Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Akbar Tanjung Sowan Gus Dur

Suatu ketika di rumah Gus Dur ada beberapa tokoh yang sedang silaturrahim Idul Fitri. Mereka adalah Pak Akbar Tanjung, Pak Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan K H. Manarul Hidayat. Selesai sungkem saya ikut gabung dan mengobrol ngalor ngidul. Entah bagaimana obrolan sampai pada masalah perbedaan pendapat yang selalu muncul di kalangan ummat Islam jika bulan Ramadhan dan Syawal datang. Pasti ada kabar kelompok A mengawali puasa tanggal X sedang kelompok B tanggal Y. Pak Purnomo, yang Katholik tetapi sangat paham dengan tradisi Islam, bertanya kepada Al Maghfurlah:

“Apa gak bisa di cari solusi supaya sama harinya ya Gus?”

“Ya Gus, masa tiap bulan Ramadhan kok pasti ada perselisihan pendapat soal awal puasa dan awal lebaran” Kata Pak Akbar menimpali.

“Ya biar saja pak, wong memang kedua-dua pendapat (antara rukyah dan hisab) itu punya dalil sendiri-sendiri. Lha malah ada yang tidak menggunakan dua-duanya lalu mengawali puasa sendiri dan kelompoknya. Seperti kelompok yang di Sulsel itu.” Kata Gus Dur, enteng.

“Tapi kan membuat kita ini seolah-olah tidak punya pegangan, Gus. Masak sih tidak bisa ditentukan bersama-sama.” Pak Akbar keukeuh.

“Yang penting tidak menjadi alat memaksakan kehendak saja pak, kalau mau mencari persamaan kayaknya susuah. Toh kadang-kadang juga sering bareng-bareng.” Kata Kyai Manarul.

Baca juga:  Gus Dur, Gus Baha, dan Maksiat

“Nah belum lagi, itu Gus, soal sholat Taraweh yang beda berapa rakaatnya. Ada yang sebelas ada yang duapuluh tiga rekaat. Itu yang benar yang mana, Gus?” Tanya Pak Akbar, dan sambil melihat saya menanya: “Gimana Pak Hikam, menurut anda?”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Pak, kalau saya sigh gak repot-repot kalau soal beda rekaat sholat Taraweh itu.” Kata saya sambil tertawa

“Kenapa Pak Hikam?” Pak Purnomo bertanya

“Lha wong tidak sholat taraweh juga gak berdosa kok Pak, itu kan sholat sunnah, kenapa ribut mana yang paling bener hanya soal bilangan raka’at saja?” Kata saya menjelaskan.

Gus Dur dan Kiai Manarul tertawa terbahak-bahak. “bener, Kang, bener.” Kata Gus Dur dan Kyai Manarul berbareng. Pak Akbar dan Pak Pur akhirnya ikut tertawa juga.

“Kalau menurut saya, Pak Akbar, yang sebelas rakaat itu dapat diskon 60%” Kata Gus Dur

“Lho. kok?” Pak Pur dan Pak Akbar sudah mulai senyum-senyum

“Lha iya kan, kalau yang taraweh dua puluh tiga itu dipotong 60% kan tinggal sebelas rakaat, hehehe.” GD tertawa.

“Bener. Bener. bisa saja Gus.” Kata Pak Pur sambil tertawa.

Dan obrolan pun berjalan sampai jam 14.00 ketika saya dan isteri pamit. Itulah kenangan sungkeman 2008 yang saya miliki, walaupun saya datangnya sangat terlambat tidak seperti biasanya.

Baca juga:  Tujuh Buku Gus Dur yang Harus Anda Baca

Di manapun dan dalam kondisi apapun, Gus Dur selalu menjadi tumpuan pertanyaan baik dari khalayak ramai maupun dari kalangan elit. Bahkan mereka yang non Muslim tetapi punya perhatian kepada ummat Islam, seperti pak Purnomo (yang sekarang Menhan itu) pun bertanya kepada Gus Dur tentang masalah keislaman. Mungkin saja Pak Pur merasa tidak canggung karena beliau tahu Gus Dur selalu terbuka terhadap pertanyaan siapapun.

Dan Gus Dur pun selalu menjawab pertanyaan dengan pendekatan yang manusiawi dan sebisa-bisa dengan cara yang ringan dan humor. Soal perbedaan awal ramadhan dan 1 Syawal yang bagi banyak orang dianggap sangat pelik, dalam pandangan beliau dianggap sebagai salah satu kekayaan Islam yang tak perlu dipersengketakan. Jika masyarakat telah menjadi dewasa, maka mereka akan memilih sendiri mana yang paling tepat. Hukum Islam selalu adaptif terhadap perkembangan zaman dan memberi pintu bagi berbagai perbedaan. Tinggal bagaimana pemimpin ummat dapat menyikapi perbedaan pendapat secara produktif dan win-win. (RM)

(Sumber: Buku Gus Durku Gus Dur Anda Gus Dur Kita, Penulis Muhammad AS Hikam, Penerbit Yrama Widya, 2013)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top