Sabilus Salikin (21): Pembahasan Tasawuf

Redaksi
Sabilus Salikin (21): Pembahasan Tasawuf

“Barangsiapa yang bertasawuf tanpa Ilmu Fiqih, maka dia disebut zindiq (orang yang pura-pura beriman), dan barangsiapa yang mendalami Ilmu Fiqih tanpa bertasawuf maka dia disebut fasiq. Barangsiapa yang menyeimbangkan antara keduanya maka dialah ahli haqîqat yang sesungguhnya (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 64)”

Demikian terjemahan dari kalimat ini:

مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para imam bahwa Allâh SWT telah menyebutkan di dalam Alquran orang-orang yang tulus,  taat (patuh), tunduk, yakin, ihlas,  berbuat baik, dan orang-orang yang takut kepada Allâh. Alquran juga menyebutkan  orang-orang yang selalu mengharap ridha Allâh,  ahli ibadah, orang-orang yang beri‘tikaf,  sabar,  ridha,  tawakal,  tawaddhu‘,  mencintai Allâh, dan bertaqwa. Mereka adalah orang-orang pilihan,  berbakti, dan  dekat dengan Allâh.

Tidak ada pula perbedaan pendapat bahwa mereka semua adalah umat Muhammad SAW. Jika mereka tidak ada di masa nabi Muhammad dan memang mustahil keberadaannya di semua masa, maka tentu Allâh tidak akan menyebutkannya di dalam Alquran dan Rasûlullah tidak akan menjelaskannya di dalam Hadis, (al-Luma‘ fî Târîkh al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 20).

وَمَوْضُوْعُ هٰذَا الْعِلْمِ: اَلذَّاتُ الْعَلِيَّةُ، لِأَنَّهُ يَبْحَثُ عَنْهَا بِاعْتِبَارِ مَعْرُوْفَتِهَا : ذَاتًا وَصِفَاتٍ وَأَسْمَاءٍ : تَعَلُّقًا وَتَـخَلُّقًا وَتَـحَقُّقًا. وَوَاضِعُهُ: اَلرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْيًا وَإِلْهَامًا. وَحَدُّهُ: صِدْقُ التَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ تَعَالٰى مِنْ حَيْثُ يَرْضَى، بِمَا يَرْضَى. وَاسْتِمْدَادُهُ: مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَإِلْهَامَاتِ الصَّالِـحِيْنَ، وَفُتُوْحَاتِ الْعَارِفِيْنَ. وَثَمْرَتُهُ: تَصْفِيَةُ الْبَوَاطِنِ بِالتَّخَلِّيَّةِ وَالتَّحَلِّيَّةِ لِتَتَهَيَّأَ لِوَارِدَاتِ الْأَنْوَارِ الْإِلٰهِيَّةِ وَالْفُتُوْحَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ.

Tema pembahasan tasawuf adalah dzat yang maha tinggi (Allâh), karena yang dibahas tentang ma’rifatullah baik dzat, sifat dan nama-nama-Nya dengan ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq-Nya. Peletak dasar tasawuf adalah Rasulullah SAW melalui wahyu dan ilham. Batas tasawuf adalah kebenaran dalam ber-tawajjuh (menghadap) kepada Allâh dari apa saja dan dengan apapun yang diridhai-Nya.

Landasan/dasar tasawuf adalah Alquran, Hadis, ilham para orang-orang shalih dan orang-orang yang ma’rifatullah (orang-orang yang terbuka hatinya). Buah tasawuf adalah membersihkan batin dengan takhalliyah (membersihkan batin dari sifat-sifat tercela) dan tahalliyah (membersihkan batin dengan sifat-sifat terpuji) agar siap untuk menerima nur ilâhiyah (cahaya ketuhanan), (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 60).

Baca juga:  Sabilus Salikin (87): Ajaran Tarekat Suhrawardiyah

Rukun Tasawuf

Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajîbah al-Hasanî menjelaskan beberapa rukun tasawuf berikut ini;

وَقَدْ قَالُوْا: اَرْكَانُ التَّصَوُّفِ مَجْمُوْعَةٌ فِيْ اَرْبَعَةِ الْاَشْيَاءِ، وَهِيَ: كَفُّ الْأَذَى، وَحَمْلُ الْجَفَا، وَشُهُوْدُ الصَّفَا، وَرَمْيُ الدُّنْيَا بِاالْقَفَا.

Rukun tasawuf ada empat;

  1. Kafful Adzâ, yakni Mencegah penganiayaan/kezhaliman,
  2. Hamlul Jafâ, yakni Sabar (menerima) ketidakramahan atau kebrutalan orang lain,
  3. Syuhudu al-Shafâ, yakni kejernihan hatinya tampak dalam perilakunya, dan
  4. Ramyud Dunyâ bil Qafâ, yakni Menghilangkan kecintaan dunia (zuhud), (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 13).

Lima Pokok/Dasar Tasawuf

نَقْضُ الْأُصُوْلِ وَالْأَرْكَانِ هُوَ: إِهْمَالُهَا وَالْعَمَلُ بِأَضَدَادِهَا. وَأُصُوْلُ التَّصَوُّفِ خَمْسَةٌ: تَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ. وَاِتْبَاعُ السُّنَّةِ فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ. وَالْإِعْرَضُ عَنِ الْـخَلْقِ فِي الْإِقْبَالِ وَالْإِدْبَارِ. وَالرِّضَى مِنَ اللهِ فِي الْقَلِيْلِ وَالْكَثِيْرِ. وَالرُّجُوْعُ إِلَى اللهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ.

  • Taqwa kepada Allâh di kala sepi dan dalam keramaian,
  • Mengikuti sunnah Nabi dalam segala ucapan dan perbuatan,
  • Tidak bergantung terhadap makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya,
  • Ridha dengan pemberian Allâh baik banyak maupun sedikit, dan
  • Semua permasalahan di kembalikan kepada Allâh baik dalam waktu gembiRA maupun susah, (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 354).
  • Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu Tasawuf

وَأَمَّا ثُبُوْتُ شَرَفِهِ بِاالنَّقْلِ، فَلَا شَكَّ أَنَّ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَإِجْمَاعَ الْأُمَّةِ وَرَدَتْ بِمَدْحِ جُزْئِيَّاتِهِ وَمَسَائِلِهِ، كَالتَّوْبَةِ، وَالتَّقْوَى، وَالْإِسْتِقَامَةِ، وَالصِّدْقِ، وَالْإِخْلَاصِ، وَالطُّمَأْنِيْنَةِ، وَالزُّهْدِ، وَالْوَرَعِ، وَالتَّوَكُّلِ، وَالرِّضَى، وَالتَّسْلِيْمِ، وَالْمَحَبَّةِ، وَالْمُرَاقَبَةِ، وَالْمُشَاهَدَةِ، وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ مَسَائِلِهِ.

Keutamaan dan kemuliaan ilmu tasawuf tidak diRagukan di dalam Alquran, Hadis dan Ijma’ ‘Ulama’ tentang  bagian-bagian dan berbagai permasalahannya, seperti taubat, taqwa, istiqamah, jujur, ikhlas, thuma‘ninah, zuhud, wara’, tawakkal, ridha, berserah diri, kecintaan kepada Allâh, muraqabah, musyahadah, dan lain sebagainya, (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 61).

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang mengetahui perilaku hati (yang baik atau yang tercela) dan cara membersihkan dari sifat-sifat tercela serta menghiasi diri dengan akhlak yang baik dan meninggalkan akhlak yang tercela. Sasaran tasawuf adalah perilaku hati dan panca indra, sedangkan buahnya adalah sucinya hati dan ma‘rifat, juga selamat di akhirat dan ridha Allâh serta kebahagiaan yang abadi.

Baca juga:  Kisah Tiga Sufi Besar yang Miskin

Sedangkan kemuliaannya adalah;

(وَفَضْلُهُ) أَنَّهُ أَشْرَفُ الْعُلُوْمِ لِتَعَلُّقِهِ بِمَعْرِفَةِ اللهِ تَعَالَى وَ حُبِّهِ وَهِيَ أَفْضَلُ عَلَى اْلإِطْلاَقِ (وَنِسْبَتُهُ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُوْمِ) أَنَّهُ أَصْلٌ لَهَا وَشَرْطٌ فِيْهَا إِذْ لَا عِلْمَ وَلاَ عَمَلَ إِلاَّ بِقَصْدِ التَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ فَنِسْبَتُهُ لَهَا كَالرُّوْحِ لِلْجَسَدِ.

Keutamaannya ilmu tasawuf sesungguhnya paling mulia karena berhubungan dengan ma‘rifat dan cinta kepada Allâh SWT, sementara hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu yang lainnya adalah menjadi pokok dan syarat atas keberadaan ilmu-ilmu yang lain, karena tidak ada ilmu dan amal kecuali bertujuan tawajjuh kepada Allâh SWT bisa disimpulkan bahwa hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu-ilmu yang lain seperti halnya ruh dengan jasad, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 406).

Hakikat Tasawuf

Tasawuf adalah sebuah ilmu untuk menggembleng batin yang bertujuan agar keadaan dan perilaku diri menjadi lebih baik, dan semakin dekat dengan Allâh sang Khaliq. Sehingga tidak salah jika tasawuf disebut sebagai ilmu batin, karena sasaran utamanya adalah sisi batin. Tasawuf adalah ilmu yang paling luhur dan agung, yang paling terang dalam menyinari batin.

وَاعْلَمْ أَنَّ التَّصَوُّفَ وَيُقَالُ لَهُ عِلْمُ الْبَاطِنِ. مِنْ أَجَلِّ الْعُلُوْمِ قَدْرًا وَأَعْظَمِهَا مَحَلاًّ وَفَخْرًا. وَأَسْنَاهَا شَمْسًا وَبَدْرًا . وَقَدْ فَضَّلَ اللهُ أَهْلَهُ عَلَى الْكَافَّةِ مِنْ عِبَادِهِ بَعْدَ رُسُلِهِ وَأَنْبِيَائِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ. وَجُعِلَ قُلُوْبُهُمْ مَعْدَنَ اْلأَسْرَارِ. وَاخْتَصَّهُمْ مِنْ بَيْنِ اْلأُمَّةِ بِطَوَالِعِ اْلأَنْوَارِ. فَهُمُ الْغِيَاثُ لِلْخَلْقِ. وَالدَّائِرُوْنَ فِيْ عُمُوْمِ أَحْوَالِهِمْ مَعَ الْحَقِّ.

Baca Juga
​Munajat Ulama Nusantara (3/Terakhir)

Sehingga para Mutashawwif atau Sufi (orang yang mempelajari dan berperilaku Tasawuf) adalah orang-orang yang diberikan keunggulan dari semua manusia setelah para Nabi dan Rasul. Dalam hati mereka terkuak rahasia-rahasia langit. Hati mereka penuh dengan cahaya Ilahi dan mereka menjadi penolong dan pelindung bagi umat yang membutuhkannya. Karena hati mereka selalu bersama Allâh al-Haq (Yang Maha Benar), maka setiap ucapan dan perbuatan mereka bersumber dari al-Haqq, sehingga selalu diarahkan pada kebenaran, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 404).

Baca juga:  Berzikir dan Berdoa bersama Al-Ghazali

قَدْ عَلِّمُوْا أَنَّ دَوَامَ السَّيْرِ قَطْعًا يُؤَدِّيْ إِلَى الْوُصُوْلِ.

Sudah diketahui bahwa sebuah perjalanan seseorang yang langgeng (ber-tasawuf) dapat mengantarkan pada wushûl (sampainya seorang sûfî kepada ma‘rifatullah), (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 72).

Wushûl kepada Allâh SWT yang dimaksud adalah ketika seorang Sûfî atau Sâlik (murid) sampai pada titik kesenangan, ketenangan, dan kerinduan kepada Allâh SWT yang besar dan jernihnya cinta kepada Allâh SWT hal ini lah yang kemudian seorang sufi atau salik mendapatkan predikat/gelar al-Shâdiq, as-Sâirin, dan al-Thâlibin. Ketiga gelar ini adalah derajad yang dekat dengan Allâh SWT, (Nasy’atu al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 265)

Oleh karena itu, ilmu untuk menggembleng dan membenahi sisi batin adalah sebuah ilmu yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dipilih oleh Allâh SWT

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ تَعَالَى وَحُكْمٌ مِنْ حِكَمِ اللهِ يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ . أَخْرَجَهُ الدَّيْلَمِيْ عَنْ عَلِي، (جامع الأصول فى الأولياء، ص: 324).

Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Ilmu batin adalah salah satu rahasia dari rahasia-rahasia Allâh SWT, dan salah satu hukum dari hukum-hukum Allâh SWT yang diletakkan dalam hati para hamba yang dikehendaki-Nya”. HR. ad-Dailami dari Ali, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 324).

Mati/Lenyapnya Ilmu Tasawuf

Tasawuf atau tarekat akan hilang sebab para ahlinya wafat, dengan demikian akan hilang pula pengetahuan atau ilmunya (haliyah, tradisi-tradisi dll).

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ اتِّـخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوْا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا.

Sesungguhnya Alah tidak akan mengambil suatu ilmu dari suatu kaum, akan tetapi Allâh akan mengambilnya dengan mewafatkan para ulama’ sehingga tidak ada seorangpun yang ‘alim, kemudian mereka menjadikan pemimpin-pemimpin yang bodoh, yang ketika ditanya, maka mereka menjawab (memberikan fatwa) dengan tanpa landasan keilmuan, yang sesat dan menyesatkan, (al-Futûhât al-Ilâhiyyah fî Syarhi al-Mabâhits al-Ashâliyyah, halaman: 15).

Lihat Komentar (0)

Komentari