Sedang Membaca
Sabilus Salikin (124): Perjalanan Ruhani al-Syadzili
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Sabilus Salikin (124): Perjalanan Ruhani al-Syadzili

Redaksi

Pada suatu hari al-Syaikh berkata kepada al-Syadzili, “Wahai anakku, hendaknya Engkau senantiasa melanggengkan thaharah (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap Engkau berhadas, cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Setiap kali Engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu” (Qadhiyyah al-Tashawwûf al-Madrasah al-Shâdhiliyyah, halaman: 22-23).

Berkata Syaikh Ibn Masyîsyi kepada al-Syadzili, “Pertajam penglihatan imanmu, niscaya Engkau akan mendapatkan Allâh; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaan-Nya” (al-Tasawuf wa al-Hayat al-‘Ishriyyah, halaman: 170).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di lain waktu guru al-Syadzili, radhiyallahu ‘anh, itu mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : kecintaan demi untuk Allâh; ridha atas ketentuan Allâh; zuhud terhadap dunia; dan tawakkal atas Allâh.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni menegakkan fardhu-fardhu Allâh; menjauhi larangan-larangan Allâh; bersabar terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan wara‘ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Al-Syaikh juga pernah berpesan kepada al-Syadzili, “Wahai anakku, janganlah Engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allâh, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhaan Allâh, dan jangan pula Engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allâh. Janganlah Engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu Engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih shahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allâh”.

Baca juga:  Sabilus Salikin (88): Khalwat Tarekat Suhrawardiyah

Al-Syaikh ‘Abd. al-Salam sendiri adalah merupakan pribadi yang amat berpegang teguh kepada Kitab Allâh dan al-Sunnah. Walaupun pada kenyataannya Syaikh Abu al-Hasan adalah muridnya, namun Syaikh ‘Abd. al-Salam juga amat mengagumi akan ilmu yang dimiliki oleh sang murid, terutama tentang Kitabullah dan Sunnah, di samping derajat keshalihan dan kewaliannya, serta kekeramatan Syaikh Abu al-Hasan (Qadhiyyah al-Tashawwûf al-Madrasah al-Shâdhiliyyah, halaman: 200).

Tetapi, dari semua yang al-Syadzili terima dari al-Syaikh, hal yang terpenting dan paling bersejarah dalam kehidupan al-Syadzili di kemudian hari ialah diterimanya ijazah dan bai‘at sebuah tarekat dari al-Syaikh ‘Abd al-Salam yang rantai silsilah tarekat tersebut sambung-menyambung tiada putus sampai akhirnya berujung kepada Allâh Swt. Silsilah tarekat ini urut-urutannya adalah sebagai berikut :

Al-Syaikh al-Imâm Abu al-Hasan ‘Alî al-Syadzili menerima bai‘at tarekat dari:

  1. Al-Syaikh al-Quthub al-Syarîf Abu Muhammad ‘Abd al-Salam bin Masyîsyi, beliau menerima talqin dan bai‘at dari
  2. Al-Quthub al-Syarîf ‘Abdurrahman al-Aththar al-Zayyat al-Hasani al-Madani, dari
  3. Quthb al-Auliyâ’ Taqiyyuddîn al-Fuqayr al-Shufî, dari
  4. Sayyid Syaikh al-Quthub Fakhruddîn, dari
  5. Sayyid Syaikh al-Quthub Nûruddîn Abî al-Hasan ‘Alî, dari
  6. Sayyid Syaikh Muhammad Tâjuddîn, dari
  7. Sayyid Syaikh al-Quthub Zainuddîn al-Qazwinî, dari
  8. Sayyid Syaikh al-Quthub Abî Ishaq Ibrahîm al-Bashri, dari
  9. Sayyid Syaikh al-Quthub Abî Qâsim Ahmad al-Marwani, dari
  10. Sayyid Syaikh Sa‘ad, dari
  11. Sayyid Syaikh al-Quthub Abî Muhammad Fath al-Su‘udi, dari
  12. Sayyid Syaikh al-Quthub Muhammad Said al-Ghazwanî, dari
  13. Sayyid Syaikh al-Quthub Abî Muhammad Jabir, dari
  14. Sayyidinâ Syarîf al-Hasan bin ‘Alî, dari
  15. Sayyidinâ ‘Alî bin Abî Thâlib, karramAllâhu wajhah, dari
  16. Sayyidinâ wa Habîbina wa Syafî‘inâ wa Maulanâ Muhammadin, Shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam, dari
  17. Sayyidinâ Jibril, ‘alaihi al-Salam, dari
  18. Rabb al-‘Izzati rabb al-‘Âlamîn, (Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, halaman 78-79).
Baca juga:  Sabilus Salikin (26): Akhlak Mulia (Husnul Khuluq)

Setelah menerima ajaran dan bai‘at tarekat ini, dari hari ke hari al-Syadzili merasakan semakin terbuka mata hatinya. Al-Syadzili banyak menemukan rahasia-rahasia ilâhiyah yang selama ini belum pernah dialaminya. Sejak saat itu pula al-Syadzili semakin merasakan dirinya kian dalam menyelam ke dasar samudera hakikat dan ma‘rifatullah, (Qadhiyyah al-Tasawuf al-Madrasah al-Syadziliyyah, halaman: 26. Lihat juga al-Mafâkhir al-Âliyah fî al-Ma’âtsir al-Syadziliyyah, halaman: 14).

Hal ini, selain berkat dari keagungan ajaran tarekat itu sendiri, juga tentunya karena kemuliaan barakah yang terpancar dari ketaqwaan sang guru, al-Syaikh ‘Abd al-Salam bin Masyîsyi Ra. (w. 625 H./1228 M).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tarekat ini pula, di kemudian hari, yaitu pada waktu al-Syadzili bermukim di negeri Tunisia dan Mesir, ia kembangkan dan sebar-luaskan ke seluruh penjuru dunia melalui murid-muridnya. Oleh karena al-Syadzili adalah orang yang pertama kali mendakwahkan dan mengembangkan ajaran tarekat ini secara luas kepada masyarakat umum, sehingga akhirnya masyhur dimana-mana.

Maka al-Syadzili pun kemudian dianggap sebagai pendiri tarekat ini yang pada akhirnya menisbatkan nama tarekat ini dengan nama besarnya, dengan sebutan “Tarekat Syadziliyyah” (Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islâm: Manifestasi, halaman: 61-63. Lihat juga Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, halaman: 65-72).

Banyak para ulama dan pembesar-pembesar agama di seluruh dunia, dari saat itu sampai sekarang, yang mengambil berkah dari mengamalkan tarekat ini. Sebuah tarekat yang amat sederhana, tidak terlalu membebani bagi khalifah dan para guru mursyidnya serta para pengamalnya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top