Sedang Membaca
Sabilus Salikin (36): Karamah atau Keramat
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (36): Karamah atau Keramat

Redaksi

Pembahasan ini, karamah atau dalam bahasa Indonesia Keramat, mengundang kontroversi. Keramat dalam bahasa Indonesia diartikan seseorang yang memiliki kelebihan khusus, di luar kebiasaan. Keramat dimiliki seseorang karena punya tingkat ketakwaan yang hebat. Orang yang memiliki keramat, sering disebut wali.

Segala suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan kebiasaan (khawariqul ‘adah) yang terjadi pada diri manusia, adakalanya disertai dengan sebuah pengakuan.

Adapun perbuatan yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang disertai dengan pengakuan dibagi menjadi empat:

Pertama, pengakuan menjadi Tuhan, seperti pengakuan diri Fir’aun dan Dajjal menjadi Tuhan,

Kedua, pengakuan menjadi Nabi. Poin ini dibagi menjadi dua:

  1. Pengakuan yang benar disertai dengan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebiasaan (Khawariq al-‘Adah) yang disebut dengan Mu’jizat, dan tidak bisa dikalahkan
  2. Pengakuan yang bohong, dia tidak bisa menampakkan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebiasaan (Khawariq al-‘Adah), dan apabila dia bisa mengeluarkan Khawariq al-‘Adah, maka pasti bisa dikalahkan.

Ketiga, pengakuan menjadi Wali. Perbuatan yang luar biasa yang terjadi pada diri manusia dengan disertai dengan pengakuan menjadi wali. Dalam hal ini para ulama’ Sufi berbeda pendapat tentang apakah boleh seseorang mengaku mempunyai karamah?

Sementara pendapat yang lebih unggul adalah pendapat yang tidak disertai dengan pengakuan menjadi wali.

Keempat, pengakuan menjadi pengikut Setan. Sesuatu yang luar biasa yang muncul dari diri manusia disertai dengan taat kepada setan.

Sementara itu, ada keistimewaan yang tidak disertai pengakuan.

Sesuatu yang luar biasa yang muncul dari diri manusia tanpa disertai dengan pengakuan, ada dua macam:

  1. Sesuatu yang luar biasa yang muncul dari seseorang yang Sholeh dan ini yang disebut dengan karomah Auliya’
  2. Sesuatu yang luar biasa yang muncul dari seseorang yang jelek, pendosa dan dijauhkan dari Allah, hal ini disebut Istidroj, ((Jâmi’ al-Karâmât al-Auliyâ’, juz 1, halaman: 14).
  • Dasar dasar tentang keberadaan karomah berdasarkan Alquran:
  1. Surat maryam ayat 25

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيّاً ﴿٢٥﴾

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

  1. Surat Ali Imrân ayat 37

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ إنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٣٧﴾

Baca juga:  Nasruddin Hoja Minta Guru Besar Turun dari Kursinya

. ..Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Baca Juga

  1. Surat al-Kahfi ayat 15-16

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحمته ويُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقاً ﴿١٦﴾

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian Rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

  • Dasar dasar tentang keberadaan karomah berdasarkan Hadis:
  1. Shahih al-Bukharinomor Hadis 3253:

3253 – حَدَّثَنَا مُسْلِمٌ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ حَدَّثَنَا جَرِيْرُ بْنِ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ :

( لَمْ يَتَكَلَّمُ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ عِيْسَى وَكَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ رَجَلٌ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ كاَنَ يُصَلِّي جَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ فَقَالَ أُجِيْبُهَا أَوْ أُصَلِّي فَقَالَتْ اللهم لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيْهِ وُجُوْهَ المُوْمِسَاتِ وَكَانَ جُرَيْجُ فِي صَوْمَعَتِهِ فَتَعَرَّضَتْ لَهُ اِمْرَأَةٌ وَكَلَّمَتْهُ فَأَبٰى فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَتْ مِنْ جُرَيْجِ فَأَتَوْهُ فَكَسَّرُوْا صَوْمَعَتَهُ وَأَنْزَلُوْهُ وَسَبُّوْهُ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ثُمَّ أَتَى الغُلَامَ فَقَالَ مَنْ أَبُوْكَ يَا غُلَامُ ؟ قَالَ الرَّاعِي قَالُوْا نَبْنِيْ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ ؟ قَالَ لَا إِلَّا مِنْ طِيْنٍ . وَكَانَتْ اِمْرَأَةٌ تَرْضَعُ اِبْنًا لَهَا مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ فَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ رَاكِبٌ ذُوْ شَارَةٍ فَقَالَتْ اللهم اجْعَلْ اِبْنِيْ مِثْلَهُ فَتَرَكَ ثَدَّيْهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الرَّاكِبِ فَقَالَ اللهم لَا تَجْعَلْنِيْ مِثْلَهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدَّيْهَا يَمُصُّهُ – قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَمُصُّ أُصْبُعَهُ – ثُمَّ مَرَّ بِأَمَةٍ فَقَالَتْ اللهم لَا تَجْعَلْ اِبْنِي مِثْلَ هَذِهِ فَتَرَكَ ثَدَّيْهَا فَقَالَ اللهم اجْعَلْنِيْ مِثْلَهَا فَقَالَتْ لِمَ ذَاكَ ؟ فَقَالَ الرَّاكِبُ جَبَّارٌ مِنَ الْجَبَابِرَةِ وَهِذِهِ الأَمَّةُ يَقُوْلُوْنَ سَرَقَتْ زَنَيَتْ وَلَمْ تَفْعَلْ )

Dari abu Hurairah Rasulullah bersabda : Tidak ada bayi yang bisa berbicara kecuali tiga orang, Nabi Isa As, dan pada masa bani Israil ada seorang laki-laki bernama juraij sedang beribadah di musallahnya, kemudian ibunya datang dan memanggilnya kemudian juraij berkata di dalam hatinya “apakah aku penuhi panggilan ibuku ataukah aku sholat” maka berdo’alah ibunya dalam hatinya “ya Allah jangan engkau matikan Juraij hingga engkau melihatkan wajah seorang pelacur. Pada suatu ketika Juraij berada di musallahnya datanglah seorang perempuan menawarkan dirinya kepada Juraij dan Juraij menolaknya, maka datanglah pelacur tersebut pada seorang pengembala dan menawarkan dirinya pada pengembala. Maka dia hamil dan lahirlah seseorang bayi, dan perempuan itu mengatakan bayi itu hasil dari hubungan dengan Juraij, kemudian orang-orang mendatangi Juraij dan menghancurkan musollanya serta mencemoohnya, setelah itu Juraij mengambil air wudlu dan sholat. Kemudian mendatangi bayi tersebut, seraya mengatakan “ Siapa ayahmu” Bayi tersebut menjawab “”Ayahku seorang pengembala. Akhirnya orang-orang membangun kembali musallah Juraij dari emas. Akan tetapi Juraij menolaknya, kecuali dari tanah. Dan bayi yang menyusu pada seorang ibu dari kaum bani Israil, kemudian lewat didepan perempuan tersebut seorang penunggang kuda yang gagah, maka ibunya berdo’a “ya Allah jadikanlah anakku seperti dia” maka bayi tersebut melepaskan susuan ibunya seraya mengatakan “ya Allah jangan jadikan aku seperti dia, setelah itu dia menyusu lagi. Abu Hurairah berkata seakan-akan aku melihat Nabi menghisap jari tangannya, kemudian lewat seorang amat didepan ibu tersebut maka berkatalah “ ya Allah jangan jadikan anakku seperti dia, maka bayi tersebut melepaskan susuan ibunya seraya mengatakan “ya Allah jadikan aku seperti dia, Ibunya bertanya kenapa ? bayi itu menjawab,’’ penunggang tersebut adalah seseorang yang pemimpin yang sewenang-wenang,’’ sedangkan amat tersebut adalah orang yang dituduh mencuri dan berzina akan tetapi dia tidak pernah melakukanya.

  1. Shahih al-Bukharinomor Hadis 2152, Tafsîr al-Fakhru al-Râzî Mafâtih al-Ghaib bab Surat al-Kahfi, Juz 21, halaman: 87-88
Baca juga:  "Ahli Ilmu", Orang Nusantara di Makkah dalam Catatan Sejarawan Arab di Akhir Abad ke-19 M.

2152 – حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرُناَ شُعَيْبُ عَنِ الزَّهْرِي حَدَثَنِيْ سَالِمٌ اِبْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عَبْدِ اللهِ بِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( اِنْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا الَمبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَسَدَتْ عَلَيْهِمْ الغَارَ فَقَالُوْا إِنَّهُ لَا يُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوْ اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ اللهم كَانَ لِيْ أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ لَا أَغْبَقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا وَلَا مَالًا فَنَاءً بِيْ فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أَرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلِبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنَّ أَغْبُقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَاًلا فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحَ عَلَى يَدِي أَنْتَظِرُ اِسْتَيْقَاظُهُمَا حَتَّى بَرِقَ الفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوْقَهُمَا اللهم إِنْ كُنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ اِبْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ الخُرُوْجَ قَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللهم كَانَتْ لِيْ بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ فَأَدَرْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلِمْتُ بِهَا سَنَةً مِنَ السِّنِيْنَ فَجَاءَتْنِيْ فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ دِيْنَاٍر عَلَى أَنْ تَخِلِّي بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلْتُ حَتَّى إِذَا قَدَّرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لَا أُحِلُّ لَكَ أَنْ تُفْضِ الْخَاتِمَ إِلَّا بِحَقِّهِ فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوْعَ عَلَيْهَا فَانْصَرَفَتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَهَبَ اَلَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللهم إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ اِبْتَغَاءَ وَجْهِكَ فَافَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ فاَنْفَرَجَتْ الصَّخْرَةَ غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ الْخُرُوْجَ مِنْهَا قَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَقَالَ الثَالِثُ اللهم إِنِّي اِسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ اَلَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَرَتْ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمَوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِيْنٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهَ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِيْ فَقَلَتْ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرَكَ مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالْرَقِيْقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهَ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِيْ فَقُلْتُ إِنِّي لَا أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلُّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللهم فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ اِبْتِغَاءً وَجْهِكَ فَافَرَّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ فَانْفَرَجَتْ الصَخْرَةُ فَخَرَجُوْا يَمْشُوْنَ )

  1. Tafsîr al-Fakh al-Râzî Mafâtih al-Ghaib bab Surat al-Kahfi, Juz 21, halaman: 88:
Baca juga:  Memperindah Alquran, Mempertimbangkan Iluminasi Lokal

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “بَيْنَمَا رَجُلٌ يَسْمَعُ رَعْدًا أَوْ صَوْتًا فِي السِّحَابِ: أَنْ اَسُقَّ حَدِيْقَةِ فَلَانٍ ، قَالَ فَعَدَوْتَ إِلَى تِلْكَ الْحَدِيْقَةِ فَإِذًا رَجُلٌ قَائِمٌ فِيْهَا فَقُلْتُ لَهُ مَا اِسْمُكَ ؟ قَالَ: فَلَانٌ بْنِ فُلَانٍ بْنِ فُلَانٍ قَالَتْ : فَمَا تَصْنَعُ بِحَدِيْقَتِكَ هَذِهِ إِذَا صَرَّمْتَهَا ؟ قَالَ: وَلَمْ تَسْأَلْ عَنْ ذَلِكَ ؟ قُلْتُ : لِأَنِّيْ سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السِّحَابِ أَنْ اَسُقَّ حَدِيْقَةِ فُلَانٍ ، قَالَ: أَمَّا إِذَا قُلْتَ فِإِنِّي أَجْعَلُهَا أَثْلَاثًا فَاجْعَلُ لِنَفْسِيْ وَأَهْلِي ثُلُثًا وَاجْعَلُ لِلْمَسَاكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ثُلُثًا وَأَنْفَقُ عَلَيْهَا ثُلُثًا”

Lihat Komentar (0)

Komentari