Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Iluminasi Naskah Nusantara bersama Perpusnas dan Manassa

Setiap satu bulan sekali, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) mengadakan acara diskusi manuskrip Nusantara.

Seri Diskusi Naskah edisi ke-15 kali ini diisi oleh Ibu Dr. Mu’jizah, pakar filologi Melayu dan iluminasi, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Tema yang diangkat dalam diskusi yang diselenggarakan pada Kamis, 4 Juli 2019 itu ialah iluminasi dalam naskah-naskah Nusantara.

Iluminasi adalah istilah teknis dalam ilmu pernaskahan yang mengacu pada naskah bergambar sebagai hiasan. Istilah ini awalnya digunakan dalam penyepuhan emas pada beberapa halaman naskah untuk memperoleh keindahan.

“Kumar dan Jhon McGlynn dalam illuminations the writing traditions of Indonesia mengatakan bahwa iluminasi merupakan revolusi transformasi yang sangat tinggi untuk peradaban Indonesia,” ucap Bu Mu’jizah memperlihatkan slide berisi naskah Bustanussalathin.

Emas yang digunakan iluminasi biasanya dibentuk menjadi lempengan emas atau taburan yang memiliki nilai sosial yang tinggi. Sebab naskah pada waktu itu bisa dijadikan hadiah diplomasi antarpejabat di kalangan atas.

Iluminasi ada yang mengatakan, seperti Annabel Teh Gallop, sebagai golden letters, harganya tinggi.

Iluminasi banyak ditemukan di manuskrip Nusantara, termasuk di dalam naskah-naskah Melayu. Koleksi naskah Melayu (prosa dan syair) di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia saja ada 45 naskah beriluminasi (Mu’jizah 1992).

Baca juga:  Tema-tema "Bahtsul Masail" Munas Alim Ulama di Banjar

Pengalaman Bu Mu’jizah keliling luar negeri seperti London dan Belanda, ia menemukan iluminasi naskah-naskah Nusantara yang ada di sana sangat luar biasa. Bukan berarti yang di Indonesia tidak ada hanya saja tidak terdokumentasikan dengan baik.

“Sedangkan ilustrasi adalah gambar-gambar yang biasanya ada di luar halaman muka. Ia berhubungan dengan teks, ” tambahnya.

Ilustrasi di naskah-naskah Nusantara yang sifatnya sains, keilmuan, masih banyak yang belum digali. Padahal sangat berkaitan dengan farmasi, keagamaan, astronomi.

Sedangkan yang dimaksud rubrikasi adalah tinta merah yang dipakai untuk mengkhususkan bagian-bagian penting dalam naskah. Tetapi dalam tradisi naskah Indonesia bukan hanya tinta merah, tapi dengan gambar yang sangat luar biasa sekali indahnya.

“Seperti yang kemarin saya diajak oleh Munawar Holil (Ketua Umum Manassa) melihat hasil penelitian Skriptorium Pakualaman yang dikerjakan oleh Ibu Ratna Sakti Mulya, saya sangat merinding melihat keindahannya, itu bisa menjadi penelitian tersendiri tentang rubrikasi dalam naskah Jawa misalnya.”

Berkat iluminasi, naskah-naskah kuno Nusantara bukan sekadar tulisan yang berisi hikayat, babad, fabel, atau piwulang belaka. Penulis atau penyalin manuskrip ini bisa dibilang paham betul dengan daya tarik gambar dan warna pada naskah yang mereka buat. Sehingga, naskah-naskah tersebut menjadi mahakarya sastra dan seni.

Baca juga:  Debat Islam Nusantara: dari Perspektif Filosofis, Historis, dan Kritis

Iluminasi-iluminasi yang tertera pada lembaran-lembaran naskah maupun surat-surat tersebut bukan hiasan dan warna yang sedap dipandang semata, melainkan memiliki makna tersendiri. Bahkan, bisa menjadi ciri khas penulis dan daerah terciptanya naskah. Misal, gambar bunga dalam surat Sultan Iskandar Muda atau liukan bingkainya.

Di acara tersebut hadir pula Dr. Muhammad Zain, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Kementerian Agama RI. Ia menyampaikan bahwa pada 2018 mengirim Dr. Alfan bersama 13 peneliti Kementerian Agama RI ke beberapa negara untuk mengungkap manuskrip diaspora.

“Seperti cerita di Persia dielaborasi sedemikian rupa menjadi khas Nusantara. Umpamanya Syaikh Fariduddin al-Atthar menulis Manthiqut Thair, musyawarah burung, itu di Nusantara menjadi Syair Burung Berjawab yang diteliti oleh Edwin Wieringa, dan sebagainya,” tutur Muhammad Zain.

Para peserta diskusi yang tampak bahagia karena materi tidak hanya hal-hal serius tapi juga kelakar. Filolog Jawa, Karsono H Saputra juga hadir menyampaikan beberapa hasil penelitiannya. Peserta yang dibatasi 35 kuota membeludak hingga 60 orang.

“Saya senang sekali banyak anak muda yang hadir di sini, saya pikir kalianlah yang harus meneruskan bagaimana memperlakukan kekayaan budaya kita yang menjadi warisan nenek moyang.

Ini adalah bukti kecerdasan dan peradaban yang tinggi masyarakat Indonesia. Kita harapkan kalian bisa meneliti naskah-naskah atau iluminasi Nusantara. Banyak sekali yang bisa digali,” tutur Bu Mu’jizah kepada para pemuda pencinta manuskrip yang hadir di acara tersebut. (Atunk)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top