Sedang Membaca
Pendidikan Agama Ditantang untuk Kreatif dan Inovatif
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendidikan Agama Ditantang untuk Kreatif dan Inovatif

Redaksi

Semua urusan hidup kita sudah ada di ponsel. Terkait agama, kesehatan, ekonomi, politik dan lain sebagainya saat ada di tangan kita semua. Ini zaman telah berubah, semuanya, nyaris tak terkecuali telah berubah drastis. Revolusi teknologi informasi telah kita hadapi.

Demikian dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, saat membuka sidang Annual International Conference on Islamic Stuides (AICIS) 2019, di Hotel Mercure Batavia, Jakarta (1/10).

Menteri yang sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia mencontohkan perubahan sikap umat Islam pada kitab suci. “Alquran dulu tidak boleh dibawa ke toilet, sekarang masuk toilet karena Alquran ada diponsel yang dibawa ke mana-mana, termasuk ke toilet.”

Di tengah perubahan zaman yang cepat, lanjut Rudiantara, pendidikan Islam dipaksa masuk ke dalam paradigma baru. “Pengajaran saat ini tentu saja tak bisa textbook lagi. Generasi saat ini harus didorong kreatif dan selalu bertanya mengapa harus begini dan mengapa tidak begitu,” lanjutnya dalam sambutan tanpa teks dan disampaikan dalam bahasa Ingris.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin dalam sambutannya mengatakan bahwa konferensi ini diarahkan agar sarjana dan akademisi Islam dapat berkontribusi memecahkan masalah dunia yang berubah drastis karena terjadi digitalisasi di semua aspek kehidupan.

Baca juga:  Ketika "Ya Allah" Berubah Menjadi "Yawla"

“Pendidikan Islam adalah ekosistem besar,” kata Kamaruddin. Dia menyampaikan data bahwa saat ini terdapat hampir seribu perguruan tinggi Islam, 72 ribu pendidikan dasar-menengah, 30 ribu pesantren, dan 7 juta madrasah takmiliyah. Dari lembaga itu terdapat 10 juta siswa, 4 juta santri, 1 juta guru, 32 ribu dosen, 500 profesor, dan 6000 doktor.

“Total stakeholder pendidikan Islam berjumlah 28 juta,” ungkapnya.

Kamaruddin mengharap sumberdaya yang besar dalam ekosistem pendidikan Islam ini dikelola dengan baik dan diarahkan untuk berkontribusi positif di dunia yang sedang berubah ini.

Baca Juga

Konferensi tahunan ini mengambil tema “Digital Islam, Education and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam”. Pertemuan ini membahas 450 paper dari 1300 yang diseleksi.

Keynote speaker dalam konferensi ini, selain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, ada Peter Mandeville (George Mason University, Virginia USA), Garry R. Bunt (University of Wales), dan Abdul Majid Hakemollahi (ICAS London).

Tema-tema yang dibahas antara lain Religion and Philosophy in the Post-truth Age, Response to the Era of Disruption, Making and Consuming Islam Online: The Reconfiguration of a Discursive Tradition? dan Islam in the Digital Age Islamic Philoshopy for Millennials. (aa)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top