anda Gus Dur Kita, Penulis Muhammad AS Hikam, Penerbit Yrama Widya, 2013)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top