Sedang Membaca
Sabilus Salikin (166): Wasiat-wasiat al-Haddad
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (166): Wasiat-wasiat al-Haddad

Dalam memantapkan keyakinan dan ketakwaan pengikut tarekat, al-Haddad memberikan wasiat kepada mereka untuk diamalkan. Di antara wasiat beliau sebagaimana yang tertulis di kitab ”al-Nashaih al-Diniyah” dan kitab-kitab yang lain adalah sebagai berikut:

  • Iman

Al-Haddad senantiasa berpesan agar selalu menguatkan keimanan dan memperbaikinya karena hal ini menjadi pokok yang utama. Jika keyakinan seorang menjadi teguh dalam hatinya yang gelap menjadi terang. Ia memberikan alasan dengan ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib.

Keyakinan itu dapat diperoleh dengat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an , Hadis dan atsar sahabat. Kemudian dengan melihat pada alam semesta yang menandakan kebesaran penciptanya. Ia membagi iman itu dalam tiga tingkatan :

  1. Derajat ashabul yamim, yaitu tingkat iman yang masih keragu-raguannya.
  2. Derajat muqarrabin, yaitu yang mempunyai iman yang kuat tidak bisa digoncangkan ke kanan dan ke kiri.
  3. Derajat nabiyyin, yaitu iman yang sudah mencapai tingkatan sempurna
  • Niat

Niat yaitu keinginan hati untuk menjalankan ibadah baik yang wajib atau yang sunnah dan keinginan akan sesuatu seketika itu atau waktu akan datang.

Arti Niat:

  1. Niat yaitu gambaran dari kesengajaan seseorang terhadap satu pekerjaan yang disertai pekerjaan dan ucapan.
  2. Niat yaitu yaitu gambaran melakukan sesuatu yang disertai dengan kesengajaan, (Risalah al-Muawanah wa al-Muzhaharah wa al-Muwazarah, halaman: 19).
  • Muraqabah

Yaitu merasa di awasi Tuhan, dan orang yang sedang melakukan suluk hendaknya selalu murâqabah dalam gerak dan diamnya, dalam segala perbuatan dan kehendak, dalam keadaan aman dan bahaya, di kala nampak maupun tersembunyi, selalu merasa dirinya berdampingan dengan Allah Swt. dan diawasi olehnya. Niscaya dia selalu memperhatikan segala amal ibadahnya.

Baca juga:  Baba Tahir, Sufi Penyambung Aspirasi Rakyat

Muqarrabah adalah keadaan seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah Swt. selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak gerik kita dan bahkan segala yang terlintas dalam hati di ketahiu Allah Swt, (Nashâih al-Dîniyyah wa al-Washâyâ al-îmâniyyah, halaman: 93).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Seorang tasawuf dalam kitab Risâlah al-Qusyairiyyah berkata: “Adapun harapan baik itu adalah menggerakkan kamu supaya berbuat amal saleh, khauf (takut) akan menjauhkan kamu dari maksiat.

Adapun muraqabah akan membawa kamu ke jalan yang benar. Wajib menghindari arogansi dan kekerasan”. Karena jihad adalah amal kebaikan yang Allah Swt. syariatkan dan menjadi sebab kokoh dari kemuliaan umat Islâm.

Jihat terbagi menjadi beberapa macam:

  1. Amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Memerangi orang kafir dengan harta, tenaga, dan ucapan.
  3. Memerangi nafsu sendiri, (Nashâih al-Dîniyyah wa al-Washâyâ al-îmâniyyah, halaman: 57-58).
  • Mengisi seluruh waktu dengan ibadah

Yaitu mengisi seluruh waktu dengan ibadah, bukan saja ibadah yang fardhu dan sunnah, melainkan sampai pada menentukan waktu makan dan minum, serta berjalan dan duduk tidak terlepas dari pada salah satu amal ibadah.  Ia memberikan contoh kehidupan Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang saleh yang menggunakan tiap detik untuk sujud zikir, dan beribadah kepada Allah Swt.

  • Amal perbuatan lainnya
Baca juga:  “Wali Kiriman” hingga Toleransi antar Iman

Yaitu memperbanyak membaca Alquran, banyak mempelajari ilmu pengetahuan, memperbanyak berfikir tentang kebesaran Allah Swt. dan kekurangan diri, menjauhkan diri dari segala bid’ah dan dari menuruti hawa nafsu, serta mempelajari cara-cara ibadah dengan sempurna.

Begitu juga kebersihan bathin selalu dijaga dengan membersihkan diri dari perangai-perangai yang tercela, seperti takabur, riya’, hasud, cinta dunia, kemudian berlaku dengan akhlak yang mulia seperti tawadhu’ (rendah hati), ikhlâs, dermawan, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Kewajiban Salik Tarekat Haddadiyyah

  1. Salik wajib melaksanakan taubat dari seluruh doa, meminta maaf, dan ridha kepada seseorang jika di aniaya terhadap makhluk (dhalim al-‘abd).
  2. Salik wajib menjaga hatinya dari gangguan hati, getaran hati yang jelek sehingga salik bisa muraqabah kepada Allah Swt. Salik harus menghilangkan kemaksiatan hati yang lebih jelek dari maksiat anggota tubuh lahir serta memperbaiki hati karena hati merupakan tempat makrifat dan muraqabah kepada Allah Swt.

 

  1. Salik harus menjaga anggota tubuh lahir dari semua jenis maksiat.
  2. Salik harus melanggengkan wudhu’, mengurangi makan, tidur, dan bicara.
  3. Seyogyanya salik menjahui manusia yang bisa menimbulkan kemaksiatan.
  4. Salik harus menjaga shalat 5 waktu dengan sungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan sempurna.

 

  1. Salik dilarang meninggalkan shalat jum’at dan shalat berjama’ah.
  2. Salik harus harus menggunakan semua keadaan (hal), waktu, dan tempat untuk selalu berzikir dengan hati dan lisan.
Baca juga:  Sabilus Salikin (153): Aurad Tarekat Syathariyah

 

  1. Salik harus melawan ajakan nafsu. Sesungguhnya awal tarekat adalah sabar dan diakhiri dengan syukur, awalnya adalah kesulitan,susah payah, dan diakhiri terbukanya hati, wushûl kepada Allah Swt. (ma’kifat).
  2. Hendaknya salik bersyukur dengan diberi cobaan faqir, kesulitan, dan kesusahan dalam penghidupan dunia karena Rasulullah saw. bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وْجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dunia merupakan merupakan penjara orang mu’min dan surga bagi orang-orang kafir.

  1. Salik harus bersifat sabar dan memaafkan.
  2. Salik harus menetapi sifat sabar, ikhlas dalam amal, dan khusnuzhan.
  3. Salik wajib mencintai syaikh (mursyid), (Risalah Adab Sulak al-Murad, halaman: 7-47).

Adab Salik terhadap Syaikh (Mursyid)

  1. Taat dan patuh kepada syaikh (mursyid).
  2. Mengikuti semua perbuatan dan ucapan syaikh kecuali sesuatu hal yang dikhususkan bagi syaikh.

 

  1. Salik tidak melawan syaikh baik lahir dan batin. Jika getaran jiwa (khâtir) salik sedang melakukan perlawanan maka salik harus bersungguh-sungguh menghilangkannya. Jika usaha salik tidak berhasil maka salik menceritakan hal tersebut kepada syaikh (mursyid).
  2. Tidak mengambil tarekat syaikh (mursyid) yang lain tanpa seizin syaikh (mursyid)nya (Risalah Adab Suluk al-Murid, halaman: 51-58).
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top